Artikel

Perspektif Penelitian Kualitatif

Perspektif penelitian dalam hal ini merupakan cara pandang peneliti terhadap tingkat kebebasan kepada responden dalam memberikan data atau informasi yang hendak disajikan. Pendekatan kualitatif adalah suatu pendekatan yang berperspektif emik, yakni pendekatan penelitian yang pengambilan datanya dalam bentuk narasi, cerita detail, ungkapan dan bahasa asli hasil konstruksi para responden atau informan, tanpa ada evaluasi dan interpretasi dari peneliti. Data dalam bentuk cerita detail tersebut hanya dapat diperoleh, karena teknik pengumpulan datanya adalah wawancara mendalam dan atau observasi, bukan kuesioner. Dengan demikian tingkat kebebasan perspektif emik yang diberikan kepada responden atau informan sangat tinggi (Berutu dalam Hamidi, 2013).
Perspektif penelitian yang digunakan oleh seorang peneliti adalah kualitatif yang memiliki tahapan berfikir kritis-ilmiah, yang mana seorang peneliti memulai berfikir secara induktif, yaitu menangkap berbagai fakta atau fenomena-fenomena sosial, melalui pengamatan di lapangan, kemudian menganalisisnya dan kemudian berupaya melakukan teorisasi berdasarkan apa yang diamati itu (Berutu dalam Bungin, 2013).
Pendekatan penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Filsafat ini sering juga disebut sebagai paradigma interpretif dan konstruktif, yang memandang realitas social sebagai sesuatu yang utuh, kompleks, dinamis, penuh makna, dan hubungan gejala bersifat interaktif.
Pendekatan ini memandang bahwa kenyataan sebagai suatu yang berdemensi jamak, utuh dan merupakan satu kesatuan. Karena itu tidak mungkin disusun satu rancangan penelitian secara detail dan rancangan penelitian bisa berkembang selama penelitian berlangsung. Dalam pendekatan ini, peneliti dan obyek yang diteliti salain berintraksi dan proses penelitiannya bisa dilakukan dari luar maupun dari dalam dengan banyak melibatkan keputusan. Dalam pelaksanaannya peneliti berfungsi sebagai alat penelitian.
Adapun yang dimaksud dengan pendekatan penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditunjukkan untuk mendiskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas social, sikap, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Data dihimpun dengan pengamatan yang seksama, mencakup deskripsi dalam konteks yang mendetail disertai catatan hasil wawancara yang mendalam, serta hasil analisis dokumen.
Penelitian kualitatif mempunyai dua tujuan utama yaitu:
1. Menggambarkan dan mengungkap (to describe and explore).
2. Menggambarkan dan menjelaskan (to describe and explain)
Dalam penggunaan pendekatan ini, hasil penelitian merupakan deskripsi interpretasi yang mana peneliti berusaha menjelaskan dan mendiskripsikan setiap obyek yang ditelitinya bersifat tentative dalam konstek waktu dan situasi tertentu. Kebenaran hasil penelitian lebih banyak didukung melalui kepercayaan berdasarkan konfirmasi dengan pihak-pihak yang diteliti. Pendekatan ini sering disebut juga dengan pendekatan kualitatif (Azzuracie. 2013).
1. Filosofi Penelitian Kualitatif
a. Tradisi Jerman yang Kantian dan Hegelian dalam Penelitian Kualitatif
Dalam ilmu sosial dan sosiologi terdapat tradisi yang melatarbelakangi munculnya aliran teori beserta metodologinya di panggung ilmu sosial.
1) Tradisi pemikiran Prancis dan Inggris yang positivisme atau sering disebut empirisme, behaviorisme, naturalisme dan sainstisme. Tradisi ini berkembang karena dipengaruhi oleh tradisi-tradisi ilmu kealaman yang tergolong Aristotelian dimana dalam tradisi tersebut berpandangan bahwa realitas itu hakikatnya adalah materi dan kealaman.
2) Tradisi pemikiran Jerman yang lebih humanistik, yaitu memandang bahwa manusia sebagai manusia dipengaruhi oleh filsafat rasionalisme (idealisme) Plato. Tradisi pemikiran Jerman yang Platonik, humanistik dan idealistik menjadi akar tradisi pendekatan penelitian Kualitatif.
Teori plato menimbulkan Kant dan Hegel membentuk tradisi pemikiran tersendiri. Kan dan Hegal menolak dengan adanya pemikiran Posivitisme Prancis dan Inggris. Kan dan Hegel beralasan bahwasanya Prancis dan Inggris yang terlalu empirisme karena pada faktanya sejarah manusia banyak diwarnai ole ide-ide besar yang bukan hasil dari pengalaman empirik. Menurut Kant dan Hegel, jiwa manusia adalah sebagai produser ide-ide dan karenanya sejarah umat manusia merupakan manifestasi dari sejarah ide-ide yang telah diciptakan oleh manusia itu sendiri. Perjalanan sejarah umat manusia bukan sekedar perubahan peristiwa satu ke peristiwa lainnya, melainkan perjalanan ide-ide dan kreasi manusia selaku makhluk sadar dan bertujuan (purposive creators) (Bungin, 2003).
Ide-ide dan kreasi manusia ini merupakan fakta fenoenologis, dimana dalam memahaminya perlu adanya proses penghayatan yaitu proses proses interpreventive understanding, oleh Weber disebut “verstehen”. Hal tersebut sesuai dengan konsep tindakan sosial (social action) dimana dari rangkaian pemikiran tersebut memunculkan pemikiran tentang pendekatan penelitian Kualitatif. Kualitatif merupakan sebuah upaya menggunggat relevansi tradisi prancis dan Inggris (Positivistik) mengandalakan empirisme untuk menjelaskan fenomena sosial dan masalah manusia. Oleh sebab itu, pemikiran positivistic dipertanyakan reasonabilitasnya untuk memahami masalah manusia (fenomena sosial). Dari sinilah tampak diperlukannnya suatu pendekatan tersendiri dan demikianlah yang ditawarkan oleh sebuah pendekatan penelitian kualitatif (Bungin, 2003).
3. Aliran Teori yang mendasari penelitian kualitatif
a. Teori tentang budaya
Teori tentang budaya dapat disederhanakan menjadi dua kelompok besar yaitu
1) Airan teori yang memandang budaya sebagai suatu system atau organisasi makna. Budaya dianggap sebagai pita kesadaran tempat tersimpan memori kolektif suatu kelompok masyarakat tentang mana yang dianggap benar, mana yang dianggap salah, mana yang dianggap baik, mana yang dianggap buruk, mana yang dianggap berharga, dan mana yang dianggap kurang berharga.
2) Aliran teori yang memandang budaya sebagai system adaptasi suatu kelompok masyarakat terhadap lingkungannya. Dalam hal ini budaya ditempatkan sebagai keseluruhan cara hidup suatu masyarakat yang diwariskan, dipelihara, dan dikembangkan secara turun temurun sesuai dengan tuntutan lingkungan yang dihadapi.
b. Teori fenomenologi
Teori fenomenologi berpendapat bahwa apa yang nampak dipermukaan termasuk pola perilaku manusia sehari-hari hanyalah suatu gejala atau fenomena dari apa yang tersembunyi di “kepala” sang pelaku.
c. Teori etnomedologi
Teori etnomedologi pada dasarnya relative serupa dengan aliran fenomenologi sebab kehadiran etnomedologi itu sendiri juga diilhami oleh fenomenologi.
d. Teori interaksionisme simbolik
Teori interaksionisme simbolik, teori ini memiliki tiga premis yaitu;
1) Manusia bertindak terhadap suatu (benda, orang atau ide) atas dasar makna yang diberikan kepada sesuatu itu.
2) Makna tentang sesuatu itu diperoleh, dibentuk, direvisi melalui proses interaksi dalam kehidupan sehari-hari
3) Pemaknaan terhadap sesuatu dalam dalam bertindak atau berinteraksi tidaklah berlangsung mekanisme, melainkan melibatkan proses intepretasi. (Bungin, 2003)

Daftar Pustaka
Azzuracie. 2013. Pendekatan Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. (Online) (https://azzuracie.wordpress.com/2013/04/25/pendekatan-penelitian-kualitatif-dan-kuantitatif/) [30 Januari 2016)
Berutu. 2013. Perpektif/Paradigma Kajian. Universitas Sumatera Utara. (Online) (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/41620/4/Chapter%20II.pdf) [30 Januari 2016]
Bungin. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta : PT Grafindo Persada.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close