Call us on 081340000336

Home » Artikel » Pemanfaatan Sumur Resapan Sebagai Upaya Sanitasi Dan Pelestarian Sumberdaya Air Tanah

Pemanfaatan Sumur Resapan Sebagai Upaya Sanitasi Dan Pelestarian Sumberdaya Air Tanah

Air tanah merupakan air yang terdapat pada lapisan dibawah permukaan tanah. Sumber air ini berasal dari hujan yang jatuh kepermukaan bumi yang selanjutnya diserap kedalam tanah. Air tanah lebih murni jika dibandingkan dengan air yang berada dipermukaan tanah karena telah melalui proses penyaringan atau filtrasi secara alamiah. Namun, air tanah yang terlanjur tercemar akan sangat sulit untuk bisa dilakukan proses penjernihan, sehingga lingkungan sekitar air tanah harus dilengkapi dengan sanitasi lingkungan yang baik.

Pemanfaatan air tanah diperuntukkan untuk menjaga keseimbangan dan ketersediaan bahan baku air untuk kepentingan rumah tangga (domestik) maupun untuk kepentingan industri. Menurut Aqniyudha (2012) ketergantungan pasokan air bersih dan air tanah telah mencapai ± 70%. Air tanah dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih untuk memasak, mencuci, dan untuk kepentingan skala domestik lainnya. Air tanah juga dapat dimanfaatkan sebagai irigasi untuk mengairi sawah-sawah masyarakat. Pada skala industri, air tanah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik tenaga air.

Sebagai salah satu sumberdaya air, air tanah dapat diperoleh dengan cara yang cukup mudah. Pada umumnya masyarakat mengambil air tanah dengan menggali atau membuat sumur dengan menggunakan bor kemudian menaikan air ke permukaan tanah dengan bantuan mesin pemompa. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat seringkali menggunakan air tanah secara berlebihan. Tindakan tersebut dapat mendatangkan efek negatif seperti penurunan muka air tanah.

Penurunan muka air tanah disebabkan oleh penyempitan rongga tanah yang terdiri dari air dan udara sehingga menyebabkan permukaan tanah semakin menurun. Salah satu faktor yang dapat menyebabkan penurunan muka air tanah adalah pengambilan bahan cair dari dalam tanah, seperti air tanah dan minyak bumi. Hal ini dapat menjadi pemicu terjadinya banjir. Ketika permukaan tanah suatu daerah lebih rendah dibandingkan daerah lain maka akan membentuk cekungan sehingga disekitar derah tersebut dapat berpotensi terjadinya banjir. Banjir dapat menyulitkan manusia untuk memperoleh air bersih dan menjadi media utama penyebaran penyakit.

Tingginya kebutuhan masyarakat akan pemanfaatan air tanah, mengakibatkan tindakan eksploitasi sumberdaya air ini menjadi tidak terkendali. Selain itu, adanya perubahan tata guna lahan menjadi gedung-gedung untuk pemukiman menyebabkan kemampuan daya serap tanah menjadi menurun. Penutupan permukaan tanah oleh permukiman dan fasilitas umum menyebabkan kurangnya air yang dapat terserap kedalam tanah. Setiap kali turun hujan 30 mm akan ada 225.000 m3 air hujan yang tidak dapat meresap ke dalam tanah (Arafat, 2008). Menurut Arsyad dan Ernan (2012) kemampuan resapan air tanah rata-rata sebesar 20,79 juta m3/tahun, sementara stok air tanah dangkal hanya sebesar 40 juta m3/tahun.  Untuk mengatasi hal tersebut, maka daya serap tanah akan air perlu diperbesar. Dengan memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap air maka daya tampung tanah terhadap air akan semakin besar. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk memperbesar kemampuan daya serap tanah adalah dengan membuat peresap buatan. Alat atau bangunan peresap merupakan sarana yang dapat dimanfaatkan untuk meresapkan air hujan atau air permukaan kedalam tanah. Hal ini dapat menambah bobot dalam tanah sehingga dapat kembali menaikkan permukaan tanah. Dengan demikian, kekurangan air sebagai akibat dari tindakan mengeksploitasi kandungan air tanah dapat diminimalisir dengan hal tersebut. Fungsi pembuatan bangunan peresap ini adalah untuk mengimbangi peningkatan penggunaan lahan, mengurangi banjir dan genangan lokal, mengurangi beban dan mencegah kerusakan drainase permukaan, serta menambah cadangan air tanah.

Bangunan peresap atau yang biasa dikenal dengan istilah sumur resapan merupakan sumur yang dibuat untuk menampung air hujan yang jatuh ke tempat kedap air seperti atap rumah, kemudian meresapkan air yang jatuh tersebut langsung ke dalam lapisan tanah. Hal ini dapat mengatasi masalah sulitnya penyerapan air melalui permukaan tanah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Wahyuningtyas dkk (2011) diketahui bahwa sumur resapan telah mampu meresapkan air yang ditandai dengan debit pengaliran yang masuk ke dalam saluran menjadi berkurang. Hal ini menandakan bahwa sumur resapan dinilai efektif untuk diterapkan. Dengan menggunakan sumur resapan, penurunan permukaan tanah dapat diminalisir karena adanya suplay air yang mencukupi kedalam tanah. Dengan demikian, pelestarian sumberdaya air tanah dapat terus dipertahankan.

Pembuatan sumur resapan dilengkapi dengan beberapa bahan yang berfungsi untuk menyaring air hujan yang ditampung sebelum diresapkan ke tanah. Pada umumnya sumur ini dilengkapi dengan lapisan berupa batuan dan ijuk di dasar sumur yang bertujuan untuk menyaring air yang masuk ke dalam tanah agar kebersihan air tanah tetap terjaga. Dengan demikian, prinsip sanitasi air bersih tetap dapat dipertahankan dengan membangun sumur resapan.

Sumber:

Aqniyudha, Lintang. 2012. Kondisi air tanah di indonesia. Kelestarian Sumber Air Minum. https://sumberairminumsehat diakses tanggal 18 April 2016.

Arafat, Yassir. 2008. Reduksi Beban Aliran Drainase Permukaan Menggunakan Sumur Resapan. Jurnal SMARTek. Vol 6 No 3: 144-153.

Arsyad, Sitanala dan Ernan Rustiadi. 2012. Penyelamatan Tanah, Air dan Lingkungan. Obor: Jakarta.

Wahyuningtyas, Ayu, dkk.. 2011. Strategi Penerapan Sumur Resapan sebagai Teknologi Ekkodrainase di Kota Malang (Studi Kasus : Sub DAS Metro). Jurnal Tata Kota dan Daerah. Vol 3 No 1: 25-32.