Artikel

Pengentasan Kemiskinan Bagian dari Solusi untuk Mencapai Cengkeh Berkelanjutan

Kerusakan lingkungan disebabkan oleh pola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan. Oleh karena itu, Sustainable Consumption and Production (SCP) dipandang sebagai instrumen dasar untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan memperkuat efisiensi sumber daya. Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya menegaskan bahwa Indonesia akan berkomitmen menuju konsumsi dan produksi berkelanjutan. Komitmen ini merupakan upaya pengurangan dampak negatif lingkungan yang berkenaan dengan kegiatan produksi dan konsumsi masyarakat setiap harinya.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Yayasan Pembangunan Berkelanjutan (YPB) dengan didukung oleh Perserikatan Bangsa-bangsa untuk lingkungan hidup (UNDEP) melakukan sosialisasi seperti mengadakan kegiatan workshhop, pelatihan, seminar dan lain-lain dalam rangka mengajak masyarakat/konsumen agar memilih produk yang ramah lingkungan. Selain itu, juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan pengkajian mengenai pemanfaatan sumber daya alam yang selama ini belum tersentuh oleh dunia industri, misalnya bagian pada tanaman cengkeh.

Menurut Sjahril (2011), cengkeh merupakan tanaman rempah asli Maluku Utara dan telah di perdagangkan serta dibudidayakan secara turun-temurun dalam bentuk perkebunan rakyat.  Meskipun sering dikritik, tanaman cengkeh telah membawa kemakmuran yang cukup besar untuk pedesaan di Indonesia. Namun, dengan meningkatnya permintaan pasar atas tanaman cengkeh berkelanjutan, masa depan petani cengkeh skala kecil masih tidak jelas. Seringkali tidak memiliki modal yang diperlukan untuk berinvestasi dalam praktek agronomi yang lebih baik, yang membatasi kebutuhan untuk ekspansi perkebunan lebih lanjut, beberapa petani skala kecil terancam diblokir dari pasar dengan sedikit alternatif.

Mayoritas petani cengkeh skala kecil yang menggunakan praktek pertanian tidak berkelanjutan cenderung terkena guncangan, seperti fluktuasi harga, dan kurangnya peluang diversifikasi pendapatan mereka. Mereka cenderung tidak memiliki akses ke sumber daya keuangan seperti kredit, pinjaman, teknologi, sertifikat tanah atau keterampilan untuk terlibat dalam pertanian dengan cara yang berkelanjutan. Akibatnya, hasil panen petani cengkeh skala kecil lebih rendah hingga 50 persen dari rata-rata industri, dan ini mendorong masyarakat untuk meningkatkan pendapatan mereka dengan merambah ke wilayah baru, bahkan dalam beberapa kasus ke kawasan lindung.

Secara kritikal, para petani ini bukan satu-satunya yang bertanggung jawab untuk perambahan hutan. Kasus pengadilan yang sedang berlangsung yang melibatkan perusahaan perkebunan besar, tentang deforestasi dan kebakaran hutan baru-baru ini, menyoroti bahwa sektor swasta juga berperan. Namun, mengingat petani skala kecil bertanggung jawab atas sekitar 40 persen dari perkebunan cengkeh Indonesia, mereka memberi kesempatan penting untuk meningkatkan target keberlanjutan industri tanaman cengkeh dan pada saat yang sama meningkatkan mata pencaharian di daerah pedesaan.

Inovasi dan diversifikasi secara drastis diperlukan jika Indonesia ingin tetap kompetitif di pasar cengkeh, mempertahankan pembangunan ekonomi dan secara drastis mengurangi dampak industri terhadap lingkungan. Pengentasan kemiskinan dan pelestarian lingkungan dapat dilakukan secara bersamaan tetapi membutuhkan investasi untuk mendukung praktek yang lebih baik, teknologi yang efisien, industri penunjang dan peluang baru. Salah satu inovasi yang dapat dilakukan oleh petani yaitu dengan memanfaatkan semua bagian yang terdapat pada tanaman cengkeh.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ellizar (2009) menyatakan bahwa pada semua  bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, nektar, bunga, dan buah mengandung senyawa flavonoid, sedangkan pada bijinya yang juga mengandung senyawa alelopati. Senyawa alelopati merupakan senyawa yang bersifat toksik yang dihasilkan oleh suatu tanaman. Senyawa alelopati dari tumbuhan atau mikro organisme yang berpengaruh sebagai herbisida sangat memberikan insentif bagi kesehatan dan kelestarian lingkungan (Faqihhudin dkk, 2014). Menurut Faqihhudin, dkk (2014) mengisolasi senyawa ailantona dari kulit akar pohon Ailanthus altissima yang berpengaruh sebagai herbisida pra dan pasca-tumbuh.

Masyarakat juga perlu didorong oleh pemerintah dengan memainkan peran penting dalam melaksanakan kebijakan. Dalam kasus tanaman cengkeh, contoh tersebut termasuk mendukung inovasi dan diversifikasi tanaman cengkeh menjadi minyak cengkeh, eugenol dari minyak cengkeh dan sebagainya. Sehingga, masyarakat petani cengkeh dapat melakukan produksi cengkeh yang berkelanjutan.

Referensi :

Ellizar dan Maaruf Y. 2009. Penentuan Kandungan Flavonoid dari Ekstrak Metanol Cengkeh FMIPA, UII. Yogyakarta.

Faqihhudin dkk. 2014. Penggunaan Herbisida IPA-Glifosat terhadap Pertumbuhan, Hasil dan Residu pada Jagung. Jurnal Ilmu Pertanian Vol. 17. No.1. Bogor,  Jawa Barat.

Sjahril, Rinaldi, 2011. Bahan Ajar Mata Kuliah Herbisida dan Aplikasinya. Universitas Sumatera: Sumatera.

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close