Call us on 0823-9388-3833

Home » Artikel » Penerapan Metode DPL (Daerah Perlindungan Laut) pada Terumbu Karang sebagai Upaya Konservasi Pelesatarian Ekosistem Laut yang Berkelanjutan

Penerapan Metode DPL (Daerah Perlindungan Laut) pada Terumbu Karang sebagai Upaya Konservasi Pelesatarian Ekosistem Laut yang Berkelanjutan

Berbicara mengenai indonesia, pastinya akan membahas mengenai kepulauan negera ini yang begitu banyak. Menurut penelitian Sudiono (2008) Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki sumberdaya alam hayati laut yang potensial seperti sumberdaya terumbu karang. Berdasarkan hasil penelitian, luas terumbu karang Indonesia adalah 42.000 km2 atau 16,5 % dari luasan terumbu karang dunia yaitu seluas 255.300 km2 dengan 70 genera dan 450 spesies. luas terumbu karang Indonesia adalah 42.000 km2 atau 16,5 % dari luasan terumbu karang dunia yaitu seluas 255.300 km2 dengan 70 genera dan 450 spesies. Terumbu karang dan segala kehidupan yang terdapat di dalamnya merupakan salah satu kekayaan alam yang bernilai tinggi. Manfaat yang terkandung di dalam ekosistem terumbu karang sangat besar dan beragam, baik manfaat langsung dan manfaat tidak langsung terhadap ekosistem.
Salah satu ekosistem utama ragam biota asosiatif dan keindahan yang mempesona yakni terumbu karang yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi. Selain berperan sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak dan arus kuat, terumbu karang juga mempunyai nilai ekologis seperti sebagai habitat, tempat mencari makanan, tempat asuhan dan tumbuh besar serta tempat pemijahan bagi berbagai biota laut. Nilai ekonomis terumbu karang yang menonjol adalah sebagai tempat penangkapan berbagai jenis biota laut konsumsi dan berbagai jenis ikan hias, bahan konstruksi dan perhiasan, bahan baku farmasi dan sebagai daerah wisata serta rekreasi yang menarik (Erni, 2006).
Menurut Kusumaastuti (2004) Terumbu karang merupakan bagian dari ekosistem laut yang sangat rentan terhadap gangguan seperti polusi, penambanngan karang, tangkap lebih (over fishing), penggunaan bahan peledak seperti bom dan racun sianida dan cara tangkap para pelaku yang tidak bersahabat dengan lingkungan yang mampu mengganggu kondisi lingkungan peisisir dan laut. Menurut data dari DKP, (2003) kerusakan-kerusakan yang dapatt menyebabkan kerusakan terumbu karang adalah pencemaran perairan oleh berbagai limbah yang berasal dari kegiatan industry, permukiman, pelabuhan, dan pertanian serta perikanan.
The World Conservation Union (IUCN) dan The World- Wide Fund for Nature (WWF) saat ini sedang melaksanakan sejumlah prakarsa yang berkaitan dengan pengelolaan terumbu karang, baik di lapangan seluruh dunia dan arena kebijakan politik regional dan internasional dunia. Westmacott (2000) dalam bukunya mengungkapkan bahwa peranan daerah perlindungan laut (DPL) dapat memegang peranan penting bagi pelestarian dan pengelolaan terumbu karang nantinya dengan cara; Melindungi daerah terumbu karang yang tidak rusak yang dapat menjadi sumber larva dan sebagai alat untuk membantu pemulihan. Melindungi daerah yang rapuh untuk HotSpot, contohnya karena kenaikan air dingin dari bawah laut dimasa mendatang, nantinya. Melindungi daerah yang bebas dari dampak manusia dan cocok sebagai substrat bagi penempelan karang dan pertumbuhan kembali. Memastikan bahwa terumbu karang tetap menopang kelangsungan kebutuhan masyarakat sekitar yang bergantung padanya. Daerah dimana karang telah mampu bertahan hidup pada peristiwa penghangatan air dapat menjadi kunci penting bagi persediaan larva karang guna mengisi daerah yang berkurang. Sehingga perlu adanya pengembangan sistem DPL skala nasional dan regional, atau pendekatan lebih strategis yang diperlukan untuk memperhatikan terumbu karang sumber dan penampung dan pola penyebaran larva karang untuk ekosistem laut yang berkelanjutan dimasa depan.

Sumber:
Sudiono, Gatot. 2008. Analisis Pengelolaan Terumbu Karang pada Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Pulau Randayan dan sekitarnya Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat. Program Magister Ilmu Lingkungan. Universitas Diponegoro. Tesis.
Erni. Sisca Dewi. 2006. Analisis Ekonomi Manfaat Ekosistem Terumbu Karang di Pulau Ternate Provinsi Maluku Utara. Program Studi Ekonomi Sumberdaya Kelautan Tropika. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian. Bogor. Tesis.
DKP, 2003. Pedoman Pengelolaan Dan Perencenaan Tata Ruang Pesisir dan Laut. Ditjen Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, Departemen Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Kusumastuti, Arni. 2004. Kajian Factor-Factor Penyebab Kerusakan Terumbu Karang di Perairan Bontang Kuala dan Alternative Penanggulangannya. Semarang. Universitas diponegoro. Tesis.
Westmacott, Susie., Kristian Teleki, Sue Wells, Jordan West. 2000. Pengelolaan Terumbu Karang yang telah Memutih dan Rusak Kritis. Oxford, Inggris; IUCN Publications Services Unit IUCN–Badan Konservasi Dunia/The World Conservation Union.

Related Post

Penelitian dan Pengembangan (Research and developm... Pengertian penelitian Pengembangan menurut para ahli Menurut Borg dan Gall menyebutkan bahwa penelitian pengembangan adalah mengembangkan suatu produ...
Penelitian Deskriptif Kuantitatif Apa itu Deskriptif Kuantitatif? Deskriptif dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti bersifat deskriptif, atau bersifat menggambarkan apa adanya. P...
Uji Linearitas Uji Linearitas Uji Linearitas bertujuan untuk mengetahui apakah dua variable mempunyai hubungan yang linear atau tidak secara signifikan.Pengujian ...
PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF PENELITIAN KAUSAL KOMPARATIF Penelitian causal comperative atau causal comperative research adalah salah satu dari jenis penlitian kuantitatif. Pene...