Artikel

Mengatasi Perilaku Bullying Siswa di Sekolah

 

Semua orang tua tentunya menginginkan anak-anak mereka selalu aman di sekolah, dan semua pendidik dan penyelenggara pendidikan juga ingin menyediakan lingkungan sekolah yang aman bagi anak yang belajar di sekolah tersebut. Hampir semua orang tua merasa tahu tentang bullying dan pengaruh negatif pada anak apabila di bully oleh teman sekolah sendiri. Namun suatu kejanggalan dalam masyarakat kita terkait penyikapan mereka terhadap fnomena bullying. Sebenarnya hampir semua orang tua tahu bahwa perilaku bullying bahaya bagi anak, namu mereka tidak terlalu menganggap serius (Nurul Hidayati, 2012).

Bullying1 merupakan perilaku agresif tipe proaktif yang didalamnya terdapat aspek kesengajaan untuk mendominasi, menyakiti, atau menyingkirkan, adanya ketidak seimbangan kekuatan baik secara fisik, usia, kemampuan kognitif, keterampilan, maupun status sosial, serta dilakukan secara berulang oleh satu atau beberapa anak terhadap anak lain (Olweus dalam Saptandari, 2013). Bullying memiliki dampak yang luas
pada kehidupan banyak anak dan tercermin dalam kehidupan mereka saat dewasa (Pereira dalam sari, 2015). Pelaku bullying berada dalam tingkat risiko yang lebih tinggi untuk terlibat dalam kriminalitas seperti penyalahgunaan alkohol, dan kenakalan remaja, sedangkan korban berisiko mengalami depresi dan masalah harga diri pada masa dewasa karena pengalaman yang dialami dimasa lalu (Veenstra dalam sari, 2017).

Berdasarkan penelitian dari Yayasan Semai Jiwa Aminin (SEJIWA) diketahui bahwa tidak ada satupun sekolah di Indonesia yang bebas dari tindakan kekerasan. SEJIWA dan Plan Indonesia melakukan survey yang melibatkan sekitar1500 orang siswa pelajar SMP dan SMA di 3 kota besar, yaitu Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya pada tahun 2008. Survei menunjukkan bahwa 67,9% pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) dan 66,1% di tingkat Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) pernah melalukan tindak kekerasan. Kekerasan yang dilakukan sesama siswa tercatat sebesar 41,2% untuk tingkat SMP dan 43,7% untuk tingkat SMA dengan kategori tertinggi kekerasan berupa pengucilan. Peringkat kedua ditempati kekerasan verbal (mengejek) dan terakhir kekerasan fisik (memukul). Selanjutnya berdasarkan data laporan kasus yang masuk ke Komnas per November 2009 setidaknya terdapat 98 kasus kekerasan fisik, 108 kekerasan seksual dan 176 kekerasan (Shinta dalam Sari, 2017).

Perilaku bullying sebenarnya telah sangat meluas di dunia pendidikan tanpa terlalu disadari bentuk dan akibatnya. Telah sejak lama dunia pendidikan mengenal istilah perpeloncoan, gencet-gencetan, pemalakan, penindasan, intimidasi, dan sebagainya. Persentase terbesar kejadian bullying berada pada lingkungan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama namun untuk memberikan pemahaman bagi siswa untuk larangan bullying pada temannya  (Gunawan dalam Saripah, 2010). Salah satu penyebab terjadinya bullying menurut National Youth Violence Prevention Resource Center (2003) adalah iklim sekolah yang tidak kondusif. Kurangnya pengawasan orang dewasa atau guru pada saat jam istirahat, ketidakpedulian guru dan siswa terhadap perilaku bullying, serta penerapan peraturan anti bullying yang tidak konsisten merupakan kondisi-kondisi yang menumbuh suburkan terjadinya bullying di sekolah.

Model Efikasi Konseling Kognitif Perilaku (MKKP) dalam Menangani Bullying
          Secara umum diperoleh bukti empirik bahwa Model Konseling Kognitif Perilaku efektif untuk menanggulangi bullying baik pada pelaku, korban baik berdasakan pola asuh maupun latar belakang sekolah. Keefektifan MKKP tersebut dapat dianalisis dari sisi keunggulan Konseling Kognitif-Perilaku. Dobson dalam sarifah, 2010) mencatat beberapa kelebihan pendekatan konseling kognitif perilaku bagi populasi anak-anak dalam setting sekolah, sebagai beikut:

  1. Prinsip-prinsip KKP mudah dipahami dan dapat diadaptasikan pada anak-anak hampir semua usia dan dari banyak latar belakang kultural.
  2. Kelompok KKP cenderung berjangka pendek dan memakai intervensi singkat, yang cocok dalam latar sekolah ketika waktunya terbatas.
  3. Konsep-konsep yang mudah diajarkan dapat diterjemahkan untuk memperoleh keterampilan-keterampilan hidup.
  4. Anak-anak dan remaja dapat mempelajari kontrol diri emosional dan behavioral melalui upaya memahami hubungan antara pikiran, perasaan, dan perilaku.
  5. Kelompok KKP membantu para peserta menangani hal-hal yang dapat mereka ubah dan menerima hal-hal yang tidak dapat mereka ubah.
  6. Prinsip-prinsip kognitif membantu memberdayakan anak-anak dan remaja dalam menangani permasalahn saat ini dan mengantisipasi masalah masa depan.

Masalah bullying disekolah harus segera diatasi oleh pihak yang berkepentingan khususnya bagi orang tua murid disekoalah dengan beberapa metode konseling yang harus di terapkan. Diharapkan sekolah dapat menerakan Model Efikasi Konseling Kognitif Perilaku (MKKP) untuk mengatasi perilaku bullying di sekolah. Salah satu keunggulan dari MKKP adalah Bagi pelaku: merasa senang, lega karena sudah mengungkapkan pengalaman, akan bersikap lebih baik lagi terhadap teman, tidak akan menghina, tidak akan berantem, tidak akan “jahil” atau berbuat jahat kepada teman, tidak akan “cuek” kepada teman yang kesulitan, berusaha tidak mudah marah, mau berteman lebih akrab, dan tidak akan bermusuhan lagi.

Daftar Pustaka

Hidayati, N. 2012. Bullying pada anak: Analisis dan alternatif solusi. Jurnal14(01), 43-45.

Ralston, J. 2003. National Youth Violence Prevention Resource Center. School Library Journal49(10), 100-100.

Saptandari, E. W., & Adiyanti, M. G. 2013. Mengurangi Bullying melalui Program Pelatihan “Guru Peduli”. Jurnal Psikologi40(2), 193-210.

Sari, D. A. 2017. HUBUNGAN PERKEMBAN

GAN KOGNITIF ANAK DENGAN PERILAKU BULLYING TEMAN SEBAYA DI SD 1 BLUNYAHAN BANTUL (Doctoral dissertation, STIK

ES Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

Saripah, I. 2010. Model Konseling Kognitif Perilaku Untuk Menanggulangi Bullying Siswa. In International Confrence on Teacher Education: Join Conference UPI dan UPSI Bandung, Indonesia (pp. 8-10).

Saripah, I. 2010. Model Konseling Kognitif Perilaku Untuk Menanggulangi Bullying Siswa. In International Confrence on Teacher Education: Join Conference UPI dan UPSI Bandung, Indonesia (pp. 724-725).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close