Artikel

Pendekatan Korelasional pada Penelitian Kuantitatif

Pendekatan dalam penelitian adalah salah-satu bagian dari keseluruhan proses penelitian. Pendekatan penelitian menjadi dasar penetapan desain atau desain penelitian, yang karenanya harus dipilih secara cermat. Pendekatan yang tidak pas akan mengakibatkan hasil penelitian yang melenceng dari tujuan yang akan diharapkan. Pendekatan penelitian yang dipilih menentukan desain penelitian selanjutnya. Pendekatan penelitian yang dipilih harus disesuaikan dengan tujuan penelitian itu dilakukan, seberapa banyak waktu, tenaga, dan biaya yang bisa dikerahkan. Ketidaksesuaian antara tujuan dan sumber daya yang dimiliki dengan pendekatan yang dipilih akan mengakibatkan hasil penelitian yang kurang memadai.

Dalam melakukan penelitian, ada beberapa pendekatan penelitian yang dapat dipilih. Pendekatan-pendekatan penelitian tersebut antara lain: pendekatan penelitian historis, deskriptif, perkembangan, kasus dan penelitian lapangan, kausal komparatif, eksperimental sungguhan (true experimental), eksperimental semu (quasi experimental), kaji tindak (action research), dan korelasional. Salah- satu pendekatan dalam penelitian kuantitatif yakni penelitian korelasional merupakan salah-satu pendekatan yang dapat dipilih.
Pendekatan penelitian korelasional dipilih jika suatu penelitian bermaksud untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu variable penelitian berhubungan dengan variasi-variasi pada suatu atau lebih variable lain itu tidak bersifat sebab-akibat (Aslichati, 2010)

Menurut Sukmadinata (2010) penelitian korelasional ditujukan untuk mengetahui hubungan suatu variable-variabel lain. Hubungan antara satu dengan beberapa variable lain dinyatakan dengan besarnya koefisien korelasi dan keberartian (signifikansi) secara statistik. Adanya korelasi antara dua variabel atau lebih, tidak berarti adanya pengaruh atau hubungan sebab akibat dari suatu variabel terhadap variabel lainnya. Korelasi negatif berarti nilai yang tinggi pada variabel lainnya. Korelasi negatif berarti nilai yang tinggi dalam satu variabel berhubungan dengan nilai yang rendah dalam variabel lain. Korelasi yang tinggi antara tinggi badan dengan berat badan, tidak berarti badan yang tinggi menyebabkan atau mengakibatkan badan yang berat, tetapi antara keduanya ada hubungan kesejajaran. Bisa juga terjadi yang sebaliknya yaitu ketidaksejajaran (korelasi negatif) ,badannya tinggi tetapi timbangannya rendah (ringan).

Tujuan utama melakukan penelitian korelasional yaitu menolong menjelaskan pentingnya tingkah laku manusia atau untuk meramalkan suatu hasil. Dengan demikian, penelitian korelasional kadang-kadang berbentuk penelitian deskriptif karena menggambarkan hubungan antara ubahan-ubahan yang diteliti. Karena itu, penelitian korelasional merupakan upaya untuk menerangkan dan meramalkan sesuatu (explanatory studies dan prediction studies).

Contoh : Bagaimana hubungan tingkat kemiskinan dengan pendidikan?
Dalam contoh itu peneliti tidak akan mengungkapkan secara perinci faktor-faktor apakah yang menyebabkan kemiskinan atau bagaimana perkembangan tingkat pendapatan di masa lampau serta perspektifnya untuk masa datang, tetapi ingin mengetahui apakah ada hubungan antara kemiskinan dan pendidikan. Andai kata “ada”, pertanyaan berikutnya ialah berapa besar hubungannya dan bagaimana arah hubungan tersebut.
Besarnya hubungan akan bergerak dalam rentang + 1,00— 0.00 — – 1,00. Angka-angka ini merupakan koefisien korelasi antara ubahan-ubahan yang diteliti.

Kompleksitas hubungan yang akan diteliti, ditentukan oleh seberapa jauh peneliti mampu ,dan mau memperhatikan berbagai fenomena yang bermanfaat, up to date, hangat, dan menarik. Hubungan antara dua ubahan yang digambarkan oleh koefisien korelasinya. (r…), hanya semata-mata untuk menentukan hubungan antara dua ubahan yang diteliti, bukan untuk melihat pengaruhnya. Hubungan antara beberapa ubahan akan beralih menjadi pengaruh apabila ubahan-ubahan itu secara kompleks, seperti multiple regression atau partial correlation sehingga dapat menentukan “coefficient determinan” atau sumbangan efektif masing-masing ubahan dengan mengontrol ubahan yang lain (Yusuf, 2014).

a. Ciri-ciri Penelitian Korelasional
Beberapa ciri penelitian korelasional yang dapat membedakan tipe penelitian ini dari tipe penelitian yang lain sebagai berikut:
1) Penelitian korelasional tepat digunakan apabila ubahan-ubahan yang diteliti kompleks dan/atau tidak dapat diteliti dengan metode eksperimen dan tidak dapat pula dimanipulasi.
Dengan menggunakan berbagai instrumen, seorang peneliti dapat melakukan penelitian dengan materi yang luas dan kompleks. Disamping itu, dapat pula diberikan kepada responden dalam lokasi yang berbeda –beda provinsinya, selagi dalam kategori sampel yang sama. Contoh: hubungan antara kreativitas dan pola tindakan orangtua dalam keluarga.
2) Penelitian korelasional memungkinkan pengukuran beberapa ubahan sekaligus, saling hubungannya dan dalam latar realistic (realistic setting).
Mengingat instrumen utama penelitian korelasional ialah angket, maka berbagai jenis instrument dapat disiapkan untuk meneliti beberapa ubahan sekaligus. Di samping itu, instrument yang sama dapat pula disebarkan pada lokasi yang luas dalam waktu yang terbatas.
3) Apa yang diperoleh adalah kadar (degree) hubungan, bukan ada atau tidak adanya pengaruh diantara ubahan yang diteliti, kecuali apabila menggunakan teknik analisis yang lebih kompleks sehingga dapat dicari pengaruhnya (Yusuf, 2014).
b. Langkah-langkah Pokok Penelitian Korelasional.
Menurut Yusuf (2014), seperti juga tipe penelitian yang lain, penelitian korelasional mengikuti beberapa langkah sebagai berikut:
1. Pilih dan rumuskan masalah yang akan diteliti.
2. Lakukan studi literature untuk memperkuat landasan teori dan untuk mengungkapkan temuan penelitian yang sudah ada.
3. Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan, identifikasi ubahan yang relevan untuk diteliti.
4. Tentukan sampel, susun dan pillih instrument yang cocok serta tentukan pula teknik analisis data.
5. Kumpulkan data.
6. Analisis data dan interpretasi.
7. Susun laporan penelitian.
c. Keterbatasan Penelitian Korelasional
Walaupun tipe penelitian ini banyak dilakukan oleh para peneliti, namun bukan berarti tipe penelitian ini tidak mempunyai kelemahan. Isaac dan Michael dalam Yusuf (2014) mengemukakan beberapa keterbatasan tipe penelitian korelasional, yaitu:
1) Hasil penelitian ini hanya mengidentifikasi “apa sejalan dengan apa”, tetapi tidak mengidentifikasi saling pengaruh yang bersifat kausal.
2) Penelitian tipe ini kurang tertib ketat apabila dibandingkan dengan tipe penelitian eksperimen untuk menentukan pengaruh, karena tidak dapat dilakukan control atau manipulasi terhadap peristiwa yang akan diteliti.
3) Penelitian korelasional cenderung akan mengidentifkasikan pola hubungan langsung dan/atau unsur-unsur yang dipakai kurang andal belum canggih.
4) Pola hubungan itu sering dibuat-buat dan kadang-kadang meragukan dan kabur.
5) Sering merancang penggunaannya sebagai shotgun research, yaitu melakukan penelitian sekali tembak dengan memasukkan berbagai data tanpa pilihan yang mendalam dan tanpa menggunakan interpretasi yang berguna berdasarkan keadaan data yang telah dikumpulkan.

Daftar Pustaka:

Aslichati L, Prasetyo B, Irawan P. 2010. Metode Penelitian Sosial. Universitas Terbuka: Jakarta.

Sukmadinata, N.S. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. PT Remaja Rosdakarya: Bandung.

Yusuf, M. 2014. Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif & Penelitian Gabungan. Prenadamedia Group: Jakarta.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close