Call us on 0823-9388-3833

Home » Artikel » Pemberdayaan Masyarakat sebagai Upaya pengentasan Kemiskinan Menuju Generasi Emas Indonesia 2045

Pemberdayaan Masyarakat sebagai Upaya pengentasan Kemiskinan Menuju Generasi Emas Indonesia 2045

Kemiskinan merupakan fenomena sosial yang terjadi di kalangan masyarakat menengah kebawah, sekitar 28,01 juta (10,86) persen penduduk indonesia masih tergolong miskin pada tahun maret 2016 menurut badan pusat statistika (BPS) data tersebut mengalami penurunan angka kemiskinan pada tahun sebelumnya yakni tahun 2015 angka kemiskinan di indonesia mencapai sebesar 28,51 juta orang (11,13 persen). Kemiskinan didefinisikan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan dasarnya karena ketidakberdayaan dalam mengakses atau menguasai sumber-sumber ekonomi. Ketidakmerataan pembangunan ekonomi menjadi salah satu penyebab terjadinya kemiskinan.

Oleh karena itu Kompleksitas Kemiskinan selalu dihubungkan dengan faktor ekonomis pada suatu penduduk, yang dapat diketahui melalui pendapatan (income) atau tingkat konsumsi individu atau komunitas. Lembaga donor internasional seperti Bank Dunia atau Bank Pembangunan Asia (ADB). Beberapa di negara-negara berkembang kemiskinan seperti di Indonesia diukur melalui tingkat pemenuhan kebutuhan dasar pada suatu penduduk, yang dinyatakan dalam ukuran kebutuhan hidup minimum Pandangan di atas jelas berimplikasi pada pendekatan yang digunakan untuk mengentaskan kemiskinan tersebut. Seperti banyak diterapkan di negara-negara berkembang umumnya upaya pengentasan kemiskinan dilakukan dengan pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan ekonomi penduduk.

Pertumbuhan ekonomi penduduk yang rendah menyebabkan peningkatan angka kemiskinan, oleh sebab itu kemiskinan dan pemerataan pembangunan menjadi aspek yang penting dalam agenda kebijakan pemerintah. Urgensi masalah kemiskinan juga ditandai dengan adanya komitmen global untuk mencapai Sasaran Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals atau MDG’s) yang ditandatangani oleh 189 negara anggota PBB, termasuk Indonesia. Salah satu diantara 8 kesepakatan dan menjadi target pertama dari tujuan pertama (goals) MDG’s adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Selama ini Indonesia telah melakukan tiga upaya pengentasan kemiskinan. Yaitu melalui bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan meningkatkan mata pencaharian.

Maraknya pemberdayaan masyarakat dan bantuan sosial yang dilakukan di kalangan mahasiswa memberikan harapan besar bagi masyarakat miskin. Aksi ini oleh kalangan mahasiswa di yakini bisa memberikan sedikit angin segar khususnya masyarakat marginal untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dan berada di garis bawah garis kemiskinan pada ketimpangan pendapatan. Kemiskinan dan ketimpangan pendapatan adalah masalah sosial yang harus diselesaikan dan ini menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, swasta, dan organisasi masyarakat sipil. Di kalangan Mahasiswa berbagai program pemberdayaan telah dilakukan mulai dari membentuk kampung binaan, bakti sosial dan memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat miskin khususnya masyarakat marginal. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk menyongsong generasi emas 2045, tentunya hal ini bukanlah suatu perkara yang mudah mengingat angka kemiskinan di indonesia selalu terus bertambah di dukung oleh banyaknya pengangguran-pengangguran baru.

Tercatat tingkat pengangguran sarjana meningkat dari 5,34 persen pada februari 2015 naik menjadi 6,22 persen pada februari 2016 menurut Badan pusat Statistika (BPS). Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, M. Sairi Hasbullah mengungkap faktor yang menyebabkan peningkatan pengangguran tersebut. Menurutnya, faktor terkuat adalah masih banyaknya sarjana yang idealis dalam memilih pekerjaan. Namun hal ini dapat diatasi dengan memberikan pelatihan, meningkatkan dan mendorong kewirausahaan di kalangan mahasiswa agar tidak terjadi pengangguran yang akan menyebabkan bertambahnya angka kemiskinan di indonesia.

Kewirausahaan telah disadari memberikan dampak sosial yang besar, terutama dalam mengentaskan kemiskinan. Inovasi dan ide yang di luar batas pemikiran umum (out of the box) menjadi instrumen utama. Selain itu, kecerdasan emosional yang dimiliki oleh wirausaha sosial terus mendorong untuk mencari peluang dalam melakukan perubahan sosial. Karakteristik seorang wirausaha yang berani mengambil risiko menandakan sebagai seseorang yang tangguh dalam upaya menyelesaikan permasalahan sosial. Pembangunan ekonomi yang berkeadilan, terutama bagi masyarakat miskin menjadi pendorong untuk melakukan perubahan yang signifikan melalui inovasi sosial. Pendekatan kewirausahaan membuka jalan bagi pemerataan distribusi ekonomi. Oleh karena itu dari permasalah di atas tersebut mendorong para pemuda pemudi yang memiliki perhatian khusus terhadap masyarakat marginal dan pengangguran di indonesia untuk memberikan suatu treatment kewirausahaan dalam meningkatkan kreatifitas baik dalam bentuk kerajinan tangan dalam bentuk pemberdayaan. Hal ini dilakukan agar mereka bisa mendapatkan pekerjaan dan keluar dari rantai kemiskinan dan membantu mewujudkan program indonesia menuju generasi emas 2045.

 

SUMBER:

Fajriah, Lily Rusna. http://ekbis.sindonews.com/read/1074259/34/angka-kemiskinan-meningkat-tembus-28-51-juta-orang-1451890507. (Di akses 4 Februari 2017).

Lestari, Daurina, Fikri Halim. http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/768815 angka-pengangguran-sarjana-meningkat-drastis. (Di akses 4 Februari 2017).

Nawir.http://www.kemsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=992.(Di akses 4 Februari 2017)

Nur Firdaus. 2014. Pengentasan Kemiskinan Melalui Pendekatan Kewirausahaan Sosial. Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Vol 22, No. 1.

https://www.bps.go.id/brs/view/id/1229. (Di akses 4 Februari 2017)

http://news.okezone.com/read/2015/12/30/65/1277253/7-5-juta-pengangguran-banyak-bertitel-sarjana. (Di akses 4 Februari 2017)

Related Post

Penelitian Pre Eksperimen Penelitian Pre-EksperimenPenelitian pre-eksperimen atau pre-experimental designs merupakan rancangan penelitian yang belum dikategorikan sebagai e...
Penelitian Expo-Facto PENELITIAN EXPOST FACTO A. Pengertian Expost Facto Secara harfiah, expost facto berarti “sesudah fakta” karena sebab yang akan diteliti telah mempen...
Penelitian Kebijakan PENELITIAN KEBIJAKANTerdapat beragam jenis metode penelitian yang dapat digunakan dalam melakukan penelitian. Salah satu metode penelitian adalah ...
Penelitian Eksperimen Semu Rancangan Eksperimen SemuPenelitian Eksperimen adalah penelitian yang bertujuan untuk meramalkan dan menjelaskan hal-hal yang terjadi atau yang ak...