Uncategorized

Peran Dewan Redaksi di Dunia Publikasi

Penyediaan referensi yang memadai didudukung dengan informasi yang semakin mudah dijangkau memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan suatu wilayah. Referensi terkait penemuan terbaru seseorang akan menjadi bacaan yang inspiratif dan edukatif bagi para masyarakat. Hal tersebut memungkinkan masyarakat berkembang lebih maju dalam hal ilmu pengetahuan Ada begitu banyak jenis referensi yang dapat diakses maupun disitasi dan salah satunya yakni Jurnal Ilmiah. Pengelola Jurnal umumnya lebih dikenal dengan dewan redaksi. Dewan Redaksi memiliki fungsi meneruskan manfaat dari hasil penelitian yang telah dibuat baik itu oleh seorang akademisi, teknisi, maupun masyarakat pada umumnya. Jurnal Ilmiah adalah bentuk pemberitaan atau komunikasi yang memuat karya ilmiah dan diterbitkan terjadwal dalam bentuk eletronik maupun cetak (Menristekdikti, 2018)

Setiap jurnal memiliki scope yang berbeda mulai dari ilmu pendidikan, ilmu sains dan beragama disiplin ilmu lainnya. Merujuk pada (MenristekDikti, 2018) Jurnal Ilmiah memiliki peran:

  1. Meregistrasi kegiatan kecendekiaan
  2. Mengarsipkan temuan hasil kegiatan kecendekiaan ilmuan
  3. Mengakui hasil kegiatan yang memenuhi persyaratan ilmiah
  4. Mendesiminasikan hasil kegiatan kecendekiaan
  5. Mendesiminasikan hasil pengabdian masyarakat
  6. Melindungi hasil karya peneliti

Merujuk dari pernyataan tersebut, maka Dewan redaksi berperan dalam merekap hasil penelitian para peneliti. Selanjutnya rekap hasil penelitian tersebut akan dipublikasi dalam bentuk terbitan dalam jurnal cetak maupun jurnal online. Proses artikel hingga akhirnya dipublikasi dilakukan dengan bantuan dari Reviewer. Reviewer adalah dosen yang berkualifikasi sesuai denan bidang ilmu yang mewakili bidang ilmu pengetahuan, teknologi. Dan/seni (MenristekDikti, 2019)

Dewan Redaksi memiliki andil yang besar untuk turut partisipatif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai dengan scope jurnal yang dikelolanya mengingat bahwa jurnal ilmiah menjadi acuan primer dalam melakukan penelitian. Data dari Scimagojr.com (2019) menunjukkan bahwa Indonesia menempati urutan 48 dengan total dokumen publikasi 110160, Singapura menempati urutan 32 dengan total dokumen publikasi 292560, dan Malaysia menempati urutan 32 dengan total dokumen publikasi 286411. Data tersebut menunjukan bahwa Indonesia masihlah sangat tertinggal dibandingkan negara tetangga dalam hal publikasi ilmiah. Kesadaran para peneliti terus melakukan riset dan melakukan publikasi penelitian dalam suatu institusi akan menjadi satu faktor yang meningkatkan publikasi suatu negara. Peningkatan publikasi menjadikan informasi terkait perkembangan ilmu pengetahuan tersampaikan lebih cepat.

Daftar Pustaka

Scimago. (2019, July 31). Scimago Journal and Country Rank. Retrieved from Scimago: https://www.scimagojr.com/journalrank.php

Menristekdikti. (2018). Akreditas Jurnal Ilmiah. Jakarta: Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close