Call us on 0823-9388-3833

Home » Artikel » Pendidikan Karakter The Rigth Way

Pendidikan Karakter The Rigth Way

Dian Din Astuti Mulia

Mengapa anda harus membuat catatan tertulis untuk pemik iran anda? Sebab ia ak an meninggalk an jejak yang jelas sehingga anda dapat melihat k embali apa yang telah anda pik irk an sebelumnya. (Mark Levy) Sejak beberapa tahun yang lalu penyelenggara pendidikan baik sekolah negeri maupun swasta, menyelenggarakan Pendidikan Karakter. Pendidikan ini berkembang karena para pakar pendidikan di Indonesia mengakui bahwa sistem pendidikan yang telah ada, khususnya dalam bidang

pengembangan kepribadian (personality) yang memiliki karakter yang kuat khusunya moral dan prososial telah gagal dilakukan. Gagalnya pendidikan di Indonesia menghasilkan manusia yang kurang berkarakter masih bisa diperdebatkan. Namun pernyatan ini diperkuat dengan realita yang ada. Sangat ironis jika membayangkan kondisi masayarakat Indonesia saat ini. Tidakkah masyarakat merasa khawatir terhadap pemberitaan dimedia.

Pengguna narkotika mencapai 3,2 juta orang, remaja melakukan aborsi 2 juta orang pertahun. Kasus bunuh diri yang menjadi intens akhir-akhir ini. Sebanyak 220 ribu anak gelandangan memenuhi jalanan kota makassar. Selain itu sebanyak 10 juta orang usia produktif dalam kondisi tidak bekerja ¹. Korupsi merajalela, dan kaum kapitalis semakin kuat dengan taringnya dalammeraup keuntungan. Sementara masih banyak rakyat Indonesia yang kelaparan. Selain itu vonis kegagalan pedidikan konvensional di Indonesia diperkuat oleh pendapat seorang yang telah bergelut dalam dunia pendidikan yaitu I Ketut Sumarta dalam bukunya “Pendidikan yang Memekarkan Rasa”menyatakan bahwa Pendidikan nasional kita cenderung hanya menonjolkan pembentukan kecerdasan berpikir (kognitif ) dan menepikan kecerdaasan rasa, kecerdasan budi bahkan kecerdasan batin. Dari sini lahirlah manusia yang berotak pintar, manusia berprestasi secara kuantitatif akademik , namun tiada berkecerdasan budi sek aligus sangat berk etergantungan, tidak merdeka mandiri.

 

Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri, kita tidak bisa menutup mata pada alur kehidupan yang memantulkan sebuah fakta bahwa masyarakat indonesia sedang mengalami kemerosotan yang sangat dalam. Perlu perubahan pendidikan yang radikal dalam menyalakan kembali lentera-lentera nilai moral yang telah redup (kejujuran, integritas, kesetiaan, tanggung jawab, dan lain-lain). Perubahan yang radikal dalam mewujudkan harapan itu bergantung pada pada komitmen orang tua dan pendidik. Tanggung jawab membentuk karakter individu sebagai manusia-manusia unggul yang tidak hanya cerdas dalam bidang linguistik, logis-matematis, kinestetik, tapi juga memiliki karakter moral dan prososial yang baik. Sekolah bukanlah sekedar tempat untuk meraih keterampilan kognitif dan linguistik. sekolah juga merupakan tempat berlangsungnya perkembangan pribadi (personal development), yakni saat anak anak dan remaja menguasai pola-pola perilaku yang khas dan mengembangkan pemahaman diri yang telah muncul semenjak masa bayi dan masa taman kanak-kanak.

Elemen sosial disekolah juga menjadikan sekolah sebagai tempat ideal bagi berlangsungnya perkembangan sosial, yakni saat anak anak muda mulai memperoleh pemahaman yang semakin baik mengenai sesama manusia, menjalin hubungan yang produktif dengan orang dewasa dan teman sebaya, dan secara berangsur-angsur menginternalisasikan pedoman-pedoman berperilaku sebagaimana ditetapkan oleh masyarakat. Secara imperatif pendidikan karakter bukanlah hal baru dalam sistem pendidikan nasional kita karena tujuan pendidikan nasional dalam semua undang-undang yang pernah berlaku secara substantive memuat penddikan karakter. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional komitmen tetang pendidikan karakter tertuang dalam Pasal 3 yang menyatakan bahwa “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Jika dicermati semua elemen dari tujuan tersebut terkait erat dengan karakter. Koesoma dalam bukunya Strategi Mendidik Anak di Zaman Global menyatakan

Karakter merupakan struktur antropologis manusia. Pendidikan karakter akan memberikan bantuan sosial agar individu dapat tumbuh dalam menghayati kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain didunia. Pendidikan karakter di Indonesia telah lama berakar dalam tradisi pendidikan. Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, Hatta dan para tokoh lainnya telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai dengan konteks dan situasinya namun nyatanya kurikulum tersembunyi itu tidak terwujud sesuai dengan harapan.Yang menjadi pertanyaan besar saat ini bagaimanakah nilai moral yang menjadi suatu substansi yang langkah itu dibentuk. Para ahli dalam bidang psikologi perkembangan telah merumuskan bahwa pembentukan kepribadian dalam menanamkan karakter moral dan prososial dimulai sejak dini. Sehingga pendidikan karakter akan manjadi suatu ramuan yang kuat dalam memebentuk suatu generasi yang bermoral ke depannya. Suatu contoh kecil dalam dunia pendidikan yang menjadi cerita tersendiri dalam konteks budaya bugis, ketika mendengar para orang tua dan pendidik yang mengeluhkan sikap generasi saat ini.

Secara khusus jika menilik dari tradisi masyarakat bugis yang memiliki budaya “pappaseng” sebagai nilai moral yang mendidik anaknya untuk mengatakan “puang” kepada orang yang lebih tua saat ini sudah sulit untuk dicari. Globalisasi telah merubah nilai moral saling menghargai dengan pappaseng mengucapkan kata “puang” itu menjadi suatu dialektika yang katanya anak-anak muda sekarang kuno. Basa-basi penghormatan yang merupakan muatan moral ditepikan dalam didikan para orang tua dan pendidik. Tidak heran jika sekarang ini banyak anak-anak yang berani melangkah didepan para gurunya dengan sikap yang acuh seolah-olah melewati sebuah benda mati tak berjiwa. Menyapa salampenghormatanpun menjadi suatu hal yang tidak penting lagi. Bahkan berani mengirimkan pesan singkat melalui SMS (Sort Message Service) kepada guru atau dosen dengan kata-kata yang kadang membuat pendidik menjadi heran ketika membacanya. Katanya kurang sopan lah, lancang lah, dan sebagainya.

Namun sekali lagi ketika dikembalikan kepada generasi muda saat ini mereka selalu berdalih bahwa hal yang mereka lakukan telah sesuai dengan nilai-nilai yang mereka katakan gaul dan keren itu. Lalu siapa yang disalahkan dalam kondisi seperti ini, hal seperti ini hanya salah satu kepingan situasi yang sering kita temukan. Masih banyak lagi hal-hal yang membuat “kita yang tahu moral” merasa malu membayangkan perilaku masyarakat sekarang. Kita tidak bisa menyalahkan terus-menerus keadaan yang membuat kita mengernyitkan dahi ini. Diperlukan suatu pemikiran dan intervensi dalam memperbaiki setiap masalah tersebut. Pendidikan karakter telah menjadi salah satu acuan dalam memperbaiki masalah tersebut. Lalu seperti apakah pendidikan karakter itu?

Sebagai suatu konsep akademis, charak ter atau kita terjemahkan, karakter memiliki makna substantif dan proses psikologis yang sangat mendasar. Lickona dalam bukunya Educating for Charak ter merujuk pada konsep good charak ter yang dikemukakan Aristoteles sebagai “the life of right conduct- right conduct in relation to other personsand in relation to one self”. Dengan kata lain karakter yang baik itu dapat diartikan sebagai kehidupan berperilaku baik/penuh kebajikan, yakni berperilaku baik terhadap pihak lain. Yang dimaksud pihak lain disini adalah Tuhan yang Maha Esa, manusia dan alam semesta. Kita cenderung melupakan kehidupan yang penuh dengan kabajikan termasuk kebajikan terhadap diri sendiri, pengendalian diri dan kesabaran dan kebajikan terhadap orang lain seperti kesediaan berbagi dan merasakan kebaikan. Secara substansi karakter terdiri atas 3 (tiga) moral k nowing, moral feeling, dan moral behavior. Ditegaskan lebih lanjut oleh Lickona bahwa karakter yang baik atau good charater terdiri dari atas proses psikologis k nowing the good, desiring the good, and doing the good- habit of the heart, and habit of action.

 

Ketiga substansi dan proses psikologis tersebut bermuara pada kehidupan moral dan kematangan moral individu Dengan kata lain kakrakter dapat dimaknai sebagai pribadi yang baik, dalam arti mengetahui kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berperilaku baik, yang secara koheren memancar sebagai hasil dari olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari. Secara psikologis dan sosial kultural pembentukan karater dalam diri manusia merupakan fungsi dari seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, dan psikomotorik) dalam konteks interaksi sosial kultural (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan hal ini berlangsung sepanjang hayat.

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosio-kultural tersebut dapat dikelompokkan dalam olah hati (spiritual and emotional development), olah pikir (intellectual development), olah raga dan kinestetik (physical and k inestetik development), dan oleh rasa dan karsa (Affective and Creativity development). Pendidikan karakter adalah sebuah pendekatan langsung di mana siswa diajarkan mengenai literasi moral dasar yang mencegah mereka untuk melakukan perilaku yang tidak bermoral serta melakukan sesuatu yang melukai diri sendiri dan orang lain. Menurut para penganjur pendidikan karakter, perilaku seperti berbohong , mencuri, dan mencontek itu salah dan para siswa sebaiknya diajarkan hal ini selama masa pendidikan mereka. Pendidikan karakter tidak hanya dilakukan di sekolah namun kelurga juga memaminkan peran dalam memberikan pendidikan karakter tersebut. Suatu sistem sosial yang paling awal berusaha menumbuhkan sistem nilai moral dan sikap kepada anak adalah keluarga. Ini didorong oleh keinginan dan harapan orang tua yang cukup kuat agar anaknya tumbuh tumbuh dan berkembang menjadi individu yang baik dan yang buruk, yang benar dan yang salah yang boleh dan tidak dibolehkan, serta memiliki sikap dan perilaku yang terpuji sesuai dengan harapan orang tua. Pendidikan tidak hanya berlaku di sekolah namun pendidikan juga berlaku dalam pola asuh. Para ahli psikologi baik Piaget maupun Kohlberg ² berpendapat bahwa orang tua memiliki kewajiban memberikan kesempatan untuk pengambilan peran dan mengalami konflik kognitif, namun mereka menyediakan peran primer dalam perkembangan moral bagi kawan-kawanya. Para peneliti telah mengungkapkan bagaimana orang tau maupun teman sebaya berkontribusi terhadap perkembangan kematangan moral.

Aspek pengasuhan anak menurut teori Psikoanalisis Freud yang dapat mendorong perkembangan moral adalah praktik yang menanamkan rasa takut terhadap hukuman dan kehilangan cinta orang tua. Teknik disiplin meliputi menarik cinta/ love withdrawal, Memperlihatkan kekuasaan/ power assertion, membujuk/ induction. Mengasuh moral anak-anak dan remaja berkaitan dengan disiplin orang tua, namun aspek lain dari pengasuhan juga memainkan peranan penting yaitu seperti memberikan peluang untuk melakukan modeling terhadap perilaku dan berpikir moral. Kita harus meningkatkan sensitifitas kita terhadap kondisi generasi indonesia saat ini. Bukan lagi saat nya kita bangga dengan perkembangan pribadi masyarakat yang cerdas secara kognitif, namun dibutuhkan pribadi unggul yang memiliki karakter moral dan prososial yang baik. Pembentukan karakter dalam pendidikan dan polah asuh ini akan menjadi lentera dalam menuntun karakter masyarakat kejalan yang benar. ¹ Lihat Poster Charakter Building Class oleh Enlighten Human Development Center. ² Piaget merupakan salah satu ahli psikologi kognitif yang mencetuskan teori pemikiran moral pada anak-anak yang terbagi atas dua tahap yaitu heteronomous morality, autonomous morality. Sementara Kohlberg adalah psikolog yang memberikan kontribusi besar terhadap teori perkembangan moral yang terbagi atas 6 (enam) tahapan yaitu prakonvesioanal ,konvensional, moralitas heteronom, ekspektasi, kontrak atau utilitas sosial, dan prinsip etika universal. Kedua teori ini banyak memberikan kontribusi dalam menjelaskan pemikiran moral secara kognitif pada manusia.

21 March 2011 04:55 Dian Din Astuti Mulia

Related Post

Kekuatan dan kelemahan penelitian gabungan KEKUATAN DAN KELEMAHAN PENELITIAN GABUNGANPenelitian gabungan merupakan penelitian yang memadukan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pe...
Grounded Theory Grounded TheoryGrounded Theory atau teori dasar merupakan salah satu pendekatan dalam jenis penelitian kualitatif. Grounded Theory dapat pula dika...
Penelitian Korelasional A. Penelitian KorelasionalPenelitian korelasi atau korelasional adalah suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua ...
Jenis validasi penelitian Pengertian Validitas           Validitas sering diartikan dengan kesahihan. Suatu alat ukur disebut memiliki validitas bilamana alat ukur tersebut is...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *