Artikel

MENGENAL GENERASI MILLENIAL DAN GENERASI Z

MENGENAL GENERASI MILLENIAL DAN GENERASI Z

Sumber : https://blog.pinjammodal.id/gen-z-lebih-ambisius-mengejar-karier-dibanding-milenial/

Kita semua pasti biasa mendengar istilah generasi millenial, generasi Z, bahkan sampai saat ini sudah ada istialah baru muncul untuk generasi yang lahir ditahun 2015 ke atas, yang disebut dengan istialah generasi Alpha. Generasi millenial sejatinya adalah generasi yang lahir diretan tahun 1980 hingga 1995, sedangkan generasi Z adalah 1996 sampai dengan 2015. Meskipun memiliki tahun kelahiran yang berdekatan, kedua generasi ini tetap memiliki perbedaan, bahkan cukup signifikan. Budaya, sejarah, serta fenomena yang terjadi difase kehidupan mereka merupakan faktor penting yang mempengaruhi cara generasi millenial dan Z dalam memandang sesuatu di kehidupan mereka (Nobel & Schewe, 2003).

Generasi millenial memiliki sifat yang tertutup, sangat independen dan punya potensi, tidak bergantung pada orang lain hanya karena mereka ingin ditolong. Sedangkan generasi millenial sangat menghargai perbedaan, lebih memilih bekerja sama daripada menerima perintah, dan sangat pragmatis ketika memecahkan persoalan. Hal inipun sangat berdampak pada kebiasan mereka dalam mengerjakan sesuatu atau terjun dalam dunia kerja, generasi Z cenderung mengandalkan diri sendiri, menggunakan pendekatan praktis dalam bekerja, ingin bersenang-senang dalam bekerja, dan senang bekerja dengan teknologi terbaru. Sementara untuk generasi Z lebih optimis terhadap sesuatu, mengejar prestasi, dan sangat menghargai perbedaan, sehingga akan lebih muda dalam berkolaborasi di suatu kegiatan (Sutra, 2016).

Teknologi sudah menjadi bagian penting bagi generasi Z, lahirnya mereka di awal teknologi mulai mempengaruhi sumber informasi, membuat generasi ini mempunyai visi untuk bisa menguasai teknologi yang ada, khususnya internet (Bencsik & Machova, 2016). Millenial sendiri juga memiliki peran penting dalam perkembangan teknologi, sifat rasa ingin mengusai teknologi terbaru, mendorong mereka untuk lebih produktif dengan mencoba memanfaatkan sumber daya yang terbatas namun dengan memanfaatkannya dengan semaksimal mungkin.

Kontrol emosional juga menjadi perhatian bagi generasi millenial, perkembangan akan perputaran informasi yang begitu cepat serta tuntutan dunia kerja yang bergerak secara dimanis, memaksa generasi millenial untuk tetap profesional dalam menghadapi problem tersebut. Firman (2020) menjelaskan bahwa teman sebaya atau konseling sebaya merupakan cara paling ampuh bagi generasi millenial untuk menyelesaikan masalahnya atau sekedar berbagi ceritanya, sebab generasi millenial cenderung akan mencari orang disekitar mereka untuk berbagi cerita seputar persoalan yang sedang mereka hadapi. Konseling sebaya diharapkan mampu untuk memenuhi berbagai analisis kebutuhan generasi millenial, berbekal pengaruh teman sebaya.

Berbanding terbalik dengan generasi millenial, generasi Z yang lahir ditengah pesatnya perkembangan teknologi membuat hubungan sosial mereka sedikit berkurang, sebab relasi sosial banyak terjadi di media sosial dan juga gadget. Merekapun rawan akan pengaruh informasi yang belum jelas asal usulnya, sehingga sangat membutuhkan dampingan orang tua dan orang disekitarnya yang paham akan informasi. Dalam penyelesaian masalahnya generasi Z lebih memilih untuk menenangkan diri, memendam sendiri apa yang menjadi hambatan, pikiran, serta kekwahtiran lainnya. Hal ini disebabkan karena alasan awal tadi, karena sifat individualistik yang terset melalui gadget mereka. Kurangnya pemahaman mereka akan situasi di masa lampau dan masa kini juga menjadi faktor penentu mengapa mereka cenderung memilih sendiri mengahadapi persoalan yang sedang terjadi pada diri mereka.

GhGenerasi millenial dan generasi Z merupakan dua generasi yang mempunyai landasan berpikir, cara pandang, serta emosional yang berbeda, sehingga sudah sangat tidak mungkin untuk mencoba menyamai kedua generasi ini dalam suatu organisasi dalam waktu yang bersamaan, apalagi sampai menuntut mereka untuk mengikuti apa yang sudah menjadi pola lama, sebab ada istilah yang mengatakan “Old system doesn’t work” yang berarti sistem lama tak bekerja dengan baik disituasi saat ini. Olehnya itu perlu pemahaman yang benar, baik untuk diri sendiri maupun orang disekitar kita, agar kita mampu memahami kedua perbedaan generasi ini.

Referensi:

Yanuar Surya Putra. 2016. Teori perbedaan generasi. Jurnal Ilmiah among makarti, 9(18), 123-134.

K Macky, D Gardner & S Forsyth. 2008. Generational differences at work: introduction and overview. Journal of Managerial Psychology.

Bencsik, A., & Machova, R. (2016, April). Knowledge Sharing Problems from the Viewpoint of Intergeneration Management. In ICMLG2016 – 4th International Conferenceon Management, Leadership and Governance: ICMLG2016 (p.42).

https://www.salesforce.com/blog/2017/10/how-millennials-and-gen-z-are-different.html. (Di akses pada 20 September 2020).

Paulus Pensies Anggoro, Nikita Prisanela Simorangkir & Dwi Murtiningrum. 2020. Kemampuan Generasi Z dalam mengatasi Hambatan Relasi (Move On) menurut Pendekatan Gestalt. psyarxiv.com.

Firman. 2019. Pendekatan Konseling Sebaya Tepat Guna Untuk Generasi Mellinial Dalam Perubahan Sosial Budaya. Osf com.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close