Call us on 0823-9388-3833

Home » Artikel » Mengembangkan Pertanian Organik sebagai Upaya Pertanian Berkelanjutan

Mengembangkan Pertanian Organik sebagai Upaya Pertanian Berkelanjutan

Berbicara tentang pertanian maka hal pertama yang kita fikirkan adalah kebutuhan pangan yang menjadi sumber makanan kita sehari-hari. Sejarah Indonesia pun tidak terlepas dari sektor pertanian (yang menghasilkan padi, jagung, sagu, dll) dan perkebunan (yang menghasilkan buah-buahan) terutama pada masa penjajahan kolonial Belanda kegiatan pertanian dan perkebunan menjadi penentu tingkat sosial dan perekonomian seseorang (Bukhori, 2014). Pertanian merupakan salah satu sektor yang mempunyai peranan penting dalam struktur pembangunan perekonomian nasional melalui pertanian yang berkelanjutan.  Hal ini dikarenakan mata pencaharian terbesar penduduk di dunia termasuk Indonesia adalah pertanian. Menurut Prof. Ir. Soedarsono Hadisaputro dalam Sudalmi (2010) pembangunan perekonomian adalah suatu proses yang diarahkan untuk menambah produksi perkapita, memperbesar pendapatan perkapita dan mempertinggi produktivitas dengan jalan menambah pendapatan modal dan skill. Sedangkan pertanian berkelanjutan adalah pengelolaan sumberdaya yang berhasil untuk usaha pertanian guna membantu kebutuhan manusia yang berubah sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan melestarikan sumber daya alam (Sudalmi, 2010).

Kegiatan pertanian sangat berpengaruh dalam mengurangi angka pengangguran di Indonesia dan juga berpengaruh terhadap perkembangan suatu negara sehingga hal ini tidak dapat diabaikan. Selain itu, Indonesia juga merupakan negara yang subur akan tanah, kaya akan sumber daya alam, sehingga berpotensi untuk mengembangkan usaha pertanian. Kementerian Pertanian kemudian menyusun dan melaksanakan tujuh strategi Utama Penguatan Pembangunan Pertanian untuk Kedaulatan Pangan (P3KP) yang meliputi: (1) peningkatan ketersediaan dan pemanfaatan lahan, (2) peningkatan infrastruktur dan sarana pertanian, (3) pengembangan dan perluasan logistik benih/bibit, (4) penguatan kelembagaan petani, (5) pengembangan dan penguatan pembiayaan, (6) pengembangan dan penguatan bioindustri dan bioenergi, serta (7) penguatan jaringan pasar produk pertanian.

Akan tetapi kondisi pertanian saat ini masih dihadapkan pada berbagai masalah dalam mencapai pembangunan berkelanjutan seperti kerusakan lingkungan dan perubahan iklim; konversi lahan yang tidak terkendali; penurunan kualitas lahan; kepemilikan lahan; sistem pembenihan dan pembibitan nasional; akses petani terhadap permodalan kelembagaan petani dan penyuluh; keterpaduan antar sektor, dan kinerja pelayanan birokrasi petanian (Renstra Kementan Tahun 2015-2019). Salah satu masalah pertanian yang paling sering kita lihat adalah berkurangnya serta terjadinya penurunan kualitas lahan yang diakibatkan karena penggunaan bahan kimia sintetis yang berlebihan dalam sektor pertanian.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut maka diperlukan suatu upaya agar tercapainya pembangunan pertanian berkelanjutan dan salah satunya adalah dengan penerapan sistem pertaniaan organik. Pertanian organik di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Yayasan Bina Sarana Bakti (BSB) dengan usaha tani sayuran organik di Bogor, Jawa Barat pada tahun 1984. Pertanian organik adalah sistem pertanian holistik yang mendukung dan mempercepat biodiversity, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah (IFOAM, 2008). Tujuan utama dari pertanian organik adalah untuk mengotimalkan kesehatan dan produktivitas komunitas interdependen dari kehidupan di tanah, tumbuhan, hewan, dan manusia (Mayrowani, 2012).

Keberlanjutan pertanian organik tidak dapat dipisahkan dengan dimensi ekonomi, selain dari dimensi lingkungan dan sosial. Pertanian organik tidak hanya sebatas meniadakan penggunaan input sintetis, tetapi juga pemanfaatan sumber-sumber daya alam secara berkelanjutan, produksi makanan sehat, dan penghematan energi. Aspek ekonomi dapat berkelanjutan bila produksi pertaniaannya mampu mencukupi kebutuhan dan memberikan pendapatan yang cukup untuk para petani. Pertanian organik belum sepenuhnya memasyarakat, baik oleh petani maupun pemerintah yang mencanangkan program kembali ke organik (go organic) tahun 2010. Walaupun program kembali ke organik tidak berjalan seperti yang diharapkan, namun Indonesia masih mempunyai peluang untuk mengembangkan pertanian organik dengan potensi yang dimilikinya. Yang ingin disampaikan penulis adalah pertanian organik merupakan pertanian yang berwawasan lingkungan karena ikut melestarikan lingkungan dan memberikan keuntungan pada pembangunan pertanian berkelanjutan sehingga untuk menunjang perekonomian nasional, penerapan sistem pertanian organik sangat diperlukan. Keberhasilan pengembangan pertanian organik juga akan terwujud ketika ada dukungan dari pemerintah baik dalam bentuk pelatihan, modal produksi serta regulasi masing-masing tingkat Pemerintah Daerah.

Referensi

Bukhori M. 2014. Sektor Pertanian Terhadap Pembangunan di Indonesia. Universitas Pembangunan Nasional “Veteran’’. Surabaya.

IFOAM. 2008. The World of Organic Agriculture-Statistic Emerging Trends 2008. Http://www.soel.de/fachtheraaii

Kementerian Pertanian. 2015. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2015-2019.

Mayrowani Henny. 2012. Pengembangan pertanian organic di Indonesia. Forum Penelitian Agro Ekonomi. 30 (2): 91:-108

Sudalmi Endang. 2010. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. Jurnal Inovasi Pertanian. 9 (2).

Related Post

Penelitian Pre Eksperimen Penelitian Pre-EksperimenPenelitian pre-eksperimen atau pre-experimental designs merupakan rancangan penelitian yang belum dikategorikan sebagai e...
Penelitian Expo-Facto PENELITIAN EXPOST FACTO A. Pengertian Expost Facto Secara harfiah, expost facto berarti “sesudah fakta” karena sebab yang akan diteliti telah mempen...
Penelitian Kebijakan PENELITIAN KEBIJAKANTerdapat beragam jenis metode penelitian yang dapat digunakan dalam melakukan penelitian. Salah satu metode penelitian adalah ...
Penelitian Eksperimen Semu Rancangan Eksperimen SemuPenelitian Eksperimen adalah penelitian yang bertujuan untuk meramalkan dan menjelaskan hal-hal yang terjadi atau yang ak...