Artikel

MANFAAT BIOCHAR TERHADAP PENGELOLAAN LAHAN PERTANIAN

Pertanian adalah suatu usaha bercocok tanam untuk mendapatkan keuntungan. Pertanian dalam arti sempit, perikanan, peternakan, perkebunan, kehutanan dan dalam arti luas yaitu pengelolaan hasil bumi dan pemasaran hasil bumi pertanian yang memberikan keuntungan bagi masyarakat petani (Nazliana, 2018). Pengelolaan lahan pertanian adalah segala tindakan atau perlakuan yang diberikan pada suatu lahan untuk menjaga dan mempertinggi produktivitas lahan tersebut dengan mempertimbangkan kelestariannya.  Pengelolaan lahan merupakan salah satu faktor terpenting dalam mencapai hasil yang optimal dan berkelanjutan namun apabila pengelolaan lahan tidak baik maka akan menimbulkan beberapa masalah pada hasil lahan pertanian. ( Sujana, 2015).

Padi merupakan tanaman pangan utama dan sebagai bahan makanan pokok hampir seluruh penduduk Indonesia dan sangat diperhatikan produktivitasnya. Namun permasalahan yang dihadapi saat ini adalah antara lain: (1) masalah luas lahan yang semakin sempit, (2) kualitas lahan sawah yang menurun, (3) sulitnya membuka lahan yang baru, dan (4) pengaruh adanya perubahan iklim (Mawardiana, 2013). Pemanfaatan teknologi tepat guna seperti pemupukan dan pemberian biochar adalah salah satu solusi yang tepat, guna meningkatkan produksi lahan pertanian. Pertumbuhan tanaman yang baik memerlukan unsur hara yang cukup selama pertumbuhan sejak perkecambahan sampai menjelang panen. Ketersediaan hara yang cukup dan seimbang bagi tanaman memungkinkan tanaman tumbuh dengan baik sehingga memberikan hasil yang baik pula (Patrisius Naben, 2017)

Biochar merupakan bahan kaya karbon yang berasal dari biomassa seperti kayu maupun sisa hasil pengolahan tanaman yang dipanaskan dalam wadah dengan sedikit atau tanpa udara (Lehmann dan Joseps, 2009). Biochar telah diketahui dapat meningkatkan kualitas tanah dan digunakan sebagai salah satu alternatif untuk pembenah tanah. Pemberian biochar ke tanah berpotensi meningkatkan kadar C-tanah, retensi air dan unsur hara di dalam tanah. Keuntungan lain dari biochar adalah bahwa karbon pada biochar bersifat stabil dan dapat tersimpan selama ribuan tahun di dalam tanah (Gani, 2009). Hasil penelitian (Nisa, 2010) menunjukkan bahwa tanah yang diberi perlakuan biochar 10 ton ha-1 dapat menaikkan pH tanah dari 6,78 menjadi 7,40 atau naik 9,14%. semua bahan organik yang ditambahkan ke dalam tanah nyata meningkatkan berbagai fungsi tanah tak terkecuali retensi berbagai unsur hara esensial bagi pertumbuhan tanaman. Biochar lebih efektif menahan unsur hara untuk ketersediaannya bagi tanaman dibandingkan bahan organik lain (Lehmann, 2007)

Di Indonesia potensi penggunaan biochar cukup besar, mengingat bahan baku seperti kayu, tempurung kelapa, sekam padi, dan tanaman bakau cukup tersedia. Pembuatan arang cukup dikenal masyarakat Indonesia, namun belum dimanfaatkan sebagai pembenah tanah. Biochar merupakan arang hayati yang berasal dari pembakaran tidak sempurna (pirolisis) bahan organik sisa-sisa hasil pertanian yang dapat meningkatkan kualitas tanah dan dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk pengelolaan tanah. Pada dasarnya biochar berpotensi meningkatkan C-tanah secara berkelanjutan, retensi air dan hara dalam tanah selain itu manfaat lain dari biochar adalah dapat menyimpan karbon secara stabil selama ribuan tahun dengan cara membenamkan ke dalam tanah (Gani, 2009).

Perubahan iklim merupakan salah satu motivasi ilmuan dunia untuk memperhatikan biochar dalam mewujudkan sistem pertanian di indonesia karena biochar merupakan bahan pembenah tanah alami yang sering digunakan beberapa tahun terakhir (Sujana, 2015).  Oleh karena itu, pemerintah berperan penting dalam memberikan pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat luas, khususnya petani, akan pentingnya pengolaan lahan dengan menambahkan bahan organik yang di sebut biochar sebagai pembenah tanah guna mendukung keberlanjutan pertanian mendatang.

Daftar Pustaka

Gani, A. 2009. Potensi Arang Hayati Biochar Sebagai Komponen Teknologi Perbaikan Produktivitas Lahan Pertanian. Iptek Tanaman Pangan4(1):35-36.

Joseph, S., Peacocke, C., Lehmann, J., & Munroe, P. (2009). Developing a biochar classification and test methods. Biochar for environmental management: science and technology, 1, 107-126.

Lehmann, J. 2007. Bio‐energy in the black. Frontiers in Ecology and the Environment5(7): 381-387.

Mawardiana,  Sufardi, dan E. Husen. 2013. Pengaruh Residu Biochar Dan Pemupukan NPK Terhadap Sifat Kimia Tanah Dan Pertumbuhan Serta Hasil Tanaman Padi Musim Tanam Ketiga. Jurnal Konservasi Sumber Daya Lahan 1(1): 16-23.

Naben, P., & Raharjo, K. T. P. 2017. Effect Of Dosage Of Guano And Biochar On Growth And Yield Of Red Bean (Phaseolus Vulgaris L.) At Middle Plain Dryland. Savana Cendana 2(04): 65-67.

Nasution, L. N.  dan  Yusuf. M. 2018. Analisis Konsumsi, Ekspor, Dan Pertanian Terhadap Pertumbuhan  Ekonomi Di Sumatera Utara. Jurnal Kajian Ekonomi dan Kebijakan Publik 3(2): 82-86.

Nisa, K. 2010. Pengaruh pemupukan NPK dan biochar  terhadap sifat kimia tanah, serapan  hara dan hasil tanaman padi sawah. Skripsi. Banda Aceh: Universitas Syiah kuala.

Sujana, I P dan I N. L. S. Pura. 2015. Pengelolaan Tanah Ultisol Dengan Pemberian Pembenah Organik Biochar Menuju Pertanian Berkelanjutan. Jurnal Pertanian Berbasis Keseimbangan Ekosistem 5(9): 1-69.

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close