Call us on 081340000336

Home » Artikel » Zonasi Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Sorgum Manis (Sorgum bicolor (l) moench) pada Desa Lassang Kec. Polongbangkeng Utara Kab. Takalar

Zonasi Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Sorgum Manis (Sorgum bicolor (l) moench) pada Desa Lassang Kec. Polongbangkeng Utara Kab. Takalar

Zonasi kesesuaian lahan

Nur Ikhsan1, Kadek Irayasa2, Muh. Wahyu3,Ian Alfian4

1,2,3,4Lembaga Penelitian Mahasiswa Penalaran Universitas Negeri Makassar

Setiap tumbuhan memiliki karakteristik kesesuaian lahannya masing-masing agar dapat tumbuh optimal, tumbuhan tidak dapat tumbuh pada semua area dipermukaan bumi ada tumbuhan yang hanya dapat tumbuh pada daerah gersang seperti kaktus, ada yang hanya bisa tumbuh pada daerah dingin. Oleh karena itu, dibutuhkan penilaian untuk melihat potensi, karakteristik, dan kemampuan lahan di suatu wilayah. Dalam kerangka penilaian tersebut, maka dibutuhkan kegiatan  survey  dan  evaluasi  lahan.  Evaluasi lahan dilakukan untuk mengetahui karakteristik suatu lahan kemudian dicocokkan dengan jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan optimal pada lahan tersebut, dengan mencari beberapa variable seperti intensitas curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, karakteristik tanah dan sebagainya.

Salah satu tanaman pangan yang baik dibudidayakan adalah Sorgum. Tanaman sorgum memiliki potensi untuk mendukung ketahanan pangan karena memiliki kemampuan agroekologi yang baik, kebutuhan airnya sedikit sekitar 120-200 per musim atau sepertiga dari kebutuhan air tebu dan seperdua dari kebutuhan air tanaman jagung. Tanaman sorgum dapat hidup di daerah dataran tinggi hingga dataran rendah (pegunugan dan pantai) (Tabloid Sinar Tani, 2017). Selain itu, Sorgum mampu beradaptasi pada kondisi iklim tropis ataupun basah seperti di Indonesia. Tanaman sorgum mampu hidup dikondisi lahan yang kering, marjinal, genangan air dan tanaman ini tahan terhadap hama  (Pabendon,  2012).  Menurut  hasil  penelitian  Balai Penelitian Tanah dalam Ishak (2012),  lahan yang cocok  untuk pertumbuhan yang optimum untuk tanaman sorgum adalah suhu optimum 23-27oC, kelembaban relatif kurang dari 75%, ketinggian ≤ 200 m dpl, curah hujan 400-900 mm/th.

Sorgum manis memiliki keunggulan dibandingkan dengan komuditas lainya. Sorgum manis berpotensi besar untuk dibudidayakan karena memiliki nilai  komersial yang tinggi, input yang rendah  dan tahan terhadap hama penyakit (Pabendon, 2012). Sorgum manis dapat dijadikan untuk bahan baku bioetanol yang dicirikan oleh akumulasi karbohidrat terfermentasi (FC) tinggi dalam batang (15-25%) (Sarath dalam Pabendon, 2012). Total FC terdiri atas tiga komponen gula utama, yaitu sukrosa (70%), glukosa (20%), dan fruktosa (10%), bergantung pada varietas dan kondisi lingkungan  tumbuh  (Prasad dalam Pabendon, 2012). Sorgum manis menggunakan air lebih sedikit tetapi mengandung FC lebih tinggi dibandingkan dengan jagung.

Data dari Direktorat Budidaya Serealia yang dikutip dari  Subagio (2014) menyatakan bahwa Indonesia merupakan Negara yang tingkat produksi sorgumnya masih rendah sehingga belum termasuk daftar Negara penghasil sorgum  di  dunia,  data  menunjukan  bahwa  produksi  sorgum  di  Indonesia dalam kurun waktu lima tahun terakhir hanya meningkat dari 6. 119 menjadi 7.695 ton (Subagio, 2014). Terkhusus di daerah Sulawesi Selatan, budidaya tanaman  sorgum telah dilakukan sejak tahun 2012 di Kabupaten Sidrap dengan luas area tanam mencapai 3200 ha (Tabloid Sinar Tani, 2017).

Luas wilayah daratan Indonesia mencapai 188,20 juta Ha dan memiliki lahan yang cocok untuk pertanian seluas 100,80 juta ha berdasarkan hasil evaluasi karakteristik sumberdaya tanah dan peta iklim skala 1:1000.000 (Hakim, 2010). Menurut  data BPS tahun 2013 lahan yang sementara tidak dimanfaatkan  sebagai  lahan  pertanian  sekitar 14,20  juta  ha.  Di  Sulawesi Selatan masih terdapat banyak daerah yang lahannya belum dimanfaatkan, salah satunya Kabupaten Takalar dengan luas lahan panen 6.016 Ha, dalam situs kabartakalar.com (2016) dikatakan bahwa pemerintah membuka lahan pertanian seluas 500 Ha di Kecamatan Polongbangkeng Utara, Polongbangkeng Selatan dan Kecamatan Mappakasunggu. Kecamatan terluas di Kabupaten Takalar adalah Kec. Polombangkeng  Utara  dengan  luas mencapai 212.25 km2 yang memiliki 12 Desa dan 6 kelurahan, salah satunya Desa Lassang yang merupakan desa dengan lahan yang masih banyak belum dimanfaatkan (Badan Pusat Statistik, 2016).

Berdasarkan hal tersebut, tulisan yang berjudul “Zonasi Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Sorgum Manis (Sorgum bicolor (l) moench) pada Desa Lassang Kec. Polobangkeng Utara Kab. Takalar” ini dibuat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Zonasi Kesesuaian Lahan untuk Budidaya Tanaman Sorgum Manis (Sorgum Bicolor (L) Moench) di Desa Lassang Kec. Palombangkeng Utara Kab. Takalar.

Penelitian ini merupakan Penelitian Kuantitatif non-eksperimen dengan menggunakan metode survei dengan pengamatan tanah di lapangan dilakukan berdasarkan atas pedoman pengamatan tanah di lapangan hasil Convensi Tanah International di Roma (World Reference base for oil resources, 2006). Variabel Penelitian ini meliputi: (1) Iklim, (2) Tanah, (3) Elevasi, (4) Drainase, kondisi saluran pengairan lokasi penelitian, (5) Tingkat Erosi, tingkat erosifitas tanah pada lokasi penelitian, (6) Jenis Batuan, dan (7) Kelerengan, tingkat kemiringan lereng (slope) pada lokasi penelitian.

Hasil Penelitian

Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu:

  1. Titik 1

Pada titik penelitian yang pertama ini terletak pada koordinat 05°19’34.8” LS dan 119°31’42.3” BT. Titik ini memiliki jenis tanah Miditeran Cokelat Merah dengan penggunaan lahan ladang. Kondisi lahan pada titik ini memiliki horizon A1 dengan warna Dark Reddish Brown dan strukturnya Blocky Sub Anggular.

  1. Titik 2

Pada titik penelitian yang kedua terletak pada koordinat 05°18’16.9” LS 119°28’54.6” BT. Titik ini memiliki jenis tanah Aluvial Cokelat Kelabu lokasi tersebut merupakan ladang yang ditumbuhi beberapa tanaman berupa kacang-kacangan dan semak. Kondisi lahan pada titik ini memiliki 3 lapisan horizon yaitu A berwarna Dusky yellow, A1 berwarna Light olive Gray dan A2 dengan warna Moderate Yellow sedangkan strukturnya Blocky Sub Anggular.

  1. Titik 3

Pada lokasi pengamatan yang ketiga memiliki koordinat 05°18.27’7” LS 119°28’26.7” BT. Titik ini memiliki jenis tanah Aluvial Cokelat Kelabu, lokasi tersebut merupakan lahan persawahan. Kondisi lahan pada titik ini memiliki  horizon A1 yang berwarna  Dark  Reddish  Brown,  sedangkan strukturnya Blocky Sub Anggular

  1. Titik 4

Pada lokasi pengamatan yang terakhir atau titikempat memiliki koordinat UTM 0778641 dan 9411096. Titik ini  memiliki jenis tanah Aluvial Cokelat Kelabu, lokasi tersebut merupakan lading yang ditumbuhi kacang-kacangan, semak, dan pohon jati. Tanah pada titik ini memiliki horizon A1 dan A2 yang berwarna Dark Reddish Brown,  sedangkan  strukturnya Blocky Sub Anggular.

  1. Kesesuaian Lahan

Adapun  hasil  skoring  yang  diperoleh  dengan  menggunakan  metode Effendi, maka didapatkan hasil bahwa di Desa Lassang secara umum berada pada ordo Sesuai (S), namun hanya titik empat yang berada pada Kelas I atau Sangat Sesuai, sedangkan ketiga titik lainnya berada pada kelas II atau cukup sesuai.

  1. Peta Kesesuaian Lahan

Setelah dilakukan skoring dan matching dilakukan metode overlay peta dimana beberapa peta tematik ditumpang tindihkan kemudian menghasilkan peta satuan lahan, peta tersebut kemudian diberi skor sesuai hasil skoring kesesuaian lahan, berikut peta Jenis Tanah, Penggunaan Lahan, Satuan Lahan dan Kesesuaian Lahan Desa Lassang,

KESIMPULAN

  1. Desa Lassang secara umum berada pada ordo S (sesuai) untuk ditanami Sorgum Manis (Sorgum bicolor (l) moench), namun berdasarkan hasil analisis dengan metode scoring hanya 1 titik yang berada pada kelas S1 atau Sangat Sesuai yaitu titik 4, sedangkan 3 titik lainnya berada pada kelas S2 atau cukup sesuai dengan beberapa penghambat seperti temperature udara hanya mencapai 32,29oC, curah  hujan  yang  terlalu  rendah  dengan  nilai  rata-rata  22 mm/tahun, kelembapan udara hanya 92,26 (%), selain itu juga kondisi drainase yang berada pada kategori terhambat, sehingga air tanah sulit dalam meloloskan air dan menimbulkan genanga Adapun hasil yang diperoleh dengan metode matching secara umum setiap titik memiliki variable yang tidak sesuai untuk ditanami Sorgum Manis (Sorgum bicolor (l) moench).
  1. Secara umum Desa Lassang sesuai untuk ditanami Sorgum Manis (Sorgum bicolor (l) moench), namun perlu diberikan perlakuan untuk mengatasi penghambat, dalam hal ini kondisi iklim yang kering. Hal ini dapat diatasi dengan mengoptimalkan jalur irigasi, membajak lahan, penyiraman lahan dengan menggunakan teknologi yang ada.

DAFTAR PUSTAKA

[1].      Hakim, M. (2010). Potensi Sumber Daya Lahan untuk Tanaman Tebu di Indonesia. Agrikultura, 21(1).

[2].      Kabartakalar.com.2016.Takalar Persiapkan 500 Hektar Lahan Pertanian Baru.                       http://kabartakalar.com/2016/takalar-persiapkan-500-hektar-lahan-pertanian-baru/. [15/3/2016].

[3].      Pabendon, Marcia B. , Aqil M. , dan Mas’ud S. 2012. Kajian Sumber Bahan Bakar Nabati Berbasis Sorgum Manis. Jurnal Iptek Tanaman Pangan : 7(2): 123-129.

[4].      Subagio, H. dan Syuryawati. 2013. Wilayah penghasildan ragam penggunaan sorgum untukpengembangan tanaman sorgum di Indonesia.Laporan Tengah Tahunan Balitsereal.