Artikel

KONSUMSI DAN PRODUKSI BERKELANJUTAN BIODIESEL SEBAGAI BAHAN BAKAR MINYAK (BBM)

 

Konsumsi bahan bakar minyak di Indondesia tiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Salah satu penggunaan bahan bakar minyak yaitu alat transportasi. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Elinur, dkk (2010: 117) alat transportasi mengalami peningkatan penggunaan bahan bakar minyak sebesar 5,31% pertahun pada periode 1990-2008. Konsumsi bahan bakar minyak yang semakin meningkat tersebut menyebabkan semakin meningkat pula jumlah bahan bakar minyak yang harus disediakan oleh negara untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia. Jika kebutuhan itu tidak terpenuhi maka akan dilakukan impor bahan bakar minyak dari luar negeri yang akan berakibat pada terkurasnya keuangan negara. Maka dari itu perlu adanya inovasi untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Bahan bakar minyak terbarukan merupakan salah satu inovasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia. Indonesia merupakan negara tropis yang kaya akan sumber daya alam hayati. Sumber daya alam hayati di Indonesia sangat bervariasi.  Indonesia berada pada urutan kedua sebagai negara dengan keanekaragaman sumber daya alam hayati setelah negara Brazil yang berada pada urutan pertama. Ada sekitar 5.131.100 sumber daya alam hayati yang ada diseluruh dunia dan terdapat sekitar 15,3% ada di Indonesia (Bahtera, 2017). Sumber daya alam hayati adalah sumber daya alam yang asalnya dari mahluk hidup. Salah satu sumber daya alam hayati yaitu sumber daya tumbuhan. Sebagian tumbuhan memiliki kandungan minyak yang tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu bahan yang dapat digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil yaitu biodiesel. Biodiesel adalah bahan bakar mesin diesel yang dibuat dari minyak nabati atau lemak hewani yang biasanya dibuat dengan cara esterifikasi (Pardamean, 2008: 13).

Biodiesel dapat dibuat dengan bahan dasar berupa hasil limbah produksi bahan pangan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitriyana (2012) dedak padi dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan biodiesel. Penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Amalia (2013: 4) bahwa dedak padi dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biodiesel karena kandungan minyak yang tinggi. Hasil dari ekstraksi menggunakan soxklet diperoleh bahwa terdapat 0,734 gram minyak dalam 5 gram dedak padi. Limbah lain yang dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biodiesel adalah ampas tahu. Pembuatan biodiesel dengan menggunakan ampas tahu dilakukan oleh Buchori (2012: 49) dedak padi digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biodiesel karena kandungan lemak yang dimiliki. Limbah selanjutnya yang dapat dimanfaaatkan sebagai bahan dasar yaitu limbah biji kopi. Penelitian tentang pembuatan biodiesel berbahan dasar limbah biji kopi dilakukan oleh Simbolon (2013: 49) bahwa limbah biji kopi mengandung minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk pembuatan biodiesel. Minyak yang terkandung dalam limbah biji kopi diekstraksi. Adapun pelarut yang menghasilkan minyak yang tinggi yaitu pelarut toluena. Berdasarkan beberapa penelitian tersebut maka dapat diketahui bahwa sangat banyak limbah sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk membuat biodiesel yang merupakan bahan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar negara Indonesia.

Bahan dasar yang dapat digunakan untuk membuat biodiesel jumlahnya melimpah di Indonesia dan juga sebagian besar bahan yang digunakan merupakan limbah, seperti dedak, ampas tahu dan limbah biji kopi. Berdasarkan data BPS (2016) bahwa jumlah gabah kering yang diperoleh pada tahun 2015 sebanyak 75,36 juta ton dan pada tahun 2014 jumlah produksi kedelai sebanyak 953,96 ribu ton.  Selanjutnya menurut Kemenperin (2013), Indonesia menempati urutan ketiga dalam hal jumlah produksi kopi di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Pada tahun 2012 produksi kopi di Indonesia 748 ribu ton.  Hal ini menunjang ketersediaan jumlah dedak padi, ampas tahu dan limbah biji kopi yang akan digunakan sebagai bahan dasar pembuatan biodiesel. Ketersediaanya yang melimpah dan dapat diperbaharui maka bahan tersebut dapat digunakan untuk memenuhi konsumsi dan produksi bahan bakar minyak berkelanjutan. sehingga kebutuhan bahan bakar minyak Indonesia tidak lagi terpenuhi melalui impor tetapi diproduksi sendiri dalam negeri.

DAFTAR PUSTAKA

Amalia, Rizky., Riza Afifuddin., Siti Zullaikah, dan Rachimoellah. 2013. Pembuatan Biodiesel dari Dedak Padi tanpa Katalis dengan Metode Air dan Etanol Subkritis. JURNAL TEKNIK POMITS 2(1): 4.

Badan Pusat Statistik (BPS). 2016. Produksi Padi Tahun 2015 Naik 6,37 Persen. BPS. Jakarta.

Bahtera, Eka. 2017. Terbesar Kedua Dunia, Keanekaragaman Hayati Indonesia Baru Tergarap 5%. http://news.unpad.ac.id [19 Februari 2017].

Buchori, Luqman., Setia Budi Sasongko., Didi Dwi Anggoro., dan Nita Aryanti. 2012. Pengambilan Minyak Kedelai dari Ampas Tahu Sebagai
Bahan Baku Pembuatan Biodiesel.
Jurnal Ilmu Lingkungan. 10(2): 49.

Elinur., Priyarsono., Mangara Tambunan, dan Muhammad Firdaus. 2010. Perkembangan Konsumsi dan Penyediaan Energi dalam Perekonomian Indonesia. Journal of Agricultural Economics (IJAE). 2(1): 117.    

Fitriyana, Luluk Amnah., Soeprodjo, dan Sri Kadarwati. 2012. Produksi Biodiesel dari Dedak Padi (Rice Bran) Melalui Dua Tahap Reaksi In-Situ. Journal of Chemical Science. 1(2): –

Kememetrian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin). 2014. Produksi Kopi Nusantara Ketigan Terbesar di Dunia. Kemenperin. Jakarta.

Pardamean, Maruli. 2008. Panduan Lengkap Pengelolaan Kebun dan Pabrik Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka.

Simbolon, Bella., Kartini Pakpahan dan Siswarni. 2013. Kajian Pemanfaatan Limbah Biji Kopi (Arabika) sebagai Bahan Baku Pembuatan Biodiesel. Jurnal Teknik Kimia. 2(3): 49.


 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close