Artikel

Kekayaan Manusia dibawah Krisisnya Laut Indonesia

 Laut merupakan ciptaan Allah SWT  yang sangat besar kenikmatannya, hamparan air yang luas memberikan pesona indah dan suasana yang tenang ketika dilihat dari ketinggian. Namun ketika dipandang lebih dekat dengan menyelam hingga kedasar, nampaklah sebuah kehidupan organisme akuatik yang penuh dengan keramaian. Luasnya hamparan laut memberikan manfaat yang luas pula bagi manusia, pemanfaatan tempatnya saja sebagai objek wisata dapat meningkatkan pendapatan negara. Air laut yang asin dimanfaatkan oleh para buru tani garam untuk menjadi penyedap rasa di dapur, pasir laut yang bersih dijadikan sebagai hiasan.Ikan-ikan di laut yang menjadi makanan pokok manusia, terumbu karang yang menjadi tempat hidup dan berkembangbiak dijadikan pula oleh manusia sebagai sumber mata pencaharian dalam peningkatan ekonominya.

Manfaat laut tersebut memberikan peluang besar bagi Negara Indonesia yang dikenal dengan negara kepulauan. Menurut Pramudyanto (2014) jumlah pulau di Indonesia sekitar 13.466 pulau dengan garis pantai sepanjang 80.791 km, kondisi seperti ini menyebabkan Indonesia memliki peluang untuk mengembangkan potensi sumber daya laut dan pesisir. Sumber daya hayati di muka bumi ditemukan dalam lokasi-lokasi geografis tertentu, seperti wilayah pesisir, sungai, danau dan bagian laut dalam. Kepemerintahan termasuk penduduk dalam suatu negara berkewajiban melakukan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup demi pelaksanaan pembangunan yang berkelanjutan sehingga lingkungan tetap menjadi sumber dan penunjang hidup rakyat Indonesia serta makhluk hidup yang lain. Apalagi penduduk di wilayah pesisir yang semakin meningkat sehingga menyebebakan sumberdaya di laut menjadi alternatif pendukung pembangunan daerah maupun nasional yang strategis di masa mendatang. Sehingga wajar jika banyak yang mengusahakan kiprah pembangunannya pada wilayah pesisir dan laut (Pramudyanto, 2014).

Ketergantungan manusia pada sumber daya hayati dapat berupa kebutuhan bahan makanan maupun sebagai industri. Ketergantungan tersebut memberikan konsekuensi pada penduduk Indonesia untuk tetap menjaga keanekaragaman hayati dan kebersihan ekosistem laut, karena lingkungan yang baik merupakan idaman semua warga negara. Aktifitas ketergantungan tersebut  merupakan ancaman pada sumber daya hayati pesisir dan laut. Kekayaan sumber daya alam pesisir dan laut yang terus dieksploitasi yakni hutan mangrove, terumbu karang, padang lamun, rumput laut, hasil perikanan, serta kekayaan bahan tambang dan mineral.

Hutan mangrove merupakan salah satu ekosistem laut yang terdapat di daerah pasang surut wilayah pesisir, pantai, dan pulau-pulau kecil. Mangrove memiliki nilai ekonomis yang tinggi tapi sangat rentan pula terhadap kerusakan. Fungsi mangrove  dapat menjadi penahan ombak, angin, serta perkembangbiakan berbagai jenis kehidupan di laut serta habitat bagi satwa liar, mangrove pun dapat dijadikan sebagai tempat wisata dan memiliki fungsi keragaman hayati yang tinggi. Keanekaragaman hayati laut seperti terumbu karang adalah salah satu yang menjadi perhatian ketika berbicara tentang ekosistem laut. Menurut (Pramudyanto, 2014) Berdasarkan data SLHI tahun 2013mengenai luas terumbu karang menyatakan bahwa luat terumbu karang di Indonesia 50.875 km2 atau 18 % dari total terumbu karang di dunia. Namun, kondisi terumbu karang di Indonesia menurut hasil penelitian Oseanografi LIPI tahun 2012 di 1.133 lokasi menunjukkan hanya 5,30 % terumbu karang yang kondisinya sangat baik, 27,19 % baik, 37, 25 % cukup baik dan 30,45 % kurang baik.

Kondisi tersebut sangat memprihatinkan. Hal tersebut seharusnya memberikan pertanyaan besar bagi manusia yang hanya menjadi penikmat. Manusia sekarang seakan hanya ingin menjadi penikmat permanen dengan mengambil harta dari laut tanpa meninggalkan warisan untuk penerus selanjutnya. Kita selalu mengambil apa yang laut miliki tanpa memberikan ucapan terima kasih kembali. Aktivitas manusia yang mempengaruhi kondisi laut bukan hanya yang terjadi pada daerah pesisir ataupun di dasar laut, namun aktivitas-aktivitas di daratan seperti kegiatan eksploitasi besar-besaran menjadi penyebab kerusakan sumber-sumber kehidupan yang ada di bumi. Kerusakan pada suatu ekosistem akan berdampak pula pada ekosistem yang lain. Ketika terjadi suatu eksploitasi besar-besar maka akan menyebabkan peningkatan gas-gas berbahaya di atmosfer, hal tersebut akan mengundang pemansan global, pemanasan globalpun akan mengundang perubahan iklim yang akan menyebabkan peningkatan suhu dan keasaman air laut yang berujung pada tingkat produksi perikanan di Indonesia. Oleh karena itu bukan hanya sebuah kesadaran yang diperlukan tapi sebuah tindakan untuk menghentikan kondisi laut Indonesia yang krisis.

SUMBER

Pramudyanto, Bambang. 2014. Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan di   Wilayah Pesisir. Jurnal Lingkar Widyaiswara. 1(4).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close