Artikel

METODE MUSIKALISASI PUISI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENGAMEN

https://bandung.merdeka.com/gaya-hidup/ferry-curtis-dari-ngamen-hingga-konser-musik-balada

Sebagian besar anak putus sekolah yang hidup di jalanan mengambil langkah menjadi seorang pengamen atau penyanyi jalanan. Pengamen adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan cara bernyanyi atau memainkan alat musik di muka umum dengan tujuan menarik perhatian orang lain dengan mendapatkan imbalan uang atas apa yang mereka lakukan. Pengamen bisa ditemukan di pinggir jalan raya, tempat makan, terminal atau ruang publik lainnya.

Bermodalkan suara dan alat seadanya mereka berkeliling pada sudut-sudut kota untuk berharap diberi upah sekaligus menyalurkan hobi bernyanyinya. Namun, tidak banyak masyarakat yang merasa ibah terhadapnya, pengamen sering dikucilkan dan tidak dianggap keberadaannya. Pengamen sering dinilai sebagai sesuatu yang membuat merasa tidak nyaman. Bahkan pengamen diidentikkan pula dengan kegiatan orang-orang yang malas bekerja dan juga lekat dengan perilaku yang dinilai masyarakat menyimpang (Kartono, 2018). Masa ke masa masyarakat menilai penampilan bernyanyi seorang atau sekelompok pengamen telihat monoton, sehingga memberi kesan membosankan. Apalagi penampilan dan kualitas suara pengamen tersebut tidak mencuri perhatian.

Pengamen sering dinilai sebagai sesuatu yang membuat merasa tidak nyaman. Bahkan pengamen diidentikkan pula dengan kegiatan orang-orang yang malas bekerja, dan juga lekat dengan perilaku yang dinilai masyarakat menyimpang. Pandangan negatif masyarakat mengenai pengamen tersebut, secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap pandangan pengamen sendiri atas dirinya dimata lingkungannya.

Maka dari hal tersebut perlunya peningkatan kualitas kesenian bagi para pengamen, yang mampu mencuri perhatian masyarakat. Seperti diberikan pemahaman terhadap karya sastra. Sumardjo dan Saini mengatakan bahwa sastra adalah ungkapan pribadi manusia yang berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, ide, semangat, keyakinan dalam suatu bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat bahasa (Djakob Sumardjo dan Saini, 1991). Sehingga karya sastra merupakan suatu tiruan alam, mimesis, tetapi juga merupakan suatu produk imajinasi dan produk kreativitas (Semi, 1990).

Karya sastra terbagi atas tiga gendre yakni novel, cerpen dan puisi. Salah satu karya sastra yang menarik untuk diperkenalkan untuk pengamen yakni puisi. Altenbernd mengatakan  bahwa puisi adalah pendramaan pengalaman yang bersifat penafsiran (menafsirkan) dalam bahasa berirama (bermetrum) (Pradopo, 2007).

Olehnya itu, menjadi menarik jika pengamen paham teknis membuat karya sastra puisi, kemudian syair-syair puisi yang berisikan segala ekspresi hatinya yang ingin ia ceritakan kepada masyarakat. Lalu puisinya tersebut diaplikasikan dalam bentuk penampilan musikalisasi puisi. Ari (2008) mengemukakan bahwa musikalisasi puisi dapat didefiniskan sebagai sarana mengkomunikasikan puisi kepada apresian, melalui persembahan musik (nada, irama, lagu, atau nyanyian).

Hal  yang  penting  dalam  musikalisasi  puisi  adalah  kepekaan  rasa  sehingga  dapat menyesuaikan  karakter  musik  yang  dipilih  sebagai  lirik  lagunya  sehingga  suasana  dan  pesan  yang  terkandung  dalam  puisi  dapat  dengan  mudah disampaikan  pada  pendengar. Sehingga metode baru dan klasik bagi komunitas pengamen yakni Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) untuk mendapatkan perhatian lebih dari masyarakat sekaligus menuangkan kegelisahan-kegelisahan yang ingin ia sampaikan ke masyarakat secara estetik.

Sudut pandang dari penulis meyakini jika pengamen mempunyai kualitas kesenian yang tinggi dan mampu mengaplikasikannya ke ranah publik seperti dalam bentuk karya sastra, maka akan membuat para penonton terpukau, sehingga masyarakat tidak lagi acuh dan berpikir panjang untuk mengeluarkan uang dalam mengapresiasi karya seni para pengamen. Selain itu, masyarakat mampu memahami keadaan kehidupan pengamen melalui syair-syair puisi yang didengarkannya.

Di sisi lain, para pengamen tidak hanya menjadikan ngemen sebagai bentuk mencari nafkah semata, melainkan mampu menjadikan ngamen sebagai wadah meluapkan isi hatinya, sehingga memberikan rasa legah. Sementara itu, masyarakatpun tidak hanya memberi uang ke pengamen sebagai bentuk ibah, melainkan bisa menjadi bentuk apresiasi kesenian.

 

Referensi :

Kartono, Drajat Tri. 2018. Orkhestra Jalanan Di Kota Tentang Menjadi Pengamen, Organisasi Sosial Dan Eksistensi Dalam Kehidupan Kota. Jurnal Dialektika Masyarakat: 2 (1).

Ari, KPIN. (2008). Musikalisasi Puisi: Tuntunan dan Pembelajaran. Yogyakarta: Hikayat.

Sumardjo, Jakob dan Saini K.M. (1991). Apresiasi Kesusasteraan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Pradopo, Rachmat Djoko. (2007). Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gajah Mada Uniersity Press

Semi, Atar. (1990). Menulis Efektif. Padang: CV Angkasa Raya

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close