Artikel

3D Hologram sebagai Media Pengenalan Mitigasi Bencana Bagi Anak Usia Dini

Indonesia merupakan negara yang memiliki potensi besar mengalami bencana alam. Hal tersebut dibuktikan dengan penelitian oleh Universitas Ruhr Bochum, Jerman, dan koalisi LSM kemanusiaan Jerman, Development Helps Alliance, bahwa Indonesia berada pada urutan ke-36 dengan indeks risiko 10,36 dibawah India dan Islandia (Heintze dkk, 2018). Adanya indeks risiko tersebut dikarenakan letak geografis Indonesia diantara tiga lempeng yaitu lempeng Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Pergerakan lempeng menjadikan Indonesia berpeluang besar mengalami bencana alam (Ksanti, Suliyanah, & Subekti, 2015). Bencana alam tersebut akan terus meningkat setiap tahunnya.

UNISDR mendefinisikan bencana alam sebagai gangguan fungsional pada masyarakat atau komunitas berupa kehilangan nyawa, materi, ekonomi dan lingkungan, dimana sumberdaya yang dimiliki masyarakat tidak mampu mengatasi dampak yang ditimbulkan. Terkait hal tersebut pemerintah melaksanakan penyelenggaraan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dengan landasan hukum UU RI No.24 tahun 2007 tentang “Penanggulangan Bencana‟. Keberadaan UU RI no. 24 tahun 2007 ini telah mengubah pola pikir penanganan bencana menjadi penanggulangan bencana yang lebih menitikberatkan pada upaya-upaya sebelum terjadinya bencana (Yukni dan Arifianti, 2011). Untuk menanggulangi bencana, tidak mesti berorientasi pada saat tanggap darurat melainkan dilakukan sebelum pada saat terjadi bencana dan setelah terjadi bencana.

Salah satu prioritas dalam upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) adalah pentingnya menggunakan pengetahuan, inovasi dan pendidikan untuk lebih mengedepankan budaya keselamatan dan ketangguhan disemua tingkat (Astuti, dan Sudaryono., 2010). Disini peran sekolah sebagai institusi pendidikan sangatlah strategis, terkait pengembangan pengetahuan yang diperlukan dalam upaya mitigasi.

Untuk mengurangi dampak dan risiko terjadinya bencana alam maka diperlukan adanya pemahaman mengenai bencana alam serta mitigasinya kepada masyarakat sejak dini karena anak-anak sangat rentan terhadap trauma jika menjadi korban bencana alam, terlebih lagi anak-anak belum memiliki kematangan kognitif yang sama seperti orang dewasa, sehingga diperlukan pendampingan dalam mengatasi kondisi bencana. Oleh karena itu, perlunya pemahaman serta pengetahuan kepada anak agar dapat mengantisipasi saat terjadi bencana alam (Nugroho dkk., 2012). Karena pengenalan tersebut perlu dilakukan sejak dini dengan memberikan pembelajaran formal disekolah dasar.

Anak usia dini berada pada masa golden periode (masa keemasan) dimana perkembangan otak pada usia ini berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat baik fisik maupun mental (Dian, Prasita & Erri, 2016) sehingga pembelajaran mengenai mitigasi bencana sesuai diberikan pada tahap usia ini. Pemahaman mengenai mitigasi bencana tidak harus diajarkan pada mata pelajaran khusus, namun dapat di masukkan dalam mata pelajaran  yang sudah ada sebelumnya, seperti pendidikan lingkungan hidup. Materi ini dipilih karena dapat diaplikasikan dalam pembelajaran mitigasi bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor melalui soal cerita. Hal ini juga berperan sebagai alternatif bagi guru untuk mengaktifkan proses belajar-mengajar di dalam kelas yang selama ini kebanyakan masih menggunakan metode konvensional (Zulyadaini, 2016).

3D Hologram merupakan media pengenalan untuk anak usia dini yang berisi tentang pengenalan mengenai mitigasi bencana beserta hal-hal yang dilakukan guna mengantisipasi saat terjadi bencana alam. Manfaat yang didapat dari 3D Hologram yaitu diantaranya anak-anak dapat mengikuti pengarahan dan aturan, melatih memecahkan masalah dan logika, melatih saraf motorik dan keterampilan spasial serta memberikan hiburan. Adanya media 3D Hologram diharapan mampu memberikan wawasan pada anak-anak mengenai pentingnya pengenalan mitigasi bencana dalam kehidupan sehari-hari.

 

Daftar Pustaka

Astuti, dan Sudaryono. 2010. Peran Sekolah dalam Pembelajaran Mitigasi Bencana. Jakarta. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana, 1 (1).

Dian Wahyu Putra, A. Prasita Nugroho & Erri Wahyu Puspitarini. 2016. “Game Edukasi Berbasis Android Sebagai Media Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini”. Jurnal Informatika Merdeka Pasuruan, 1 (1).

Heintze, H. J. dkk. 2018. World Risk Report 2018. Jermany: Bundnis Entwicklung Hilft.

Nugroho, D. U., R. N. Unggul P., Rengganis, N. Sintha & Wigati, P. Asmi. 2012. Sekolah Petra (Penanganan Trauma) Bagi Anak Korban Bencana Alam. Jurnal Ilmiah Mahasiswa, 2(2), 97-101.

Ksanti, R. A., Suliyanah, & Subekti, H. 2015. Melatih Tanggap Bencana Siswa Melalui Pembelajaran yang Mengintegrasikan Nilai Kearifan Lokal. Jurnal Pendidikan IPA, 3(3), 1- 8.

Zulyadaini. 2016. Perbandingan Hasil BelajarMatematika Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Coop Coop dengan Konvensional. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 16(1), 153-158.

Yukni, Arifianti. 2011. Mengenal Lebih Dekat Tanah Longsor. Bandung. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Close