Artikel

PENINGKATAN MUTU BETON PADA PERBAIKAN GRADASI

Seiring dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat terhadap fasilitas inftrastruktur yang semakin berkembang, kebutuhan bidang konstruksi terus menerus mengalami peningkatan. Salah satu jenis struktur yang paling banyak digunakan dalam konstruksi bangunan adalah struktur beton, yakni beton bertulang maupun beton komposit. Penggunaan beton ini didasari karena memiliki beberapa keunggulan antara lain dapat dibentuk sesuai dengan keinginan, bahan bakunya mudah didapatkan, mempunyai kuat tekan yang tinggi, tahan aus, rapat air, mudah dibentuk dan tidak memerlukan perawatan menerus setelah beton mengeras (Fasdarsyah & Fahrosa, 2018)

Secara umum beton adalah hasil campuran dari air, agregat kasar, agregat halus dan semen portland sebagai bahan pengikat, dengan atau tanpa bahan tambahan yang membentuk masa padat (SNI 03-2847-2002).  Penggunaan beton ini biasanya digunakan pada bangunan struktur seperti sturktur jembatan, bangunan gedung bertingkat tinggi, jalan dan sebagainya. Dimana pada penggunaannya diperlukan beton mutu tinggi untuk memenuhi kebutuhan bangunan bertingkat tinggi dan jembatan berbentang panjang.

Beton mutu tinggi adalah beton yang memiliki kuat tekan yang lebih besar dari 41,4 Mpa (SNI 03–6468–2000). Beton mutu tinggi memiliki keunggulan dibandingkan dengan beton normal antara lain kekuatan tekannya yang tinggi sehingga dimensi dari elemen struktur dapat menjadi lebih ramping (Sumajouw, Dapas, & Windah, 2014)

Untuk mendapatkan beton bermutu tinggi, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan. Beberpa faktor yang mempengaruhi mutu beton yaitu faktor air semen, jenis dan jumlah semen, serta kekuatan agregat (Damayanti & Rochman, 2006).

Agregat merupakan komponen utama dalam beton. Setiap bahan pembentuk beton memiliki sifat tertentu yang bisa mempengaruhi kualitas, salah satunya adalah agregat kasar. Susunan butir agregat memberikan pengaruh terhadap mutu beton, apabila gradasi agregat beragam, mulai dari ukuran terkecil sampai pada ukuran maksimum, maka ukuran pori menjadi lebih kecil. Hal ini terjadi karena ukuran gradasi terkecil mengisi pori-pori pada beton (Hardagung, Sambowo, & Gunawan, 2014).

Peningkatan porositas dapat menghasilkan beton yang bermutu tinggi. Kehalusan butir semen dan gradasi agregat memberikan pengaruh terhadap sifat porositas beton (Setiawati, 2018). Penggunaan fly ash pada campuran beton bertujuan untuk meningkatkan porositas dan mengurangi penggunaan semen sebagai material penyusun beton mutu tinggi.

Faktor lain yang dapat berpengaruh terhadap mutu beton adalah faktor air semen. Faktor air semen merupakan perbandingan antara air dan semen pada campuran beton. Beton dengan faktor air semen yang tinggi akan mengahasilkan beton dengan workability yang tinggi tetapi kualitas beton menurun. Beton yang memiliki faktor air semen yang rendah akan menghasilkan beton yang lebih kuat jika dibandingkan dengan beton yang memiliki faktor air semen yang tinggi. Namun, beton yang memiliki faktor air semen yang rendah akan menghasilkan campuran beton dengan workability (kemudahan pengerjaan) yang rendah (Putra, 2017). Untuk mempermudah dalam pengerjaannya, maka diperlukan penambahan superplasticizer.

Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk meninjau  pengaruh bahan tambah dan perbaikan gradasi untuk meningkatkan mutu beton. Zuraidah dan Wiratno, (2007) meneliti tentang penggunaan gradasi butiran batu pecah terhadap kekuatan beton. Hasil uji kuat tekan hancur beton didapat campuran beton dengan menggunakan batu pecah 5-10 mm memiliki kuat tekan 322,5 kg/cm2, pada batu pecah 10-20 mm kuat tekannya sebesar 334 kg/cm2, pada batu pecah 20-30 mm kuat tekannya 368 kg/cm2  dan kuat tekan pada batu pecah gabungan sebesar 390,5 kg/cm2. Damayanti dan Rochman, (2006) meneliti tentang penambahan microsilica dan fly ash dalam campuran beton. Penelitian ini menghasilkan kuat tekan beton maksimum pada umur 28 hari sebesar 69,736 MPa dengan perbandingan kadar microsilica 10% dan fly ash 0%, dengan menggunakan fas 0,3. Haji Syah P, (2018) meneliti tentang penggunaan abu batu pada beton Self Compacting Concrete (SCC). Kuat tekan tertinggi didapatkan dari penambahan abu batu sebesar 10%, kemudian menurun sampai kadar 25%.

Peningkatan mutu beton dapat dilakukan melalui perbaikan gradasi dengan menggunakan variasi ukuran agregat kasar 0,5–1 cm, agregat kasar 1–2 cm, dan agregat kasar 2–3 cm, dengan menggunakan abu batu, agregat halus, fly ash, serta bahan tambah berupa zat aditif (Consol N10 LC).

 

DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, I., & Rochman, A. (2006). Tinjauan Penambahan Microsilica Dan Fly Ash Terhadap Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi.

Fasdarsyah, F., & Fahrosa, S. J. B. (2018). Pengaruh Variasi Abu Batu Terhadap Flowability Dan Kuat Tekan Self Compacting Concrete. Teras Jurnal, 7(2), 292–300.

Haji Syah P, T. (2018). Pengaruh Penambahan Abu Batu Pada Beton Self Compacting Concrete (Scc) Berbahan Dasar Tambahan Abu Terbang Terhadap Kuat Tekan Dan Porositas Beton. Rekayasa Teknik Sipil, 1(1/Rekat/18).

Hardagung, H. T., Sambowo, K. A., & Gunawan, P. (2014). Kajian Nilai Slump, Kuat Tekan Dan Modulus Elastisitas Betondengan Bahan Tambahan Filler Abu Batu Paras. Matriks Teknik Sipil, 2(2), 131–137.

Nasional, B. S. (2000). Standar Nasional Indonesia (Sni) 03–6468–2000. Tata Cara Perencanaan Campuran Tinggi Dengan Semen Portland Dengan Abu Terbang.

Nasional, B. S. (2002). Sni 03-2847-2002: Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung. Bandung: Badan Standarisasi Nasional.

Putra, A. L. A. (2017). Penggunaan Steel Slag Sebagai Agregat Beton Mutu Tinggi.

Setiawati, M. (2018). Fly Ash Sebagai Bahan Pengganti Semen Pada Beton. Prosiding Semnastek.

Sumajouw, M. D. J., Dapas, S. O., & Windah, R. S. (2014). Pengujian Kuat Tekan Beton Mutu Tinggi. Jurnal Ilmiah Media Engineering, 4(4).

Zuraidah, S., & Wiratno, H. (2007). Pengaruh Gradasi Butiran Batu Pecah Terhadap Kekuatan Beton. Surabaya: Jurnal.

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close