Call us on 081340000336

Home » Artikel » Riset Sains dan Teknologi sebagai Jalan Menuju Kemitraan Global

Riset Sains dan Teknologi sebagai Jalan Menuju Kemitraan Global

Pembangunan Indonesia tidak hanya dapat dilakukan oleh pemerintah. Masyarakat perlu berpartisipasi untuk meningkatkan pembangunan di Indonesia. Pemuda khususnya, harus turut serta. Saking pentingnya pemuda, Presiden pertama Indonesia pernah mengatakan “Berikan aku sepuluh pemuda maka akan ku guncangkan dunia”. Menjadi seorang peneliti adalah salah satu jalan untuk membangun Indonesia dan siapa pun bisa menjadi peneliti. Pemuda yang meneliti disebut peneliti muda.

Satu dari 17 poin pembangunan SDGs adalah kerja sama internasional. Dua diantara prioritas pembangunan Nasional dari poin 17 menurut Wahyuningsih Darajati (2016), yaitu memperkuat peran dalam kerja sama global dan regional serta peningkatan kapasitas inovasi dan teknologi. Perwujudan kedua hal tersebut dapat dilihat dari jumlah kesepakatan kerja sama dan program-program di bidang sains dan/atau teknologi antar negara menurut tipe kerjasamanya. Melalui meneliti, pemuda dapat turut serta memenuhi poin ini. Penelitian yang dilakukan yaitu penelitian berkelanjutan tentang inovasi di bidang sains dan teknologi. Penelitian tersebut berorientasi pada terwujudnya kerjasama di bidang sains dan teknologi skala regional maupun global. Peneliti muda harus siap berkecimpung dalam dunia riset untuk mewujudkannya.

Kemampuan pemuda Indonesia dalam mengeksplor alam Indonesia yang kaya tidak perlu diragukan lagi. Kemampuan itu membuka peluang kerja sama antar negara. Seorang anak bernama Naufal Rizki, kelas 2 MTSN menemukan energi listrik dari pohon kedondong dimana penemuan ini menarik negara lain seperti Brunei dan Turki (Fauzan, 2017). Kalau pemerintah Indonesia serius memperhatikan penemu-penemu muda dengan menindaklanjuti penemuan itu dengan mengadakan riset, maka kerjasama dapat dilakukan. Kerjasama bukan lagi antara penemu dengan negara asing namun antar pemerintah.  Seperti penelitian tentang radioisotop, penelitian ini menghasilkan radioisotop yang dikirim ke luar negeri. Staf Ahli Menlu Bidang Ekonomi, Sosial dan Budaya, Kementerian Luar Negeri M Wahid Supriyadi menyebutkan bahwa radioisotop yang dibuat sudah diekspor ke Jepang, Korea, dan Malaysia (KKI, 2014).

Banyak dukungan bagi peneliti muda untuk terus berkarya dan berinovasi. Bruce Alberts, ilmuan The National Academy of Sciences, sebagai utusan Amerika Serikat, mengunjungi Indonesia untuk kerjasama di bidang IPTEK. Salah satu masalah yang dibahas yaitu kerjasama peneliti muda dan AS. Bruce Alberts mengatakan bahwa pihaknya ingin mengumpulkan peneliti muda yang berumur kurang dari 40-45 tahun untuk melakukan kerjasama penelitian antara Indonesia dan Amerika Serikat. Bruce juga menyampaikan bahwa pihaknya akan membantu menjembatani penyerapan hasil teknologi Indonesia pada industri di luar negeri (LIPI, 2010). Dukungan lain datang dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).  Melalui kegiatan Indonesia Science Expo (ISE), LIPI memanfaatkan kesempatan untuk menarik industri agar memakai inovasi peneliti Indonesia. LIPI mengadakan penghargaan bagi perusahaan asing di Indonesia terkait sejauh mana mereka menggunakan ilmu pengetahuan yang dikembangkan anak bangsa. Penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi pengusaha supaya mau memanfaatkan teknologi anak bangsa (Ngazis dan Angelia, 2017). Selain itu, LIPI juga mengirim peneliti muda untuk mengikuti ajang bergengsi kompetensi ilmiah internasional Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2017 di Los Angeles, California, Amerika Serikat 14-19 Mei 2017. Wakil Indonesia adalah pemenang Lomba Karya Ilmiah 2016 yang diadakan oleh LIPI (LIPI, 2017).

Selama ini, pemerintah melakukan kerjasama bilateral dengan beberapa negara melalui riset di bidang sains dan teknologi, salah satunya dengan Jerman. Indonesia dan Jerman menjalin kerja dalam riset sains dan teknologi yang tepat untuk menyediakan kebutuhan dasar bagi pengembangan industri, informasi, dan dokumentasi ilmiah. Kerja sama dalam bidang sains dan teknologi dikoordinasi oleh Kementrian Federal bidang Pendidikan dan Riset yang bekerja sama dengan Kementrian Riset dan Teknologi Indonesia. Indonesia dan Jerman mengembangkan sebuah program bernama SPICE (Science for the Protection of Indonesian Coastal Ecosystem), sebuah studi awal untuk merancang master plan kelautan Indonesia, peringatan dini tsunami, riset panas bumi, dan riset evaluasi sains teknologi untuk pembangunan. Dalam kerja sama ini juga, Jerman memberikan pelatihan pertukaran peneliti Jerman dan Indonesia. Periode 2000 sampai 2009, telah ada 13 bidang kerja sama antar Indonesia dan Jerman. Salah satu bidang kerja samanya adalah bioteknologi yang bertujuan untuk mengembangkan teknologi pada industri di kedua negara (Hardi Alunaza, 2014).

Daftar Pustaka

Alunaza, Hardi. 2014. Kerja Sama Bilateral Jerman dan Indonesia dalam Bidang Sains dan Teknologi. Yogyakarta: Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Ngazis, Amal Nur dan Mitra Angelia. 2017. Cara LIPI Bikin Industri Lirik Inovasi Anak Bangsa. http://teknologi.news.viva.co.id/ [20 Maret 2017].

KKI. 2014. Menristek: Radio Isotop Indonesia Diminati Asing. http://kebijakankesehatanindonesia.net [20 Maret 2017].

Darajati, Wahyuningsih. 2016. Upaya Pencapaian Target Tujuan Pembangunan    Berkelanjutan  (TPB) Indonesia. Jakarta: Kementerian PPN/ Bappenas.

Fauzan, Farhan. 2017. Naufal Rizki Bocah Penemu Energi Listrik dilirik Brunei dan Turki. www.detikinfo.com [15 Mei 2017].

LIPI. 2017. Indonesia, Negara Pertama Target AS Kerjasama Bidang Iptek. Lipi.go.id [16 Mei 2017].

LIPI. 2017. LIPI Kirim Peneliti Remaja Berkompetisi Sains Internasional di AS. Lipi.go.id [16 Mei 2017].