Artikel

NANOTEKNOLOGI, TEKNOLOGI MASA DEPAN UNTUK INDONESIA

(Sumber : Robert Hammers)

Nanoteknologi adalah teknologi untuk memanipulasi materi pada skala atom, molekuler dan supermolekuler. Nanoteknologi saat ini merujuk pada teknologi yang bertujuan untuk memanipulasi atom dan molekul untuk memproduksi produk berskala besar atau makro. Suatu bahan dikatakan memiliki kemampuan nanoteknologi apabila ukurannya dibawah 100 nanometer, dimana nanometer merupakan sepersejuta meter atau sepuluh kali diameter atom hidrogen. Rambut manusia rata rata berukuran 80.000 nanometer pada ukuran tersebut aturan fisik dan kimia biasa tidak berlaku. Misalnya, warna, kekuatan, konduktivitas, reaktivitasnya dan lain lain yang dapat berbeda secara substansial antara skala nano dan makro (Drexler,1986).

Para ilmuwan saat ini memperdebatkan mengenai keefektifan dari nanoteknologi ini untuk masa depan. Menurut beberapa argument, Nanoteknologi dianggap memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi konsumsi energi, material baru yang lebih sempurna dan perangkat baru dengan beragam aplikasi seperti dalam bidang nano-elektronika, medis, biomaterial dan meningkatkan produksi manufaktur secara besar dengan biaya yang lebih sedikit, produk nanoteknologi juga akan lebih kecil, lebih murah dan ringan namun lebih funsional dengan sedikit energi. Namun diisamping dampak positif yang ditimbulkan, di lain sisi terdapat dampak negatif yang ditimbulkan utamanya dari sisi dampak lingkungan yang ditimbulkan dari bahan nano yang memerlukan pengkajian secara lebih mendalam. Penerapan nanoteknologi yang sering kita jumpai dalam penggunaan modern adalah pembuatan polimer berdasarkan struktur molekul dan desain chip atau perosesor komputer. Penggunaan lain dari nanoteknologi yang lebih sederhana adalah lotion berjemur, kosmetik, dan pakaian anti noda dan masih banyak lagi.

Menurut Draxler (1992) dua pendekatan utama digunakan dalam nanoteknologi. Dalam pendekatan “bottom-up“, mencakup semua metode pembuatan nanopartikel melalui atom dan molekul yang berkumpul dan membesar (aglomerasi). Kuncinya adalah menghentikan proses pembesaran/aglomerasi sehingga ukuran partikel hanya sampai dalam skala nanometer. Jika menggunakan proses reaksi kimia, zat kimia yang bereaksi akan bernukleasi dan atom-atom terus berkumpul di titik nukleasi tersebut dan beraglomerasi (koloid). Bahan-bahan lain dapat digunakan untuk memastikan proses aglomerasi ini tidak berjalan terus menerus. Dalam pendekatan “top-down“, proses yang membentuk nanopartikel dari partikel atau benda-benda lebih besar dan dalam bentuk zat padat. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan laser atau litografi untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan. Keuntungan metode ini adalah kemampuan laser yang dapat membentuk permukaan nanopartikel dengan sangat presisi dan jelas (Buzea Dkk, 2007).

Sejak tahun 2000an, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sudah mengembangkan nanoteknologi namun hasil pengembangan itu belum mampu dimasukkan dalam ranah perniagaan atau komersil. Walau telah lama dikembangkan, namun perkembangan dari teknologi nano di Indonesia masih menuai banyak hambatan. Hal yang paling yang merupakan faktor dalam menghambat perkembangan teknologi nano di Indonesia ialah tidakadanya alat pengukuran (metrologi) nanomaterial. Kepala Pusat Inovasi LIPI, Bambang Subiyanto, menyatakan bahwa setidaknya sudah 13 tahun pengembangan nanoteknologi di Indonesia berjalan dan tahapan yang dituju selanjutnya adalah melakukan komersialisasi produk nanomaterial yang berbasis kegiatan riset. Pemerintah diharapkan dapat mendorong proses produksi, sehingga tidak hanya berhenti pada penelitian saja, tapi juga pada proses produksi yang pada akhirnya membuahkan kemandirian bagi Indonesia. Hal ini sebagai bentuk mengejar ketertinggalan dalam hal teknologi nano. Sehingga Indonesia setidaknya dapat bercermin dan menyerupai negara-negara maju penguasa teknologi nano dunia seperti halnya di negara China, Jeapng, dan Amerika Serikat.

 

REFERENSI

Drexler, K. Eric (1986). Engines of Creation: The Coming Era of Nanotechnology. Doubleday. ISBN 978-0-385-19973-5.

Drexler, K. Eric (1992). Nanosystems: Molecular Machinery, Manufacturing, and Computation. New York: John Wiley & Sons. ISBN 978-0-471-57547-4.

Buzea, C.; Pacheco, I. I.; Robbie, K. (2007). Nanomaterials and nanoparticles: Sources and toxicity. Biointerphases. 2 (4): MR17–MR71. ArXiv:0801.3280. Doi:10.1116/1.2815690. PMID 20419892

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close