Call us on 081340000336

Home » Artikel » Masalah Penelitian

Masalah Penelitian

masalah penelitian

Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau proses sistematis untuk memecahkan masalah. Di mana masalah merupakan suatu kesenjangan antara kondisi yang diharapkan dengan kondisi yang terjadi. Menurut KBBI, masalah merupakan sesuatu yang harus diselesaikan.

            Sebelum melaksanakan suatu penelitian, terlebih dahulu peneliti harus mampu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar. Dalam hal ini kekritisan peneliti menjadi modal utama dalam menemukan sebuah masalah penelitian yang akan diteliti. Sumber-sumber masalah penelitian dapat dimulai dengan yang didapatkan dilapangan atau lingkungan. Menurut Notoatmodjo (2002), masalah penelitian secara umum dapat diartikan sebagai suatu kesenjagan (gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi serta antara harapan dan kenyataan.

            Menurut Danim (2003), perumusan masalah merupakan salah satu tahapan diantara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

A. Latar Belakang Masalah

            Penelitian ilmiah selalu akan didahului dengan uraian tentang latar belakang masalah. Uraian tentang latar belakang masalah tersebut merupakan alur bagi proses lahirnya suatu masalah penelitian secara formal. Melalui latar belakang masalah, pengalaman tentang permasalahan penelitian yang sedang dihadapi dapat menjadi lebih utuh. Suatu rumusan latar belakang masalah yang baik, pada umumnya mampu mengungkapkan 4 hal, yaitu:

  1. Mengungkapkan Isu-isu (Isseus)

Setiap mengawali suatu penelitian perlu dikemukakan isu-isu yang aktual mengingat bahwa isu-isu itu merupakan hal yang mengganjal tentang sesuatu hingga memerlukan penyelesaian. Isu-isu tersebut dapat berupa gejala, fenomena, atau bahkan komentar yang sedang ramai atau hangat saat ini. isu dapat berperan sebagai masalah pokok yang segera memerlukan penyelesaian. Perlu diingat bahwa isu jelas sangat berbeda dengan gosip hal lain yant perlu diingat bahwa sepanjang pernyataan tentang masalah masih bisa dibantah, maka tidak bisa dikatakan sebagai isu (Sangaji & Sopiah, 2010).

  1. Mengungkapkan Fakta-fakta (Exiting Information)

Masalah penelitian bisa juga menguraikan fakta-fakta yang memperkuat isu. Maksudnya, ada keyakinan bahwa isu yang diangkat tidaklah dibuat-buat, melainkan nyata adanya. Fakta-fakta yang dimaksud umumnya tentang data berupa angka-angka, maupun data-data kualitatif. Sumber data ataupun fakta tersebut seharusnya disebutkan, misalnya dari suatu media massa, jurnal, laporan sebuah instansi, atau hasil penelitian sebelumnya. Peneliti hendaknya memperhatikan pula kualitas dan keaktualan fakta-fakta yang dikemukakan tersebut.

  1. Menguraian Kebutuhan Penelitian (Need)

Sebaiknya peneliti juga menguraikan kebutuhan penelitian, yaitu memberikan argumentasi atau justifikasi untuk apa masalah dipecahkan melalui penelitiannya. Suatu penelitian akan memiliki nilai lebih apabila hasilnya dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan suatu permasalahan atau kepentingan yang lain.

  1. Memiliki Tingkat Kesukaran Berkaitan dengan Pemecahan Masalahnya (Difficulty)

Memiliki tingkat kesukaran berkaitan dengan pemecahan masalah, maksudnya adalah selain menarik, penelitian yang mengangkat atau meneliti masalah tersebut masih langka atau jarang. Jadi, jika masalah tersebut diteliti, maka akan menjadi bahan masukan atau informasi yang berharga bagi siapa pun yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti tersebut.

B. Syarat Masalah Penelitian

            Penelitian akan berjalan dengan baik apabila peneliti mampu memahami masalah penelitian dengan baik. Masalah penelitian dapat dikembangkan dari berbagai sumber, diantaranya adalah:

  1. Kepustakaan
  2. Bahan diskusi temu ilmiah, hasil seminar, simposium atau lokakarya.
  3. Pengalaman atau observasi lapangan.
  4. Pendapatan pakar yang masih bersifat spekulatif.

Daftar Pustaka:

Danim. S. 2002. Menjadi Peneliti Kualitatif. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2003.  Metode Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Sangaji, E.M., Sopiah. 2010. Metode Penelitian: Pendekatakan Praktis dalam Penelitian.   Yogyakarta: Andi Offset.