Artikel

Perspektif Penelitian Kuantitatif

Ilmu Pengetahuan berkembang karena adanya rasa ingin tahu manusia terhadap sesuatu. Rasa ingin tahu ini mendorong manusia untuk memuaskan rasa tersebut. Ada berbagai cara manusia memuaskan rasa ingin tahunya, salah satunya dengan pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiahnya yaitu dengan  melakukan penelitian terhadap sesuatu tersebut.

Penelitian didasarkan oleh beberapa paradigma yang secara sadar atau tidak sadar peneliti mengikuti paradigma yang membentuk cara berpikirnya. Dengan berbagai macam paradigm sehingga terbentuk dua penggolongan penelitian yaitu paradigma penelitian kuantitatif dan paradigma penelitian kualitatif. Bagi mahasiswa atau pemula untuk meneliti sebaiknya memahami terlebih dahulu paradigma-paradigma penelitian kuantitatif.

Pemilihan paradigma tergantung pada beberapa hal seperti pandangan peneliti, pelatihan dan pengalamannya, atribut psikologisnya, sifat masalah serta sasaran yang ingin dituju. Setiap paradigma mengunakan metodologi tersendiri. Metodologi mengacu pada prinsip dan filosofi yang digunakan peneliti dalam prosedur serta strategi penelitian serta asumsi yang mereka gunakan tentang sifat penelitiannya. Metodologi terdiri dari pemikiran yang mendasari pengumpulan data serta analisis. Metodologi berbeda dengan metode. Metode terdiri dari prosedur, strategi dan teknik untuk pengumpulan dan analisis data. Bedanya dengan metodologi ialah metodologi mengacu ke prinsip dan epistemologi yang didasarkan sebagai pijakan peneliti dalam prosedur dan strategi penelitiannya. Maka mungkin saja seorang peneliti menggunakan pendekatan yang predominan dalam masalah penelitiannya, namun juga menerima metode atau teknik dari ancangan lain.

Paradigma penelitian kuantitatif yaitu positivisme. Positivisme disebut juga  empirisme, objektivisme, kuantitatif.  Paradigma ilmiah ini berasal dari abad 19. Paradigma ini mendominasi penelitian dalam ilmu pengetahuan alam dan menjalar ke ilmu pengetahuan sosial dan perilaku. Akan tetapi, Perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan sosial menimbulkan kritik atas positivisme. Kritik tersebut menyangkut teori yang harus dikemukakan sebelum observasi; teori ; kompleksitas perilaku manusia dalam kehidupan sehari-hari diabaikan; yang dikaji hanya hubungan sebab dan akibat; tidak ada pengamat netral yang mampu mengukur secara objektif akan objek yang diamati, dan statistik dapat dimanipulasi untuk mendukung setiap penelitian. Kritik tersebut menghasilkan paradigma baru. Akan tetapi, walaupun terdapat kritikan terhadap paradigma ini tetap dipakai dan sempurnakan dari tahun ke tahun.

Paradigma Metodologi Penelitian Kuantitatif yaitu:

  1. Secara ontologi

Ontologi adalah sebuah arahan dalam filsafat yang berhubungan dengan sifat dan eksistensi Yang Ada (being). Ontologi berbicara Objek apa yang ditelaah? Bagaimana wujud yang hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, mengindera) yang membuahkan pengetahuan?. Jadi, menurut ontologi penelitian kuantitatif adalah realitas yang diperoleh bersifat objektif namun terbatas.

  1. Epistemologi

Bagaimana proses yang memungkinkan diterimanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar? Apa yang disebut kebenaran itu sendiri? Apakah kriteria kebenaran? Cara/teknik/sarana apa yang membantu kita dalam mendapatklan pengetahuan yang berupa ilmu?. Jadi, pada penelitian kuantitatif secara epistimologi, peneliti bebas artinya terlepas dari penilaian nilai dan bias.

  1. Retorika

Pada penelitian kuantitatif, retorika yang dihasilkan cenderung formal serta bersifat impersonal. Perhatikan kalimat di bawah ini: “Maka disimpulkan tidak ada korelasi antara jam buka perpustakaan dengan penggunaan ruang baca.”

  1. Tujuan

Pada penelitian kuantitatif bertujuan memperoleh pemahaman umum dan dari pemahaman umum atau generalisasi ini dapat dibuat perkiraan atau prediksi.  Penelitian kuantitatif bertujuan menghasilkan dalil yang bersifat universal. Hal ini nampak misalnya pada ilmu pengetahuan alam yang menghasilkan dalil yang berlaku di mana-mana. Hal itu tidak nampak pada metodologi kualitatif yang cenderung menghasilkan sebuah pemahaman yang terikat pada konteks. Misalnya pemahaman budaya di Makassar harus dilihat dalam konteks kultur Makassar.

  1. Permulaan

Penelitian  kuantitatif dimulai dengan anggapan bahwa peneliti itu tahu bahwa dia tidak tahu.  Karena dia tidak tahu maka mengadakan penelitian.

  1. Fenomena

Pada Penelitian kuantitatif fenomena yang dituju berfokus pada bagian-bagian sehingga disebut atomistik sedangkan pada kualitatif berfokus pada keseluruhan, jadi sifatnya holistik.

  1. Logika

Pada Penelitian kuantitatif, logika yang digunakan berpijak pafa deduksi hipotetis.

Deduksi artinya peneliti mulai dari umum ke spesifik artinya peneliti mulai dengan teori umum dan dari teori tersebut ditarik sebuah kesimpulan. Peneliti kemudian mencari bukti empiris dengan menguji hipotesis melalui pengumpulan data dam kemudian menganalisisnya. Deduksi umumnya digunakan dalam ilmu pengetahuan alam.

  1. Teori

Penelitian kuantitatif bebas dari waktu dan konteks artinya waktu serta konteks tidak mempengaruhi kajiannya. Hal ini berbeda dengan kualitatif yang terikat pada waktu dan konteks.

  1. Ukuran

Pada penelitian  kuantitatif dikenal istilah keandalan (reliability), validitas internal dan eksternal serta objektivitas. Istilah keandalan digunakan untuk menjelaskan sifat yang stabil, konsisten dari metode penelitian, instrumen, data atau hasil yang dapat dipercayai (dependable).  Bila desain sebuah penelitian bersifat andal maka penemuan penelitian dapat diulang atau ditiru dan dapat digeneralisasikan di luar sebuah penelitian.  Replika yang eksak dari sebuah kajian, termasuk prosedurnya, dapat digunakan untuk menilai keandalan disain. Untuk replika konseptual hanya ide atau konsepnya yang dapat digunakan untuk menilai kesahihan (validity) ekstern dari sebuah disain. Penelitian kuantitatif mensyaratkan bahwa orang lain dapat mengukur konsep dan membangunnya. Keandalan terbagi atas beberapa jenis sebagaimana diuraikan di bawah ini.

  1. Penarikan Sampel

Pada penelitian kuantitatif, penarikan dilakukan secara acak. Untuk memperoleh contoh dari populasi, pembaca harus melakukan sebuah proses yang disebut penarikan contoh atau “sampling”. Agar contoh yang diambil dianggap representatif maka contoh tersebut harus memenuhi ketiga syarat seperti di bawah ini :

  • Populasi bersifat homogen artinya ciri subjek penelitian harus tercakup.
  • Jumlah contoh cukup memadai
  • Teknik pemilihan contoh cukup dan benar.

Secara umum proses penarikan contoh dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu:

  • Penarikan contoh peluang (probability sampling). Ada yang menyebutnya sebagai penarikan contoh sebanding dan
  • penarikan contoh non peluang atau ada yang menyebutnya sebagai nons ebanding (nonprobability sampling)

   11. Data

Data Penelitian kuantitatif lazimnya data numerik, dapat diukur. Atribut yang diukur serta unit ukuran.

  1. Pengumpulan Data

Penelitian kuantitatif menggunakan kuesioner, tes atau percobaan guna pengumpulan data. Instrumen yang digunakan merupakan instrumen benda mati seperti skala, komputer, perekam.

  1. Analisis Data

Penelitian  kuantitatif menggunakan analisis statistika objektif guna menguji hipotesis. Maka sering dijumpai hipotesis n ditolak atau diterima pada tingkat kepercayaan 0.95.

Daftar Pustaka

Soetriono dan Hanafie, S, R. 2007. Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Andi Offset

Sulistyo dan Basuki. 2005. Metodologi Kuantitatif dan kualitiattif dalam penelitian ilmu perpustakaan dan informasi. UI Depok

Tiro, M, A, dan ILyas, B. 2008. Metodologi Penelitian. Makassar : Andira Publisher

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close