Call us on 0823-9388-3833

Home » Artikel » UNM Menuju World Class University

UNM Menuju World Class University

Oleh: Umar Ibsal (Dewan Pendamping LPM PENALARAN UNM Periode 2007-2009)

     Mengawali karirnya sebagai Rektor Universitas Negeri Makassar, Prof. Arismunandar langsung menggebrak dengan menggelar Tudang Sipulung dengan seluruh Civitas Akademika UNM, alumni serta stakeholder. Bahkan Dirjen Dikti, Fasli Jalal, Ph.D didatangkan dengan tujuan mensinergikan program UNM dengan Kebijakan Dasar Pengembangan Pendidikan Tinggi ke depan, yakni Strategi Jangka Panjang Pendidikan Tinggi (Higher Education Long Term Strategy) yang diarahkan untuk meningkatkan daya saing bangsa.

      Salah satu isu utama dalam pengembangan pendidikan tinggi adalah tercapainya mutu alumni yang bisa bersaing secara global. Mutu alumni mencerminkan mutu pendidikan perguruan tinggi yang bersangkutan. Untuk mencapai tujuan itu, Prof. Arismunandar selaku rektor baru mencanangkan UNM sebagai Universitas Kelas Dunia (World Class University) tahun 2025. Untuk mewujudkan mimpi World Class University, tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Diperlukan sinergitas seluruh civitas akademika untuk mewujudkan visi itu.

Agenda Mendesak UNM

             Universitas Negeri Makassar tidak bisa terlepas dari sejarah Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujung Pandang. IKIP yang dulunya dikenal sebagai pencetak “Oemar Bakry” kini tinggal sejarah. IKIP Ujung Pandang yang kemudian berganti nama menjadi UNM sejak 4 Agustus 1999 kini tidak lagi hanya mencetak calon guru, melainkan melahirkan sarjana sains, sarjana sastra, sarjana psikologi maupun sarjana ekonomi. Namun, benarkah citra UNM sebagai universitas telah keluar dari bayang-bayang IKIP yang hanya menelorkan calon guru?.

             Di usianya yang menapaki angka sembilan tahun, tentunya masih banyak hal yang harus dibenahi. Bayang bayang IKIP yang masih melekat di masyarakat hanyalah salah satu dari sekian banyak tumpukan “Pekerjaan Rumah” yang segera harus dikerjakan oleh rektor beserta para pembantunya yang telah dilantik beberapa waktu lalu. Mimpi besar Sang Rektor menuju UNM World Class University tentunya hanya menjadi utopia jika tidak dapat diterjemahkan oleh para pembantunya.

         Melihat realitas UNM hari ini, tidak salah jika masih banyak yang menyangsikan mimpi besar tersebut. Data Ditjen Pendidikan Tinggi tahun 2008, dari 2684 Institusi Pendidikan Tinggi di Indonesia, UNM belum masuk dalam ketegori 50 universitas terkemuka di Indonesia (Promising Indonesian Universities). Aturan akademik yang masih amburadul, perilaku dosen proyek yang sering mangkir memberi kuliah, serta relevansi kurikulum dengan kebutuhan stakeholder masih menjadi “Pekerjaan Rumah “ yang harus dibenahi oleh birokrasi UNM.

           Belum lagi jika berbicara mengenai infrastruktur yang mendukung proses belajar mengajar. Masih jauh dari memadai. Letak kampus yang tersebar di 6 lokasi menjadi salah satu tantangan UNM ke depan untuk meningkatkan berbagai fasilitas belajar mengajar di kampus tersebut. Bahkan, suatu ketika seorang supir angkutan umum (pete-pete) memasuki areal kampus parang tambung, dia menyangka kampus itu adalah hutan dengan rumput yang tingginya bahkan melebihi orang dewasa. Bagaimana mungkin menciptakan iklim akademik yang kondusif jika suasana kampus tidak mengkondisikan mahasiswa untuk betah di kampus? Maka jangan heran, tawuran dan aksi kekerasan mahasiswa sering terjadi di kampus Parang tambung karena suasana kampus yang memang kurang representatif untuk belajar.

        Pada level kemahasiswaan, tawuran mahasiswa seakan menjadi “SKS” setiap semester di lembaga ini. Belum lagi aksi demonstrasi mahasiswa yang kerap bermetamorfosis menjadi aksi anarkis menghiasi pemberitaan di media cetak dan elektronik lokal dan nasional. Bahkan jaket orange terkadang menimbukan efek traumatik bagi masyarakat ketika mahasiswa UNM turun ke jalan, meskipun dengan aksi yang simpatik. Aksi bakar ban di depan kampus yang cenderung menimbulkan rasa tidak simpatik seolah menjadi budaya untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa.

Quo Vadis Alumni UNM?

         Sejak berlakunya UU Guru dan Dosen No. 14/2005, UNM semakin diminati oleh masyarakat. Terbukti dengan semakin meningkatnya jumlah pendaftar SPMB/SNM PTN dari tahun ke tahun. Hal tersebut merupakan peluang sekaligus tantangan bagi UNM untuk tidak mengecewakan mereka yang telah lulus SPMB/SNM-PTN. Harapan mereka setelah lulus, mereka akan berprofesi sebagai guru dengan penghasilan yang besar sesuai dengan amanat undang-undang.

       Amanah pemerintah dengan menjadikan UNM sebagai lembaga sertifikasi guru dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan praktik jual beli sertifikat kegiatan ilmiah. Sudah menjadi rahasia umum, praktik jual beli sertifikat tumbuh subur seiring dengan maraknya kegiatan-kegiatan ilmiah sebagai salah satu syarat mendapatakan sertifikat pendidik. Lalu dimana tanggung jawab UNM yang telah menelorkan pendidik berlabel “pemburu sertifikat”.

            Belum lagi kita berbicara mengenai alumni UNM/IKIP. Sejak perubahan IKIP menjadi UNM, lembaga ini mempaunyai dua jenis alumni, yaitu alumni IKIP dan alumni UNM. Bagaimana nasib mereka yang telah menjadi sarjana non kependidikan? Seperti apa peran Ikatan Alumni (IKA) dalam menjembantani mereka dengan dunia industri? Atau mereka dengan “terpaksa” kembali harus kuliah mengambil sarjana pendidikan karena tidak laku di dunia industri?

             UNM kini tidak hanya memproduksi calon guru, melainkan sarjana yang “siap kerja” di dunia industri. Label sebagai universitas menjadi pertaruhan nama besar UNM. Lalu bagaimana pola kemitraan UNM dengan dunia industri? Kemana hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa? Jangan sampai setelah ujian, skripsi itu hanya dimuseumkan di perpustakaan dan tidak dapat diimplementasikan di dunia industri. Jangan sampai program sertifikasi guru kembali membuat UNM terlena dan dininabobokkan dengan program kependidikan sehingga meng-anaktirikan program non kependidikan.

                Penolakan yang sering dialami oleh para alumni ketika melamar pekerjaan di beberapa industri salah salah satunya karena kampus orange di cap sebagai kampus tawuran. Meskipun hanya segelintir saja yang terlibat, semua kena getahnya. Oleh karena itu, problem tawuran mahasiswa tidak bisa diselesaikan secara parsial, melainkan secara komprehensif dengan melibatkan seluruh civitas akademika UNM. Peran lembaga kemahasiswaan sangat strategis dalam mengarahkan segala potensi mahasiswa, perhatian seorang dosen penasehat akademik sangat penting dalam memantau perkembangan studi anak didiknya.

            Betapapun lengkapnya fasilitas kampus, kurikulum yang up to date, serta kemitraan dengan industri telah terjalin, ketika tawuran serta kekerasan mahasiswa masih menjadi budaya dalam penyelesaian masalah, maka semua fasilitas akan hancur dalam waktu singkat, iklim akademik akan terganggu serta UNM akan kehilangan kepercayaan dari dunia indusri. Oleh karena itu, untuk mewujudkan Mimpi Besar Sang Rektor, harus dimulai dengan meredam tawuran mahasiswa. Bisakah? Wallahu Alam…

Sumber: Tribun Timur, 12 Juli 2008

Related Post

Kekuatan dan kelemahan penelitian gabungan KEKUATAN DAN KELEMAHAN PENELITIAN GABUNGANPenelitian gabungan merupakan penelitian yang memadukan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pe...
Grounded Theory Grounded TheoryGrounded Theory atau teori dasar merupakan salah satu pendekatan dalam jenis penelitian kualitatif. Grounded Theory dapat pula dika...
Penelitian Korelasional A. Penelitian KorelasionalPenelitian korelasi atau korelasional adalah suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua ...
Jenis validasi penelitian Pengertian Validitas           Validitas sering diartikan dengan kesahihan. Suatu alat ukur disebut memiliki validitas bilamana alat ukur tersebut is...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *