Artikel

Floating Hydro : Pengukir Asa di Desa Terpencil

Listrik menjadi kebutuhan primer demi keberlangsungan hidup manusia. Ketika manusia ingin belajar pada malam hari manusia memerlukan cahaya yang dihasilkan oleh aliran listrik. Agar manusia dapat melihat jelas jalan yang akan dilaluinya pada malam hari maka manusia membutuhkan cahaya listrik. Tanpa aliran listrik maka pencahayaan di pedesaan khususnya pada malam hari tidak akan optimal. Kondisi tersebut tentunya akan berdampak pada produktifitas masyarakat setempat. Namun kondisi ideal yang diharapkan belum terpenuhi pada beberapa daerah khususnya desa terpencil. MABE MAYBE IT SI WHAT.

Kondisi listriik yang sangat minim tentunya sangat menghambat produktifitas masyarakat. Namun begitulah adanya, begitu banyak desa yang memiliki kondisi minim listrik. Dilansir dari validnews.id (2017) bahwa masih terdapat 2500 desa yang tidak dilaliri listrik. Beberapa faktor minimnya listrik di pedesaan antara lain sulitnya akses listrik dari PLN ke lokasi tersebut, dana yang diperlukan cukup besar untuk memperadakan lsitrik pada desa terpencil tersebut. Walaupun beberapa desa sudah maju sebab mereka menggunakan aliran sungai sebagai sumber listrik. Perangkat tersebut umumnya kita kenal dengan istilah kincir air atau turbin air. Turbin air kinetik merupakan piranti penghasil energi mekanik (putaran poros) dengan bantuan kecepatan aliran air sungai dan memanfaatkan energi kinetik yang kemudian diubah menjadi energi mekanis pada turbin untuk menggerakkan generator sehingga menjadi energi listrik (Yani, et al., 2016).

Turbin air merupakan piranti yang cukup umum digunakan, namun kebanyakan kekurangannya adalah piranti tersebut bersifat tidak portable dan tetap memerlukan biaya yang besar. Permasalahan tersebut tentunya merupakan kondisi yang sangat krusial ditaktisi sebab listrik merupakan kunci strategis untuk peningkatan taraf hidup manusia. Demi mewujudkan kondisi yang lebih baik maka para scientist menciptakan beberapa inovasi salah satu inovasi tersebut adalah Floating Hydro. Floating Hyrdo ditemukan oleh seorang siswa kelas 11  bernama Arfan. Floating Hydro merupakan perangkat serupa PLTA yang relatif mini dibandingkan piranti lain. Floating hydro bersifat portable dan mengapung disungai. Michael dalam (Suyono, et al., 2017) Konsep pembangkit listrik terapung ini kali pertama ditemukan oleh Wilson Pierazoli Filho di Kota Belo Horizento Brazil pada tahun 2003.

Spesifik membahas Floating Hydro karya Anak Bangsa. Floating Hyrdo karya Arfan merupakan tipe Floating Hydro yang sangat sederhana. Perangkat tersebut dibuat dengan menggunakan prinsip PLTA pada umumnya. Selain bersifat portable, Floating hydro tidak memerlukan arus sungai yang deras sebab floating hydro telah menggunakan stablizer dan biaya yang diperlukan untuk pembuatannya pun hanya kisaran 4 jt rupiah.

Penjelasan tentang komponen floating hydro. Floating Hydro terdiri atas beberapa komponen antara lain ;

  • 2 Pelat Aluminium
  • Batang besi
  • Banyak framing besi
  • Roda gigi dan roda sepeda
  • Tali kipas
  • Banyak mur dan baut
  • 2 bantalan
  • 4 drum

Untuk prosedur pembuatannya yakni :

 

  1. Buat benda seperti ada gambar berikut :
  2. Pasang alternator.
  3. Temukan sungai
  4. Kaitkan benda itu ke pohon atau batu
  5. Biarkan mengapung di sungai
  6. Colokkan kabel ke baterai

 

Daftar Pustaka

Ahmad Yani. https://ojs.ummetro.ac.id/index.php/turbo/article/download/113/95

Arfan, 2016. Arfanjunk. [Online]
Available at: https://arfansjunk.wordpress.com/2016/03/01/floating-hydro-turbine/
[Accessed 1 Maret 2019].

Suyono. http://jurnaleeccis.ub.ac.id/index.php/eeccis/article/download/449/297

S., Suyono, H. & Hasanah, R. N., 2017. Desain Pembangkit LIstrik Tenaga Piko Hidro Terapung (PLTPHT). Jurnal EECCIS, 11(2), p. 83.

Validnews, 2017. [Online]
Available at: https://www.validnews.id/Kurang-dari-7–Daerah-di-Indonesia-Belum-Teraliri-Listrik-doy
[Accessed 12 April 2019].

Yani, A., Mihdar & Erianto, R., 2016. Pengaruh Variasi Bentuk Kudu terhadap KInerja Turbin Air Kinetik. Jurnal Teknik Mesin Univ. Muhammadiyah Metro, 5(1), p. 9.

 

 

 

 

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close