Ringkasan Penelitian

Pemanfaatan Limbah Biji Rambutan dan Kulit Pisang sebagai Pupuk Organik Cair

Judul Penelitian:

Pemanfaatan Limbah Biji Rambutan (Nephelium Lappaceum L.) dan Kulit Pisang (Musa Paradisiaca) sebagai Pupuk Organik Cair (POC).

Tahun Penelitian:

2018

Nama Peneliti:

Khaerul Anam Haeril, Andi Indah Arnita, Andi Irpan Badawi, Nur Indah Jaya, Rahmi, Tivannia Pricilla Narke

Latar Belakang:

Limbah merupakan hasil buangan dari aktivitas manusia yang sudah tidak digunakan lagi ataupun sudah tidak disenangi. Berdasarkan komponen penyusunnya limbah dibedakan menjadi dua jenis, yaitu limbah organik yang mudah diuraikan dan limbah anorganik yang tidak dapat diuraikan oleh alam atau dapat diuraikan tetapi dalam jangka waktu yang lama (Aryulina, 2004).  Limbah organik apabila hanya didiamkan dapat menimbulkan dampak negatif, seperti ketidaknyamanan pada manusia, kerusakan lingkungan seperti pencemaran lingkungan baik pada air, tanah maupun udara. Selain itu, dampak negatif dari limbah adalah potensi penyebaran penyakit berbahaya seperti kolera, diare, dan infeksi jamur yang tentu saja sangat berbahaya bagi manusia. Namun limbah organik jika diolah memiliki berbagai manfaat. Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Ibrahim (2013) limbah tanaman buah yang dimanfaatkan sebagai senyawa anti bakteri patogen pada ikan dan penelitian oleh Mirnawaty (2012) limbah kulit langsat yang dimanfaatkan sebagai anti nyamuk elektrik. Oleh karena itu limbah organik yang terurai oleh mikroorganisme ini juga dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik cair. Salah satu limbah yang menjadi pusat perhatian dan menjadi rujukan untuk diteliti manfaatnya adalah biji rambutan. Biji rambutan ini berasal dari limbah buah rambutan yang sering dikonsumsi oleh banyak orang karena rasanya yang manis. Namun setelah mengonsumsi daging buah ini, bijinya  langsung dibuang begitu saja. Berdasarkan Statistik Produksi Hortikultura Tahun 2014, produksi rambutan sebanyak 737.239 ton. Data tersebut menunjukkan bahwa, produksi rambutan akan menghasilkan jumlah limbah yang banyak. Biji rambutan ini menurut Harahap (2012) memiliki kandungan protein sebanyak 12,40%. Protein tersusun atas nitrogen, sehingga kadar protein mengidentifikasikan bahwa kandungan nitrogennya setara dengan kandungan protein. Bahan yang juga sangat sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari dan masih kurang pemanfaatannya yaitu kulit pisang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, pisang merupakan buah yang paling banyak diproduksi di Indonesia pada tahun 2015 sebanyak 7,29 juta ton (Databoks, 2016). Kulit pisang yang telah diproduksi dibuang sebagai limbah. Limbah kulit pisang ini banyak ditemukan ditempat penjual gorengan di wilayah Makassar. Menurut Munadji dalam Wilar (2014), kulit pisang sendiri memilki kandungan kalium dan posfor. Menurut Nasution (2014), limbah ini sudah digunakan sebagai bahan pupuk organik pada penelitian sebelumnya dan unsur hara pada pupuk cair kulit pisang kepok yaitu, C-organik 0,55 %, N-total 0,18 %, P2O5 0,043 %, K2O 1,137 %.

Kandungan nitrogen dari biji rambutan dan kandungan kalium dan posfor dari kulit pisang dapat digabungkan untuk menghasilkan komposisi yang sesuai dengan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman yaitu nitrogen, fosfor dan kalium (Sutedjo, 2002). Berdasarkan berbagai gagasan di atas, maka peneliti berinisatif melakukan suatu penelitian yang berjudul pemanfaatan biji rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan kulit pisang (Musa paradisiaca) sebagai Pupuk Organik Cair (POC).

Tujuan Penelitian:

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemanfaatan biji rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan kulit pisang (Musa paradisiaca) sebagai pupuk organik cair (POC).

Metodologi penelitian:

Penelitian ini berupa penelitian experimental laboratory dengan menggunakan pendekatan eksperimental murni yang artinya eksperimen berlangsung di laboratorium dengan menggunakan limbah biji rambutan dan kulit pisang yang ada di sekitar Kelurahan Parangtambung.

Variabel pada penelitian ini adalah pupuk organik cair (POC) dari limbah biji rambutan dan kulit pisang.

Objek Penelitian

Objek penelitian kami adalah limbah biji rambutan dan kulit pisang yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair (POC).

Teknik Analisis Data

Rumus untuk menentukan larutan standard kalium 10 %

Rumus pengenceran

M1 . V1 = M2 . V2

Keterangan :

V1 = volume larutan standard 1(mL)

M1 = konsentrasi larutan standard 1 (%)

V2 = volume larutan standard 2 (mL)

M2 = konsentrasi larutan standard 2 (%)

Untuk menentukan konsentrasi kalium total dalam sampel digunakan persamaan :

y= ax + b

x= y-b/a

Keterangan:

y = absorbansi

x = konsentrasi (%)

Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan biji rambutan (Nephelium lappaceum L.) dan kulit pisang (Musa paradisiaca) sebagai pupuk organik cair (POC). Proses fermentasi berlangsung selama 15 hari. Berdasarkan grafik percobaan maka grafik yang diperoleh adalah grafik linear. Hubungan antara absorban dan konsentrasi adalah berbanding lurus. Semakin besar nilai konsentrasi larutan maka nilai absorban juga semakin meningkat. Konsentrasi kalium yang didapatkan berdasarkan pengujian kadar kalium di laboratorium  Jurusan Kimia FMIPA UNM dengan alat flamephotometer adalah 1,0%. Hal ini didapat dari panjang absorbansi yang dihasilkan dari uji sampel pupuk organik cair. Menurut penelitian sebelumnya oleh Sundari (2012) syarat kandungan minimum kalium pada pupuk organik cair adalah 0,2% dan uji kandungan kalium yang telah dilakukan pada pupuk organik cair dari biji rambutan dan kulit pisang yang menunjukkan hasil 1% maka dapat disimpulkan kandungan kalium pada pupuk organik cair dari biji rambutan dan kulit pisang termasuk tinggi.

Simpulan

Pupuk organik cair (POC) dari limbah biji rambutan dan kulit pisang telah diperoleh dengan melakukan beberapa tahap pembuatan, yaitu:

  1. Biji rambutan dan kulit pisang dirajang atau dihancurkan agar pembusukan berlangsung sempurna.
  2. Campurkan bahan organik dan air bersih ke dalam bak komposter dengan perbandingan bahan organik:air bersih = 2:1, lalu aduk merata.
  3. Tambahkan ragi (Saccharomyces cerevisiae), molase, dan air cucian beras. Ragi berfungsi sebagai aktivator yang akan memfermentasikan bahan-bahan organik, sementara air cucian beras dan molase akan menjadi nutrisi bagi mikroorganisme pada ragi.
  4. Buat lubang di bagian atas tutup bak komposter, kemudian masukkan selang udara, sehingga satu ujung selang berada di dalam bak dan ujung yang lainnya ada di luar bak. Pastikan tidak ada celah udara antara selang dengan bak komposter. Hubungkan ujung selang di luar bak dengan botol yang diisi air. Ketika fermentasi berjalan dengan baik, maka akan dihasilkan gas karbon dioksida yang ditandai dengan adanya gelembung yang mengalir melalui selang menuju botol air mineral.
  5. Diamkan kurang lebih selama 15 hari.

Konsentrasi kalium yang didapatkan berdasarkan pengujian kadar kalium di laboratorium dengan alat flamephotometer adalah 1,0%. Hal ini didapat dari panjang absorbansi yang dihasilkan dari uji sampel pupuk organik cair sama dengan yang dihasilkan pada larutan standar kalium konsentrasi 1%. Uji kandungan kalium yang telah dilakukan pada pupuk organik cair dari biji rambutan dan kulit pisang yang menunjukkan hasil 1% maka dapat disimpulkan kandungan kalium pada pupuk organik cair dari biji rambutan dan kulit pisang termasuk tinggi.

Saran

Bagi peneliti selanjutnya, pada proses pembuatan pupuk organik cair, berat limbah biji rambutan dan kulit pisang harus seimbang agar dapat memperoleh pupuk organik cair dengan unsur makro N, P, dan K yang baik. Penelitian ini juga diharapkan dapat di aplikasikan terhadap pengujian pertumbuhan vegetatif tanaman.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close