Artikel

ARANG AKTIF TONGKOL JAGUNG SEBAGAI ALTERNATIF PENYERAPAN LIMBAH CAIR TAHU DI SUNGAI JENEBERANG PADA SISTEM LUMPUR AKTIF

ARANG AKTIF TONGKOL JAGUNG SEBAGAI ALTERNATIF PENYERAPAN LIMBAH CAIR TAHU DI SUNGAI JENEBERANG PADA SISTEM LUMPUR AKTIF

 

Sumber : https://slideplayer.info/slide/3157404/

Sungai Jeneberang merupakan sumber air utama bagi masyarakat Kota Makassar dan sekitarnya. Aliran Sungai Jeneberang yang  membentang di wilayah urban dan sangat dekat dengan segala aktivitas masyarakat mudah mendapat masukan limbah yang dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Menurut data dari Badan Lingkungan Hidup Daerah Sulawesi Selatan per akhir tahun 2013, mutu air Sungai Jeneberang berada pada tingkat cemar berat. Parameternya mengacu pada hasil uji TSS (Total Suspended Solid) sebanyak 265 mg/L, BOD (Biological Oxygen Demand), NO2 (Nitrogen dioksida) sebanyak 1.018 mg/L, H2S (Hidrogen Sulfida) sebanyak 27 mg/L, krom sebanyak 0,441 mg/L dan Cl (Klorida) yang berada di atas kondisi baku. Hasil penelitian Najamuddin, dkk., (2016), menyatakan bahwa distribusi logam berat Pb dan Zn terlarut dari sungai ke laut cenderung meningkat yang mengindikasikan sumber Pb dan Zn terlarut di perairan Estuaria Jeneberang sehingga logam berat Pb termasuk kategori tercemar. Salah satu penyebab tercemarnya Sungai Jeneberang tersebut yaitu adanya limbah industri tahu.

Limbah industri tahu yang dihasilkan di Sungai Jeneberang dapat berupa limbah padat dan limbah cair. Limbah cair industri tahu pada umumnya memiliki karakteristik berupa pH, TSS, COD, BOD, amonia, nitrit dan nitrat yang melebihi baku mutu air limbah. Karakteristik kandungan limbah cair tahu tersebut sama dengan kandungan akibat limbah yang ditemukan di Sungai Jeneberang. Menurut Romfis, dkk., (2017), konsentrasi COD (Chemical Oxygen Demand) di dalam air limbah industri tahu cukup tinggi yakni berkisar antara 7000-10000 ppm, serta mempunyai keasaman yang rendah yakni pH 4-5 yang dapat berakibat buruk bagi kesehatan masyarakat. Tercemarnya Sungai Jeneberang oleh limbah cair tahu menyebabkan keracunan kronik pada manusia karena dapat menyerang sistem saraf, pembuluh darah, dan dalam tubuh dapat terakumulasi khususnya dalam hati dan ginjal, menyebabkan kekurangan darah, kerapuhan tulang, mempengaruhi reproduksi dan organ-organnya. Selain itu, kandungan limbah cair tahu dapat menyebakan timbulnya kanker pada manusia (Rizkyi, dkk., 2016).  Salah satu metode alternatif dalam pengolahan limbah cair tahu yang terkandung di Sungai Jeneberang  yang dapat diterapkan pada industri tahu adalah sistem lumpur aktif.

Sistem lumpur aktif adalah proses biologik aerobik yang dapat digunakan sebagai adsorben untuk menangani berbagai jenis limbah cair Pembuatan  lumpur aktif  terdiri atas dua unit proses utama yaitu proses aerasi dan sedimentasi. Air limbah dipompa ke dalam tangki aerasi. Selanjutnya di dalam tangki terjadi proses pengendapan dan lumpur teraktivasi yaitu air limbah yang mengandung mikroorganisme dipisahkan dari campuran. Kemudian biomassa dipisahkan dari air yang telah diolah dengan pengendapan secara gravitasi (Nagwekar, dkk., 2014). Penggunaan sistem lumpur aktif telah banyak digunakan dalam penelitian diantaranya penelitian Santoso (2008)  ekfektif  dapat meningkatkan kualitas limbah tapioka sehingga diperoleh kualitas BOD 142,458 mg/L dan COD 293 mg/L, selanjutnya penggunaan sistem lumpur aktif  berbahan dasar limbah tahu pada pengolahan limbah rumah tangga diperoleh kadar BOD 99,46 mg/L dan COD 187,91 mg/  L dengan waktu retensi 10 jam. Kemudian Ratnani (2011) juga menggunakan sistem lumpur aktif pada pengolahan limbah cair tahu sehingga terjadi penirunan konsentrasi COD sampai 250 mg/L. Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut, pengolahan limbah menggunakan sistem lumpur aktif belum memberikan hasil yang optimal sehingga perlu pengolahan lanjut untuk meningkatkan kualitas limbah yaitu dengan menggunakan arang aktif.

Arang merupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85-95  persen karbon. Arang selain dapat digunakan sebagai bahan bakar, juga dapat digunakan sebagai adsorben dengan cara menjadikannya sebagai arang aktif (Sulistyaningkarti, dkk., 2017). Arang aktif sebagai bahan mikropori adalah adsorben paling penting yang telah banyak digunakan sebagai adsorben yang serbaguna yang efektif dengan kapasitas serapan dan luas permukaan yang tinggi. Menurut Kamariya dan Pandya 2016, aplikasi arang aktif yang menarik adalah material yang ramah lingkungan, aman dan biaya yang sangat rendah dengan material yang memiliki luas permukaan yang tinggi. Oleh karena itu, salah satu material organik yang dapat digunakan sebagai arang aktif yaitu limbah tongkol jagung.

Tanaman jagung setiap kali panen akan menghasilkan limbah sebagai hasil sampingan. Menurut data Badan Pusat Statistik Sulawesi Selatan (2014), potensi tongkol jagung terbesar terdapat di daerah Gowa dengan produksi 213.186 ton tiap tahun. Upaya yang dilakukan untuk memanfaatkan limbah pertanian khususnya tongkol jagung yaitu dijadikan sebagai pakan ternak dan pengolahan menjadi arang aktif.

Arang aktif dari tongkol jagung atau yang sering disebut sebagai adsorben memiliki beragam manfaat. Menurut Rizkyi (2016), tongkol jagung memiliki kandungan senyawa karbon yang cukup tinggi yaitu selulosa 41  persen, dan hemiselulosa  36  persen yang cukup tinggi untuk mengindikasikan bahwa tongkol jagung berpotensi sebagai bahan pembuat arang aktif. Tongkol jagung memiliki kandungan kadar abu rendah yaitu 0,91  persen. Arang aktif memiliki potensi yang baik sebagai adsorben karena memiliki kandungan karbon yang lebih banyak dari kadar abunya, mudah dibuat, murah, bahan bakunya mudah didapat dan melimpah, mudah digunakan dan tahan lama. Selain itu, pemanfaatan tongkol jagung dapat mengurangi limbah organik di masyarakat. Arang tongkol jagung dapat ditingkatkan luas permukaan dan daya serapnya melalui aktivasi kimia menggunakan Na2CO3. Penggunaan aktivator efektif mampu meningkatkan kualitas efluen limbah cair. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan hasil penelitian Pambayun, dkk., (2013),  pembuatan arang aktif tempurung kelapa yang disertai pirolisis 700 0C dengan kualitas arang aktif telah memenuhi syarat SII No.0258-79.

Kombinasi pemanfaatan arang aktif tongkol jagung pada sistem lumpur aktif bermanfaat untuk meningkatkan kualitas efluen limbah cair tahu di Sungai Jeneberang dibandingkan dengan penggunaan arang aktif lainnya. Hal ini disebabkan karena arang aktif berbahan dasar limbah yang terbuat dari tongkol jagung mengandung senyawa karbon yang cukup tinggi yakni senyawa selulosa sebanyak 41  persen dan senyawa hemiselulosa sebanyak 36  persen yang mengindikasikan bahwa tongkol jagung berpotensi sebagai bahan pembuat arang aktif. Selain  itu, tongkol jagung juga merupakan limbah organik pertanian yang cukup besar di Sulawesi Selatan sehingga dapat mengurangi limbah yang ada di masyarakat. Selain itu, tulisan ini dapat memberikan wawasan kepada masyarakat khususnya masyarakat daerah Gowa bahwa tongkol jagung tidak hanya dapat diolah menjadi pakan ternak akan tetapi dapat dijadikan arang aktif yang ramah lingkungan dan dapat bernilai ekonomis. Kemudian arang aktif  tersebut memiliki keunggulan  dibandingkan arang aktif lainnya karena untuk lebih mengoptimalkan efektivitas digunakan kombinasi sistem lumpur aktif yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas limbah yang lebih baik. Keunggulan dari sistem lumpur aktif yaitu dapat meningkatkan kualitas efluen seperti kandungan BOD, COD, nitrat, pH pada limbah cair industri tahu (Nagwekar, dkk., 2014).

Berdasarkan hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa arang aktif tongkol jagung pada sistem lumpur aktif dapat meningkatkan efluen limbah cair tahu. Hal tersebut disebabkan karena tongkol jagung mengandung senyawa karbon yang cukup tinggi yakni senyawa selulosa sebanyak 41 persen dan senyawa hemiselulosa sebanyak 36 persen.

Referensi:

Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD). 2013. Mutu Air Sungai Jeneberang. BPS. Makassar

Badan Pusat Statistik (BPS). 2014. Statistik Produksi dan Tongkol Jagung. BPS. Sulawesi Selatan.

Kamariya, S., Dan Pandya, J. 2016 Preparation, And Characterization Of Activated Carbon From Agriculutural Waste, Peanult Shell By Chemical Activation. Internationa Journal Of Trend In Research And Development. 3:138-141

Najamuddin, Trio Partono, Harpasis S. Sanusi, dan I Wayan Nurjaya. 2016. Distribusi dan Perilaku Pb dan Zn Terlarut dan Partikulat di  Perairan Estuaria Jeneberang, Makassar. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis. 8(1): 11-28

Nagwekar, P. R. 2014. Removal Of Organic Matter From Wastewater By Activated Sludge Process Review. International Journal Of Science, Engineering And Technoogy Research (Ijsetr). 3(5): 1260-1263

Pambayun, G. S., Yuianto. 2013. Pembuatan Karbon Aktif Dari Arang Tempurung Kelapa Dengan Aktivator Zncl Dan Na2CO3  Sebagai Adsorben Untuk Mengurangi Kadar Fenol Dalam Air Limbah. Jurnal Teknis Pomits. 2: 116-120.

Ratnani. 2011. Kecepatan Penyerapan Zat Organik Pada Limbah Cair Industri Tahu Dengan Umpur Aktif. Momentum. 7: 18-24.

Rizkyi, Istria, Pijar., Eko Budi Susatyo, Endang Susilaningsih. 2016. Aktivasi Arang Tongkol Jagung menggunakan HCl sebagai Adsorben Ion Cd (II). Indonesia Journal of Chemical Science. 5(2): 125-129

Romfis., Dio., Syarfie., Bahruddin. 2017. Pengaruh Konsentrasi HCl dan Detergen terhadap Fluks dan Resistance Removal untuk Pencucian Kimia Membran Ultrafiltrasi pada Pengolahan Limbah Cair Tahu. Jurnal JOM FTEKNIK. 4(1):1-10

Santoso, B. 2008. Proses Pengolahan Air Buangan Industri Tapioka. Fakultas Teknik  Industri. Universitas Gunadarma, Jakarta.

Sulistyaningkarti, Lilih., dan Budi Utami. 2017. Pembuatan Briket Arang dari Limbah Organik Tongkol Jagung dengan menggunakan Variasi Jenis dan Persentase Perekat. Jurnal Kimia dan Pendidikan Kimia. 2(1): 43-53.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close