Artikel

MENJADI BANGSA YANG KREATIF

Wilayah Indonesia terbilang strategis hal tersebut terlihat dari penempatan Indonesia yang tepat berada diantara dua buah benua sekaligus dan dua samudera, selain itu kekayaan lautan yang melimpah membuat Indonesia menjadi nadi dari perdagangan internasional namun melirik kembali bagaimana keadaan negara sekarang yang tak hentinya dirundung masalah, sebut saja beberapa masalah seperti korupsi, konflik etnis, dan kesejahtraan yang tidak merata, membuat Indonesia harus “was-was” menghadapi komunitas Asia yang semakin dekat. Banyaknya masalah Indonesia sekarang dan Arus global yang sudah tak berbatas lagi membuat Indonesia haruslah secepatnya membenahi diri dengan skala yang besar seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, “Revolusi Mental” namun pertanyaanya kemudian haruslah dengan cara bagaimana ? Prof Eko Hadi Sujiono menjawab “Dengan Cara Kreatif”.

Kamus Psikologi yang ditulis oleh Arthur S. Reber & Emily S. Reber (2010) mendefenisikan kreatifitas mengacu kepada peroses-peroses mental yang mengarah pada solusi, ide, konseptualitas, bentuk-bentuk artistik, atau produk-produk yang unik. Sementara menurut J.P Chaplin dalam kamus psikologi yang ditulisnya mendefenisi kreatif berkenaan dengan penggunaan atau upaya untuk memfungsikan kemampaun mental produktif dalam menyelesaikan atau memecahkan masalah, atau upaya pengembangan bentuk-bentuk artistik dan mekanis-biasanya dengan maksud agar orang mampu menggunakan informasi yang tidak berasal dari pengalaman atau peroses belajar secara lansung akan tetapi berasal dari perluasan konseptual dari sumber-sumber informasi tadi. Secara sederhana “Berpikir dengan cara berbeda, lebih efektif, efisien dalam menyelesaikan masalah”.

Kreatifitas Mempengaruhi Peningkatan Ekonomi           

            Indonesia merupakan Negara yang kaya namun kekayaan Negara ini ternyata berbanding terbalik dengan pertumbuhan ekonominya. Noke Kiroyan wakil ketua umum kadin bidang koordinasi dan asosiasi di liputan6.com pada 11 sepetember 2014 mengungkapkan perekonomian Indonesia tiap tahunnya mengalami penuruanan, pada tahun 2011 pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada angka 6.5 persen, pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia turun pada angka 6.2 persen, pada tahun 2013 kembali turun ke angka 5.8 persen, pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi diperkirakan turun pada angka 5.1 persen sampai 5.5 persen. Noke menambahkan neraca perdagangan Indonesia juga terus mengalami devisit di US$ 1,66 miliar, pada 2013 tercatat US$ 4,06 miliar sementara pada Januari sampai Juni 2014, total defisit neraca perdagangan di level US$ 1,15 miliar.

            Banyak solusi yang telah ditelurkan oleh pemerintah namun tidak memberikan efek yang signifikan sehingga mengundang Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk, Anton Hendranata untuk menekankan pertumbuhan ekonomi dapat tercapai jika saja pendidikan pendidikan di Indonesia terkelolah dengan baik Indonesia, pemerintah harus memanfaatkan bonus demografi sebaik mungkin. “Jika tidak memperkuat bidang pendidikan, sumber daya manusia kita tidak siap di dunia kerja, maka ini akan menjadi masalah,” tegas beliau pada liputan6.com.

            Pendidikan akan menjadi jalan yang baik untuk meningkatkan perekonomian negeri ini namun bukan hanya sekedar pendidikan yang malah membuat orang menjadi robot saja namun mendidik manusia menjadi selayaknya manusia yaitu mendidik “Kreatif”. Pada buku leassons from the top yang dikarang oleh Thomas neff dan james cirtin, Michael Eisner yang merupakan pimpinan dan CEO Walt Disney Company menekankan bahwa menjadi kreatif sangatlah penting “Kalau yang menjalankan perusahaan adalah seorang yang kreatif, saya yakin bahwa anda akan melihat sebuah produk yang bagus”. Indonesia membutuhkan kader yang kreatif, bayangkan jika ada banyak pemuda dinegeri ini melahirkan produk/jasa yang kreatif maka sangatlah mungkin perekonomian Indonsia akan melejit ke angka yang menakjubkan.

 

 

Kreatifitas Membangkitkan Motivasi

Prof.Dr. Bimo Walgito dalam bukunya Psikologi umum mendefenisikan motivasi merupakan   keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearahtujuan. Prof.Dr. Bimo Walgito melanjutkan motivasi mempunyai tiga aspek yaitu a) keadaan terdorong diri organisme, yaitu kesiapan bergerak karena kebutuhan misalnya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan, atau karena keadan mental seperti berpikir dan ingatan, b) perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan, c) goal atau tujuan yang dituju perilaku terseebut. Menurut defenisi Arthur S. Reber & Emily S. Reber kreatifitas merupakan sebuah idea tau konsep yang lahir dari berpikir dan berpikir menurut Prof.Dr. Bimo Walgito bisa menjadi alasan individu untuk termotifasi sehingga ada hubungan yang nyata antara kreatifitas dan motivasi.

Prof.Dr. Bimo Walgito menggambarkan motivasi menjadi sebuah siklus yang saling terhubung, seperti pada gambar dibawah:

                                                         Driving State

 

                                          Goal

                                                                                 Instrumental behavior

Pada tahap pertama dinamakan dinamakan driving state yaitu pendorong,  drive ini  timbul karena organism merasa ada kekeurangan dalam kebutuhan. Kretaifitas sangat mungkin menjadi driving state alasan seseorang termotifasi. Setelah itu ada namanya instrumental behavior adalah bentuk perilaku seseorang setelah mendapatkan motivasi, perilaku yang menuntun seseorang untuk mengarah ke goal. Setelah goal tercapai maka individu akan kembali lagi untuk mendapatkan driving satate.

Kreatifitas Meningkatkan Literasi

Menurut Risa Agustin pada bukunya kamus ilmiah popular mengartikan literasi sebagai perilaku membaca dan menulis. Literasi merupakan sebuah perilaku, prilaku dapat terbentuk jika ada dorongan. Menurut Dr. Kartini Kartono dalam bukunya Psikologi umum menekankan dorongan adalah desakan yang alami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup. Kreatifitas dapat menjadi dorongan yang membuat individu melakukan sebuah perilaku yaitu literasi.

Perilaku yang hanya dilakukan satu atau dua kali masih bisa dikatakan belum efektif dalam merubah individu, perilaku tersebut haruslah menjadi kebiasaan yang membuat individu selalu melakukan proses literasi. Risa Agustin  mendefenisikan kebiasaan adalah bentuk tingkah laku yang tetap dari usaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang mengandung unsur efektif perasaan. Literasi sebaiknya menjadi kebiasaan di Indonesia agar tingkah laku tersebut dapat mendorong masyarakat untuk lebih maju dalam segala bidang.

Membentuk Kebiasaan literasi dimasyarakat menurut Trini Haryanti penggiant literasi pada yayasan pengembangan perpustakaan Indonesia (YPPI) mengatakan pemerintah sebaiknya melakukan a) Pendekatan akses fasilitas baca, b) Kemudahan akses mendapatkan buku bacaan, c) Murah/gratis, c) Menyenangkan dengan segala keramahan dan d) berkelanjutan. Dengan melaksanakan kelima hal tersbeut dapat menajdi langkah terbentuknya budaya literasi yang kuat pada lingkungan masyarakat. Trini Haryanti melanjutkan pendekatan  pemerintah kepada masyarakat secara bertahap yaitu a) Sosialisasi, penyampaian niat dan kegiatan yang disediakan buat masyarakat, cara akses buku, aturan dan kebijakan yang menyertai, dan semua yang dapat dimamfaatkan masyarakat, b) Partisipasi, keterlibatan masyarakat secara aktif pada setiap kegiatan, 3) Silaturahmi, menjalin keakraban untuk menjaga komunitas literasi.

Mengembangkan Kreatifitas Di Pendidikan

Eko laksono dalam bukunya Emperium III mengutip sebuah pribahasa “Et Ipsa Scientia Est”, pengetahuan adalah kekuatan, tidak salah jika banyak negara di dunia ini berlomba-lomba untuk mengembangkan ilu pengetahuan tidak terkecuali negara yang ada di Asia. Malaysia yang menjadi negara tetangga yang tergabung pula di Asia ini juga sedang gembor-gembornya mengembangkan pengetahuan bahkan Mahathir Mohammad mantan perdana mentri malasysia di politik.rmol.co menegaskan bahwa tingkat buta huruf masyarakat Malaysia mencapai nilai 0 persen dan kebanyakan warga Malaysia memiliki kemampuan di atas rata-rata di bidang pengetahuan alam, teknik dan matematika.

Mengupayakan pendidikan yang memanusiakan manusia adalah tolak menajdi negara yang maju di asia, namun bukan mendidik yang sekedar mendidik dengan tidak mengembangkan ke khususan individu karena untuk mendidik bukan hanya sampai pada mengetahui namun pada kreatif seperti yang di ungkapkan oleh Albert Einstein “Imagination is more important than knowledge because knowledge is limited, whereas imagination embraces tahe entire word, stimulating progress, giving birt to evolution” Pengetahuan akan membuat manusia maju, tetapi imajinasilah yang mendorong kreativitas unggul yang akan menghasilkan lompatan-lompatan besar peradaban. Sehingga siapapun negara yang berhasil mengembangkan kreatifitas dengan jalan pendidikan maka akan menjadi negara yang maju dalam peradaban.

Pengembangan pendidikan terutama literasi akan memicu banyak generasi untuk berpikir secara kreatif, berpikir secara kreatif akan memicu perilaku inovasi yang akan menciptakan produk, jasa atau bahakan pemerintahan yang berefek positif pada negara. Sehingga Literasi, Kreatif dan inovasi menjadi pilar yang kokoh dalam menentukan negara yang mana akan dominan di Asia.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close