Artikel

Pelestarian Ekosistem Terumbu Karang sebagai Upaya Pembangunan Kelautan

Salah satu kekayaan yang bernilai tinggi ialah sumber daya terumbu karang beserta komponen ekosisitemnya. Terumbu karang merupakan rumah bagi 25% dari seluruh biota laut dan merupakan ekosistem di dunia yang paling rapuh dan mudah punah (Kasim, 2011). Dari hal inilah sehingga perlunya dilakukan pelestarian ekosistem terumbu karang demi pembangunan kelautan yang berkelanjutan kedepannya. Kekayaan nilai dalam ekosistem terumbu karang menyumbang manfaat yang sangat besar dan beragam dalam pembangunan kelautan. Dari hal inilah sehingga perlunya pelestarian agar ekosisitem terumbu karang tetap dapat terlihat kelestarian fungsinya. Pertumbuhan penduduk yang semakin meningat menyebabkan terjadinya  eksploitasi sumberdaya alam termasuk sumberdaya terumbu karang dan ekosistemnya yang dilakukan secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan kelestariannya. Hal ini tentunya akan berdampak pada menurunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat di sekitar terumbu karang berada, termasuk sumberdaya terumbu karang itu sendiri dan eksosistemnya. Dalam rangka menunjang pembangunan kelautan yang berkelanjutan maka sangat diperlukan berbagai upaya untuk menjaga dan melestarikan keberadaaan ekosistem terumbu karang. Pengendalian dapat diakukan dengan cara menghentikan laju degradasi terumbu karang agar tidak semakin meluas. Hal ini sangatlah penting untuk ditindaklanjuti sebab pengendalian kerusakan terumbu karang sangat diperlukan untuk  menjaga kelestarian fungsi ekosistem yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat pesisir.

Terumbu karang berasal dari terjemahan langsung bahasa Inggris dari kata  coral reefs .  Menurut ensiklopedi, reef atau terumbu adalah serangkaian struktur keras dan padat yang berada di dalam atau dekat permukaan air. Sedangkan coral atau karang, merupakan salah satu organisme laut yang tidak bertulang belakang (invertebrate), berbentuk polip yang berukuran mikroskopis namun mampu menyerap kapur dari air laut dan mengendapkannya sehingga membentuk timbunan kapur yang padat. Sekumpulan besar polip ini kemudian menyusun suatu koloni sehingga membentuk suatu struktur kerangka menurut jenisnya. Struktur ini secara bersama-sama dengan struktur koloni karang yang lain turut mengendapkan kapur dan berkonstribusi besar dalam membentuk struktur terumbu yang padat.  Seiring dengan waktu, selanjutnya terumbu ini akan menjadi substrat baru bagi koloni koloni karang berikutnya. Pada dasarnya terumbu karang terbentuk dari endapan-endapan masif kalsium karbonat (CaCO3) yang dihasilkan oleh organisme karang pembentuk terumbu (karang hermartipik) dari filum Cnidaria, ordo Scleractinia yang hidup bersimbiosis dengan plankton zooxantellae , dan sedikit tambahan dari algae berkapur serta organisme lain yang menyekresi kalsium karbonat (Bengen, 2002).

Pertumbuhan karang dan penyebarannya tergantung pada kondisi lingkungannya, yang pada kenyataannya tidak  selalu tetap karena adanya gangguan yang berasal dari alam atau aktivitas menusia. Menurut Dahuri (1996) bahwa terumbu karang terdapat pada lingkungan  perairan yang agak dangkal. Untuk mencapai pertumbuhan yang maksimum, terumbu karang memerlukan perairan yang jernih, dengan suhu perairan yang hangat, gerakkan gelombang besar dan sirkulasi air yang lancar serta terhindar proses sedimentasi. Karang dapat tumbuh dengan baik dengan penyebaran yang seimbang sangat bergantung pada kondisi lingkungannya. Menurut Kasim (2011), berbagai penelitian dan pengamatan terhadap pemanfaatan sumberdaya terumbu karang menunjukkan bahwa secara umum terjadinya degradasi terumbu karang ditimbulkan oleh dua penyebab utama, yaitu akibat kegiatan manusia ( anthrophogenic causes ) dan akibat alam ( natural causes ).

Menurut Kasim (2011) Kegiatan manusia yang menyebabkan terjadinya degradasi terumbu karang antara lain:

  1. Penambangan dan pengambilan karang,
  2. Penangkapan ikan dengan menggunakan alat dan metoda yang merusak,
  3. Penangkapan yang berlebih,
  4. Pencemaran perairan,
  5. Kegiatan pembangunan di wilayah pesisir, dan
  6. Kegiatan pembangunan di wilayah hulu

Menurut Kasim (2011), degradasi terumbu karang yang diakibatkan oleh alam antara lain:

  1. pemanasan global ( global warming ),
  2. bencana alam seperti angin taufan ( storm ),
  3. gempa teknonik ( earth quake ),
  4. banjir ( floods ) dan
  5. tsunami serta
  6. fenomena alam lainnya seperti El – Nino , La – Nina dan lain sebagainya.

Dewasa ini, telah banyak dilakukan pemanfaatan ekosistem terumbu karang. Namun pemanfaatan terumbu karang tersebut cenderung merusak. Hal ini dilihat dari tindakan eksploitasi yang sangat berlebihan. Mulai dari pengambilan koloni karang yang masih muda untuk sebagai bahan bangunan, penangkapan ikan karang dengan menggunakan sianida dan bom, merupakan beberapa contoh jenis eksploitasi yang sangat merusak, karena laju pertumbuhan karang tidak sejalan dengan laju eksploitasinya.

Dalam pelestarian ekosistem terumbu karang itu sendiri perlunya melbatkan bebrbagai pihak diantaranya ialah pemerintah, masyarakat, dan pihak – pihak terkait lainnya. Hal ini sejalan dengan diberlakukannya UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, maka kesempatan masyarakat lokal untuk memperoleh hak dalam mengelola sumberdaya alam yang terdapat di wilayahnya, dalam hal ini sumberdaya terumbu karang menjadi semakin besar. Hal ini merupakan keuntungan besar bagi masyarak local sebab selama ini terumbu karang hanya dimanfaatkan oleh pihak – pihak yang tidak berasal dari lingkungan terumbu karang tersebut. Meskipun kedepannya pemerintah an masyarakat mengelola bersama ekosistem terumbu karang maka sangat perlu kesadaran akan tanggung jawab  dalam menjaga dan melestarikannya tanpa melakukan tindakan yang dapat merusak ekosisitem terumbu karang itu sendiri secara berkelanjutan. Tanggung jawab yang harus dipikul oleh pemerintah daerah dan masyarakat ialah memulihkan kembali sumberdaya terumbu karang tersebut agar tetap lestari.   Menurut Kasim (2011) beberapa hal yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah dalam rangka pelestarian eosisitem terumbu karang antara lain, penyediaan infrastruktur pengelolaan, pelaksanaan penegakan hukum, pemantauan kualitas sumberdaya, pengurangan unit-unit penangkapan ikan, pengurangan daerah-daerah penangkapan ikan, berkurangnya pendapatan  dalam waktu tertentu, bantuan – bantuan teknis, administrasi, penciptaan berbagai alternatif mata pencaharian, dan lain sebagainya. Sedangkan bagi masyarakat sendiri dapat mencakup peningkatan partisipasi berupa kesadaran dan pemahaman bersama serta konsistensi terhadap perubahan perilaku yang mendukung pengelolaan bersama terumbu karang secara berkelanjutan. Hal ini termaksud Termasuk dukungan masyarakat baik itu nelayan, ibu-ibu rumah tangga, tokoh masyarakat, serta anak-anak yang punya andil yang besar dalam pelestarian ekosistem tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Untuk terlaksananya pelestarian ekosistem terumbu karang maka sangat diperlukan kerja sama yang baik antara pemerintah setempat dan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Bengen DG. 2002. Sinopsis Ekosistem Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. Bogor: Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor (PKSPL-IPB).

Dahuri R, Rais J, Ginting SP, Sitepu MJ. 1996. Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: PT. Pradnya Paramita

Kasim, Faisal. 2011. Pelestarian Terumbu Karang  untuk Pembangunan Kelautan Daerah Berkelanjutan. Gorontalo: Fakultas Pertanian Universitas Gorontalo.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close