Artikel

PEREMPUAN-PEREMPUAN HEROIK

Peran perempuan dalam kehidupan tidak boleh dipandang sebelah mata dan tidak boleh dibatasi hanya karena anggapan bahwa kondisi fisik perempuan lebih lemah dibandingkan dengan laki-laki. Di dunia ini, perempuan terbukti memiliki peran yang sangat penting dan strategis dalam berbagai bidang mulai dari bidang politik, kesusasteraan, seni, ilmu pengetahuan, musik, reformasi sosial, hiburan, petualangan, lingkungan, dan olahraga. Jadi, perempuan tidak hanya berada di dapur seperti anggapan orang-orang yang berpikiran primitif . Dalam buku Wanita-Wanita yang Mengubah Dunia karangan Rosalind Horton & Sally Simmons, banyak disebutkan nama perempuan hebat yang mempengaruhi dunia. Cleopatra, Boudicca, Hildegard dari Bingen, Eleanor dari Aquitaine, Catherine de Medici, Elizabeth I, Catherine yang Agung, Eleanor Roosevelt, Megawati Sukarno Putri, Benazir Bhuto, Jiang Qing, Rosa Luxemburg, Ratu Victoria, dan Emmeline Pankhurst adalah sederetan nama dari kaum perempuan yang berkiprah di bidang politik dan pemerintahan.

Dalam bidang science, tokoh yang terkenal antara lain Dorothy Hodgkin dan Marie Curie. Dalam bidang kesusateraan dan jurnalisme, tokoh wanita yang terkenal antara lain Virginia Woolf, Jane Austen, Germaine Greer, dan Harriet Beecher Stowe. Masih banyak lagi nama-nama perempuan dalam buku tersebut yang tersebar pada berbagai bidang yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Mereka adalah perempuan yang memberikan pengaruh terhadap dunia. Mereka menjadi pahlawan buat perempuan. Sebagai contoh, Megawati Soekarno Putri telah mampu membuktikan bahwa perempuan dapat menjadi kepala negara. Beliau mampu mengangkat derajat, dan memberikan semangat yangtinggi kepada kaum perempuan untuk berani mengambil peran dalam bidang politik dan pemerintahan.Tidaklah heran jika sekarang ini, partisipasi kaum perempuan dalam dunia politik dan pemerintahan Indonesia semakin meningkat.Dalam konteks yang lebih luas, mereka tidak hanya menjadi pahlawan untuk sesama kaum perempuan, tetapi memang mereka mampu menjadi pahlawan di bidang dan komunitas atau lembaganya.

Megawati Soekarno Putri hingga hari ini masih menjadi idola di partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Beliau adalah sosok pahlawan buat PDIP. Ternyata, sifat kepahlawanan perempuan juga nampak begitu mencolok di LPM Penalaran UNM. Hal ini dapat dilihat pada keaktifan anggota-anggota perempuan yang begitu tinggi dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan organisasi. Perannya pun tidak hanya berada pada seksi komsumsi saja dalamkepanitiaan, atau bendahara umum dalam kepengurusan yang biasa kita lihat, melainkan sudah merambah ke jabatan-jabatan strategis lainnya pada struktur organisasi dan panitia. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya menjumpai sederatan nama perempuan yang menjadi pahlawan di Penalaran. Misalnya Farida Aryani, Nurhaeda Modi, Maryam, Nur Ikrar Aisfar, Yusnaeni, Muzayyanah, dan Meilisa F. Hatta. Mereka aktif dalam organisasi, bahkan pada saat sebagian dari mereka telah menyandang status sebagai alumni. Mereka menjadi guru dan pamong bagi anggota yang lebih muda, khususnya yang baru dikukuhkan menjadi anggota.

Pada saat sekarang ini, sifat kepahlawanan itu tak pudar bahkan menurun kepada kader-kader perempuan yang baru. Pada periode kepengurusan ini, Pelatihan Metodologi Penelitian dan Orientasi Anggota Baru (PMP-OAB) yang notabenenya adalah even terpanjang di Penalaran, diketuai oleh seorang perempuan. Bukan hanya itu, sekretaris, bendahara, dan koordinator seksi acara juga dipegang oleh perempuan. Mereka adalah Nurhasanah dari Jurusan bahasa Inggris, Indah Arnaelis dari jurusan Biologi, Ika Syahreni dari Jurusan Fisika, dan Nurhasanah dari jurusan PGSD. Pada saat yang bersamaan dengan pelaksanaan PMP Indoor, juga dilaksanakan Workshop Program Kreativitas Mahasiswa Karya Tulis (PKM-KT). Perlu persiapan yang matang dan kerja keras untuk menyukseskan kegiatan ini. Namun alhamdulillah, workshop ini berjalan lancar, berkat peran aktif dari Mutmainnah Fil Jannah, sang koordinator tim kerja yang merangkap sebagai panitia PMP-OAB. Sekali lagi, beliau adalah seorang perempuan. Tentunya masih banyak lagi nama yang tak bisa disebutkan satu per satu disini, sebagian dari mereka lebih banyak berada dibelakang panggung kedua even ini. Nah, kehadiran mereka bukanlah sebuah kebetulan.

Peran strategis yang mereka pegang bukan berarti mereka serba bisa atau lebih kuat dari pada yang lain, termasuk dari kaum laki-laki. Bukan pula mereka tak bisa merasakan sakit. Namun, mereka memiliki fighting spirit, loyalitas, dan keinginan yang tinggi untuk menolong Penalaran. Uraian ini tidak dimaksudkan untuk memberikan perbandingan terhadap anggota perempuan dengan anggota laki-laki. Namun setidaknya, uraian ini dapat memberikan pengertian bahwa setiap lembaga atau komunitas selalu membutuhkan orang-orang yang dapat menjadi pahlawan dan semua orang memiliki kesempatan yang sama. Pahlawan adalah mereka yang berusaha semampunya, sesuai dengan kapasitas dan porsinya untuk berguna bagi orang lain disekitar dan lembaganya. Pahlawan tidak selamanya dapat menolong setiap saat, tetapi pahlawan mengetahui cara untuk menolong dirinya sendiri kemudian berani berbagi kekuatan dengan yang lain.

Nah, Jelaslah bahwa menjadi pahlawan di Penalaran tak mesti berkorban sebesar yang lainnya apalagi harus menjadi korban, tetapi berkorban sesuai dengan porsi dan kapasitasnya. Tak perduli ia perempuan atau laki-laki, anggota atau alumni, senior atau junior. Bahkan mereka yang hanya mampu memberikan doa pun bisa jadi adalah pahlawan dalam pengertian tersebut. Lebih jauh lagi, mereka yang tidak berdoapun untuk Penalaran tetapi masih mencintai Penalaran patutnya disyukuri. Mungkin saja jalan keluar yang didapatkan pada setiap kondisi terburuk lembaga ini karena Tuhan mengasihi setelah melihat lembaga ini masih memiliki banyak anggota dan alumninya yang mencintainya. Tinggallah kita berusaha mengetahui porsi dan kapasitas kita masing-masing. Misalnya, anggota dari kalangan Pengurus Harian seharusnya berada pada garda terdepan mempertahankan eksistensi dan pengembangan lembaga. Namun terlepas dari itu, jika kita bisa memberi lebih banyak, mengapa harus sedikit. Jika kita tahu mengapa harus melakukannya dan memang kita dapat melakukannya, mengapa harus menunggu orang lain. Salam ilmiah, Buat semua keluarga besar LPM Penalaran UNM

22 February 2011 01:47 Wahyuddin MY

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close