Artikel

Perempuan Dewasa yang berperan Ganda di era Modernisasi.

Kemajuan zaman berkaitan dengan berkembangnya informasi dan tingkat kemampuan intelektual manusia. Bersama itu peran perempuan dalam kehidupan berubah untuk menjawab tantangan zaman, termasuk peran perempuan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga. Biasanya, tulang punggung kehidupan keluarga adalah pria atau suami. Tapi kini perempuan banyak yang berperan aktif untuk mendukung ekonomi keluarga. Perempuan tidak sekedar menjadi konco wingking, tetapi juga banyak mempunyai peran dalam keluarga. Hal ini berkaitan dengan kesetaraan gender.

Kesetaraan gender pada zaman sekarang menjadi isu penting. Gagasan tentang kesetaraan gender, membuka kemungkinan perempuan untuk berapresiasi secara bebas di depan masyarakat. Dimulai sejak era R.A Kartini, telah membuat kedudukan emansipasi perempuan lebih maju dibandingkan dahulu. Pernyataan ini didukung dengan adanya Undang-Undang yang telah dibuat untuk menyetarakan gender perempuan dan laki-laki, yang menegaskan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama. Demikian juga UU HAM yang menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai HAM yang tidak berbeda

Tidak hanya dibuktikan dalam aturan perundang-undangan, pentingnya kesetaraan gender tercermin pada aturan perubahan ketenagakerjaan yang membawa pada perubahan positif dalam kualitas hidup perempuan. Salah satu contohnya adalah, semakin banyak program yang ditujukan untuk membantu perempuan mendapat akses pada modal. Contoh lain adalah pengesahan konvensi mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita, yaitu pada Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 7 Tahun 1984 dengan menimbangkan bahwa segala warga negara sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan, sehingga segala bentuk diskriminasi terhadap wanita harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Menurut konsep ibuisme, kemandirian perempuan tidak dapat dilepaskan dari perannya sebagai ibu dan istri, perempuan dianggap sebagai makhluk sosial dan budaya yang utuh apabila telah memainkan kedua peran tersebut dengan baik. Mies (Abdullah, 1997) menyebutkan fenomena ini house wifization kerena peran utama perempuan adalah sebagai ibu rumah tangga yang harus memberikan tenaga dan perhatiannya demi kepentingan keluarga tanpa boleh mengharapkan imbalan, prestise serta kekuasaan. Bahkan tak jarang perempuan mempunyai tingkat penghasilan yang lebih memadai untuk mencukupi kebutuhan keluarga dibanding suaminya. Dengan pendapatan yang diperoleh, dapat dikatakan bahwa perempuan ikut berusaha untuk keluar dari kemiskinan meski semua kebutuhan keluarga tidak terpenuhi.

Dalam kehidupan rumah tangga, peran seorang wanita sangatlah penting. Peran wanita berkisar soal mengurus rumah tangganya saja, merawat dan mendidik anaknya. Peran tersebut merupakan kodrat dan kewajiban yang harus dijalani oleh wanita (Mulyawati, 1986). Seiring dengan perkembangan jaman yang semakin maju, status wanita mengalami perubahan dalam berbagai hal. Saat ini wanita telah memperoleh pendidikan dan kesempatan bekerja yang sama dengan pria. Hal ini dapat terlihat dari banyaknya saat ini wanita yang berperan ganda, yaitu menjadi istri bagi suaminya, menjadi ibu bagi anak-anaknya dan bekerja di berbagai bidang atau memiliki profesi lain.

Peran ganda perempuan bukan lagi sebagai hal yang asing. Perempuan tidak lagi hanya berperan sebagai ibu rumah tangga yang menjalankan fungsi reproduksi, mengurus anak dan suami atau pekerjaan domestik lainnya, tetapi sudah aktif berperan di berbagai bidang kehidupan baik sosial, ekonomi, maupun politik. Kecenderungan peran perempuan mempunyai peran ganda dalam keluarga miskin meningkat.

Wanita yang menjadi istri dan ibu sekaligus pekerja, cenderung membawa mereka pada work-family conflict. Meskipun laki-laki juga dapat mengalami workfamily conflict tetapi wanita tetap menjadi sorotan utamanya, karena berkaitan dengan tugas utama mereka sebagai ibu dan istri. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Cinamon dan Rich (2002) menunjukkan wanita atau ibu yang bekerja ternyata lebih sering mengalami work family conflict dan lebih menekankan pentingnya  family work conflict, ketika keluarga sebagai domain yang paling penting bagi kebanyakan wanita mempengaruhi pekerjaan dapat menjadi gangguan bagi mereka.

Setiap pilihan dalam kehidupan selalu mempunyai resiko. Jika buahnya manis, maka besar pula resiko dalam perjuangannya. Memang setiap manusia, anggota keluarga, bahkan mahluk di bumi ini mempunyai rezeki masing-masing yang telah diatur. Namun harus diingat, jika rezeki dan nasib yang Allah tentukan, besar-kecilnya sesuai ikhtiar kita.

Kehidupan adalah pilihan.

Berkarir, ibu rumah tangga atau keduanya.

Lalu seberapa bijak kita memilih jalan kehidupan.

Hingga merasa tak ada yang dikorbankan atas sebuah pilihan.

Daftar Pustaka

Abdullah. 1997. Sangkan Peran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Mulyawati. 1986. Peran Ganda Seorang Wanita. Yogyakarta: Pustaka Semesta Pers.

Cinnamon, R. G. and Y. Rich. 2002. Gender differences in the importance of work and family roles: Implication for work-family conflict. Sex Roles: A Journal of Research. 47: 531-541

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close