Artikel

Penelitian Etnometodologi

PENELITIAN ETNOMETODOLOGI

Istilah Etnometodologi pertama kali diperkenalkan oleh seorang tokoh bernama Harold Garfinkel di beberapa seminar dan pertemuan American Sociological Association pada 1954 (Amal, 2010). Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada 1967 Garfinkel kembali mencetuskan Etnometodologi sebagai metode penelitian melalui karyanya “Studies in Etnomethodology. Penelitian Etnometodologi didefinisikan sebagai studi praktik tentang keseharian individu. Penelitian ini muncul sebagai bentuk pengungkapan tentang dunia yang digeluti individu tersebut. Etnometodologi mempelajari tentang bagaimana individu menciptakan metode dalam mencapai dan memahami kehidupan sehari-hari.

Metode ini menjadi sebuah bentuk kritik terhadap bias postivisme dalam penelitian sosial, karena dinilai bahwa pemahaman terhadap peristiwa sosial tidak cukup dengan hanya menarik kesimpulan mengenai gejalanya tanpa memperhatikan aspek internal individu. Beberapa aspek yang kerap diteliti melalui penelitian Etnometodologi adalah kesadaran, pandangan, tindakan, interaksi, hingga kebiasaan. Setiap aspek ini dipelajari kemudian digambarkan secara kualitatif sehingga erat kaitannya dengan subjektivitas. Subjektivitas dalam hal ini bergantung pada pemahaman peneliti terhadap suatu situasi kemudian dibebaskan untuk mendefinisikannya. Artinya, seorang Etnometolog dapat menulis tentang suatu situasi berdasarkan apa yang diamati dan didengarnya.

Etnometodologi merupakan pendetailan dari paradigma yang sebelumnya telah ada dalam ilmu sosial seperti fenomenologi, sehingga keduanya memiliki kesamaan (Coulon, 2003). Namun, penelitian Etnometodologi terfokus pada peran individu sebagai anggota atau bagian dari sebuah struktur yang lebih luas, misalnya masyarakat. Sehingga penelitian ini bukan hanya sebatas untuk mengetahui tentang individu tersebut, tetapi juga alasan, aturan, atau pengaruh struktur yang membuat individu melakukan tindakan-tindakan.

Sejalan dengan hal tersebut, Giddens dan Turner (dalam Amal, 2010) menyatakan beberapa fokus kajian etnometodologi antara lain:

  1. Pengakuan terhadap jangkauan yang luar biasa mengenai sumber tertentu untuk mempertahankan kekonsistenan pengertian pada suatu kejadian atau peristiwa.
  2. Objektivitas dan ketidakraguan terhadap sesuatu yang tampak.
  3. Adanya proses indeksikalitas (indexicality), indeks menimbulkan pengertian yang dapat dipahami hanya dalam konteks sebuah situasi.
  4. Adanya proses refleksitas, yakni suatu sifat khas kegiatan sosial yang menyaratkan kehadiran sesuatu yang diamati secara bersamaan.
  5. Asas resiprositas (bolak-balik) dalam artian saling menyetarakan maksud dan tujuan antara peneliti dan aktor yang terlibat.

Berdasarkan fokus kajian etnometodlogi tersebut, maka variasi kerja penelitian Etnometodologi menurut Ritzer (dalam Susilo, 2017) digambarkan sebagai berikut:

  1. Berlatar belakang analisis institutional (studies of institutionalsetting). Studi etnometodologi yang pertama kali dilakukan terjadi dalam setting non-institutional, kemudian berkembang untuk mempelajari praktik-praktik keseharian dalam setting institutional yang lebih luas. Tujuan studi semacam ini untuk memahami cara masyarakat dalam setting tersebut melakukan tugas-tugas resminya dalam proses pembentukan institusi.
  2. Studi Etnometodologimengutamakan analisis percakapan (conversation analysis), dengan tujuan untuk memahami secara detail struktur fundamental dari interaksi antara peneliti dan aktor. Ritzer merangkum dasar-dasar analisis percakapan ke dalam lima premis, yaitu:

a. Analisis percakapan membutuhkan data percakapan yang detail. Data ini tidak hanya meliputi kata-kata tetapi juga keragu-raguan, desah nafas, sedu sedan, gelak tawa, perilaku non-verbal dan berbagai aktivitas lainnya, sebab semua itu menggambarkan perbuatan percakapan aktor yang terlibat.

b. Detail percakapan harus dianggap sebagai suatu prestasi, dimana percakapan diatur oleh aktivitas metodis dari para aktor itu sendiri.

c. Interaksi umumnya dan percakapan khususnya mempunyai sifat-sifat yang stabil dan teratur hingga keberhasilan para aktor akan dilibatkan.

d. Landasan fundamental dari percakapan adalah organisasi yang sequential.

e. Keterikatannya dengan interaksi percakapan diatur dengan bergilir.

Dengan demikian pelaksanaan penelitian Etnometodologi tidak diartikan sebagai metode yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data, tetapi lebih terfokus pada bagaimana memilih pokok permasalahan yang akan diteliti. Sebagaimana yang dijelaskan sejarah kemunculan metode penelitian ini, bahwa istilah Etnometodologi bermakna penekanan pada metode pemilihan masalah yang dikaji bukan metode memperoleh datanya.

 

Referensi:

Amal, M. K. 2010. Etnometodologi Harold Garfinkel: Anatomi dan Perkembangan Teori Sosial. Malang: Aditya Media.

Susilo, Daniel. 2017. Etnometodologi sebagai Pendekatan Baru dalam Kajian Ilmu Komunikasi. Jurnal Studi Komunikasi. 1(1): 62-72.

Coulon, Alain. 2003. Etnometodologi. Jakarta : KKSK & Yayasan Lengge Mataram.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close