Artikel

Pelestarian Hutan Hujan Tropis dalam Kehidupan

Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan prosuktivitas lingkungan hidup (UU RI No. 32 tahun 2009). Komponen dalam ekosistem baik itu komponen biotik (makhluk hidup) maupun komponen abiotik (benda mati) akan terus berinteraksi dan memiliki hubungan saling bergantung antara satu komponen dengan komponen lainnya. Pada dasarnya terdapat tiga tipe ekosistem yakni ekosistem perairan (laut, danau, sungai, dan sebagainya), ekosistem darat (hutan, savana, gurun, padang rumput, taiga, dan tundra), dan ekosistem buatan (bendungan, sawah, perkebunan, hutan jati, dan sebagainya).

Ekosistem hutan hujan tropis merupakan salah satu jenis ekosistem darat. Ekosistem dalam hutan hujan tropis sangat ideal, mengingat keanekaragaman hayatinya yang sangat tinggi, siklus hara tertutup, stratifikasi tajuk yang tinggi, dan bersifat konstan secara terus menerus serta tahan terhadap gangguan (Setiadi dalam Puspaningsih, dkk., 2010). Beberapa hal tersebut menjadikan hutan hujan tropis memiliki fungsi proteksi, konservasi, dan produksi. Fungsi-fungsi tersebut sangat penting, mengingat bahwa hutan memiliki sumbangsi yang besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Namun, berbagai bentuk kegiatan manusia kadang memberi dampak negatif pada pelestarian hutan hujan tropis. Misalnya pembakaran hutan.

Menurut Rasid (2014), dampak dari terjadinya pembakaran hutan yang dirasakan secara langsung dalam kehidupan manusia seperti kerugian ekonomis yaitu hilang atau berkurangnya manfaat dari potensi hutan seperti tegakan pohon hutan yang biasa digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhannya akan bahan bangunan, bahan makanan, dan obat-obatan, serta satwa untuk memenuhi kebutuhan akan protein hewani dan rekreasi. Kerugian lainnya dapat berupa kerugian ekologis yaitu berkurangnya kawasan hutan, berkurang atau tidak tersedianya udara bersih yang dihasilkan vegetasi hutan serta hilangnya fungsi hutan sebagai pengatur tata air dan pencegah terjadinya erosi.  Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan keberadaan hutan hujan tropis, diantaranya adalah:

  1. Melarang dan memperketat pengawasan terhadap penebangan liar dan memberikan sanksi yang tegas bagi pelakunya
  2. Mengurangi pembukaan lahan untuk menjadi kawasan perumahan penduduk dan perkebunan kelapa sawit
  3. Melakukan sistem pilih. Sistem tebang pilih adalah sistem penebangan dengan memilih pohon terbaik atau pohon terburuk untuk ditebang, sesuai dengan tujuan penebangan
  4. Melakukan reboisasi di kawasan hutan yang mulai gundul.

Berdasarkan upaya-upaya diatas maka pada dasarnya dibutuhkan strategi sebagai upaya pengelolaan hutan berkelanjutan. Strategi pengelolaan hutan berkelanjutan, kuhususnya hutan hujan tropis harus mempertimbangkan beberapa hal, misalnya fungsi lingkungan yang tentunya dikaitkan dengan aspek lain misalnya sosial budaya dan ekonomi. Adapun strategi yang dapat diterapkan menurut Tias (2011), terkait program perlinfdungan dankoserbasiiutan, yakni melalui:

  1. Kegiatan Pengawasan dan Pengamanan Hutan
  2. Kegiatan Pengamanan Partisipatif melalui Kader Pengamanan Hutan oleh Masyarakat yang berasal dari Masyrakat sekitar hutan
  3. Kegiatan pengembangan Teknologi Tepat Guna (TTG) di bidang Kehutanan.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close