Artikel

Kriteria Penyusunan Hipostesis Penelitian

Kriteria Penyusunan Hipotesis Penelitian

Dalam sebuah penelitian hal yang perlu dilakukan setelah kerangka berpikir adalah penyusunan hipotesis penelitian.

Menurut Arikunto (2006) hipotesis merupakan gabungan dari kata “hipo” yang artinya di bawah dan “tesis” yang artinya “kebenaran” sehingga secara keseluruhan hipotesis berarti di bawah kebenaran (belum tentu benar) dan baru diangkat menjadi suatu kebenaran jika memang telah disertai bukti-bukti. Dari paparan diatas dapat dikatakan bahwa hipotesis adalah jawaban yang sifatnya sementara sehingga perlu di lakukan pengujian secara faktual.

Setelah merumuskan hipotesis tentu penting untuk menilai kelayakan dari hipotesis tersebut. Menurut Furchan, 2004 ada beberapa kriteria dalam penyusunan hipotesis antara lain:

  1. Hipotesis harus menyatakan hubungan.

Hipotesis harus merupakan pernyataan terkaan tentang hubungan-hubungan antarvariabel. Ini berarti bahwa hipotesis mengandung dua atau lebih variabel-variabel yang dapat diukur ataupun secara potensial dapat diukur. Hipotesis menspesifikasikan bagaimana variabel-variabel tersebut berhubungan. Hipotesis yang tidak mempunyai ciri di atas, sama sekali bukan hipotesis dalam pengertian metode ilmiah.

  1. Hipotesis harus sesuai dengan fakta.

Hiptesis harus cocok dengan fakta. Artinya, hipotesis harus terang. Kandungan konsep dan variabel harus jelas. Hipotesis harus dapat dimengerti, dan tidak mengandung hal-hal yang metafisik. Sesuai dengan fakta, bukan berarti hipotesis baru diterima jika hubungan yang dinyatakan harus cocok dengan fakta.

  1. Hipotesis harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dengan tumbuhnya ilmu pengetahuan.

Hipotesis juga harus tumbuh dari dan ada hubunganya dengan ilmu pengetahuan dan berada dalam bidang penelitian yang sedang dilakukan. Jika tidak, maka hipotesis bukan lagi terkaan, tetapi merupakan suatu pertanyaan yang tidak berfungsi sama sekali.

  1. Hipotesis harus dapat diuji.

Hipotesis harus dapat diuji, baik dengan nalar dan kekuatan memberi alasan ataupun dengan menggunakan alat-alat statistika. Alasan yang diberikan biasanya bersifat deduktif. Sehubungan dengan ini, maka supaya dapat diuji, hipotesis harus spesifik. Pernyataan hubungan antar variabel yang terlalu umum biasanya akan memperoleh banyak kesulitan dalam pengujian kelak.

  1. Hipotesis harus sederhana.

Hipotesis harus dinyatakan dalam bentuk yang sederhana dan terbatas untuk mengurangi timbulnya kesalahpahaman pengertian. Semakin spesifik atau khas sebuah hipotesis dirumuskan, semakin kecil pula kemungkinan terdapat salah pengertian dan semakin kecil pula kemungkinan memasukkan hal-hal yang tidak relevan ke dalam hipotesis.

  1. Hipotesis harus bisa menerangkan fakta.

Hipotesis juga harus dinyatakan daam bentuk yang dapat menerangkan hubungan fakta-fakta yang ada dan dapat dikaitkan dengan teknik pengujian yang dapat dikuasai. Hipotesis harus dirumuskan sesuai dengan kemampuan teknologi serta keterampilan menguji dari si peneliti.

Berdasarkan uraian diatas pada dasarnya dalam menyusun hipotesis tidak sembarangan tetapi perlu beberapa hal yang harus dipenuhi salah satu yang paling penting adalah korelasi antara apa yang diketahui peneliti dengan fakta yang ada di lapangan.

 

Daftar Pustaka.

Arikunto, S., 2006, Prosedur Penelitian: Suatu Pengantar Praktik, Jakarta: Rineka Cipta.

Furchan, A., 2004, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close