Artikel

Karakteristik Penelitian Kualitatif

Karakteristik Penelitian Kualitatif

Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memahami kondisi suatu konteks dengan mengarahkan pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret kondisi dalam suatu konteks yang alami, tentang yang sebenarnya terjadi di lapangan studi.

Setiap peneliti kualitatif wajib memahami karakteristik metodologi yang digunakannya, karena secara jelas mewarnai setiap langkah kegiatan dalam proses pelaksanaan penelitian yang membedakannya dengan pelaksanaan penelitian kuantitatif. Posisi karaktristik metodologi penelitian kualitatif, hubungannya dengan paradigma dan teori pendukung,

Ketidakpamahaman peneliti terhadap karakteristik metodologi penelitian kualitatif dapat berakibat terhadap rendahnya kualitas penelitian yang dilakukan dan keterpercayaan hasil penelitian yang diperoleh. Selain itu dapat menyebabkan terjadinya kesesatan dalam berpikir secara konseptual, dan kerancuan dalam pemilihan bentuk-bentuk teknis dalam proses pelaksanaan penelitian.

Ketidakpamahaman peneliti terhadap karakteristik metodologi penelitian kualitatif dapat menyebabkan terjadinya pencampuradukan penggunaan metodologi yang berbeda dalam satu kali kegiatan penelitian. Akibat dari kerancuan logika pemikiran yang mungkin timbul karena tidak pahamnya peneliti pada karakteristik metodelogi yang dipilih dapat berdampak pada hasil penelitian yang bias, atau error sehingga tidak dapat dipertanggungjawabkan kualitas keilmiahannya.

  1. Studi Kasus

Menurut Sutopo (2002:136) dengan memperhatikan beberapa batasan penelitian kualitatif, dapat dipahami bahwa pada hakikatnya penelitian kualitatif itu merupakan studi kasus, yaitupenelitian yang terikat pada konteksnya. Maksudnya, semua rancangan studi kasus dalam penelitian kualitatif selalu bersifat kontekstual, yaitu penelitian yang mendasarkan kajiannyapada sifat kekhususan, dan sama sekali tidak ada usaha pemikiran untuk melakukan generalisasi terhadap konklusi penelitian.

MenurutYin (2000:65-85), dalam melakukan penelitian studi kasus, peneliti dapat berinteraksi terus menerus dengan isu-isu teoretis yang dikaji dan dengan data-data yang dikumpulkan. Selain itu, juga dapat menggunakan berbagai sumber bukti penelitian tentang peristiwa yang berkonteks kehidupan nyata. Peneliti studi kasus ini mengarahkan pada pendeskripsian secara rinci dan mendalam mengenai potret kondisi dalam suatu konteks, tentang apa yang sebenarnya terjadi menurut apa adanya di lapangan studi. Mengingat bahwa jenis penelitian studi kasus ini sangat mementingkan deskripsi proses tentang apa, mengapa dan bagaimana sesuatu terjadi, untuk mengarah pada pemahaman makna dari suatu fenomena yang dikaji.

 

  1. Kasus Terpancang dan Tidak Terpancang

Dalam penelitian kualitatif terdapat istilah studi kasus terpancang (embedded case study) dan tidak terpancang (grounded research). Disebut studi kasus terpancang apabila fokus utama penelitian telah ditentukan sejak awal sebelum peneliti ke lapangan. Sejak awal, masalah telah dirumuskan untuk membimbing arah penelitian di lapangan. Hal-hal yang tidak relevan dengan masalah diabaikan, sehingga penelitian lebih focus, dan desain asli penelitian tetap sesuai dengan rumusan awal. Menurut Yin (2000:53), desain terpancang ini merupakan perangkat inquiry dalam studi kasus.

Dalam studi kasus tidak terpancang (grounded research)atau penelitian penjelajahan, dari awalnya peneliti bersikap terbuka, tanpa prasangka, dengan tidak menyusun pertanyaaan yang mengarah pada fokus permasalahan tertentu, karena sasaran penelitian beragam permasalahannya dan belum diketahui atau masih asing bagi peneliti. Peneliti pada studi kasus tidak terpancang (grounded research) selalu bersikap lentur dan terbuka terhadap segala yang ditemukan di lapangan. Karena itu, peneliti tidak menggunakan teori ataupun proposal pada awal kegiatan penelitian untuk menghadapi berbagai informasi yang akan ditemukan di lapangan.

Dalam penelitian kualitatif, baik studi kasus terpancang maupun tidak terpancang, kajiannya cenderung mengarah pada analisis hubungan sebab-akibat dari beberapa variabel untuk dipahami maknanya.

 

  1. Kasus Tunggal dan Ganda

Jenis penelitian kualitatif dapat dibedakan berdasarkan atas jumlah kasusnya yang dikaji. Disebut sebagai penelitian dengan pendekatan studi kasus tunggal, apabila penelitian terarah pada sasaran dengan satu karakteristik saja, meskipun jumlah lokasi penelitiannya ada banyak atau lebih dari satu  (beberapa kelompok atau sejumlah pribadi). Apabila kasus yang dikaji memiliki karakteristik yang sama atau seragam maka penelitian kualitatif tersebut tetap disebut dengan studi kasus tunggal.

Jumlah sasaran (lokasi studi) tidak menentukan suatu penelitian berupa studi kasus tunggal atau kasus ganda. Dalam hal ini, yang terpenting bukan jumlah sasaranatau lokasi studinya, tetapi ada atau tidaknya perbedaan karakteristik sasaran atau lokasi studi yang memungkinkan terjadinya perbedaan hasil penelitian.

Sejalan dengan penjelasan di atas, penelitian dengan pendekatanstudi kasus ganda mempersyaratkan adanya sasaran penelitian yang lebih dari satu macam dan memiliki perbedaaan karakteristik. Penelitian tersebut dapat saja dilakukan dalam satu tempat atau lokasi atau beberapa beberapa lokasi penelitian. Akan tetap disebut sebagai studi kasus gandajika di dalam penelitian tersebut terdapat dua karakteristik atau lebih sasaran penelitian.

Dengan demikian, meskipun sebuah penelitian dilakukan dalam banyak lokasi, apabila sasaran penelitian memiliki karakteristik yang sama, penelitian tersebut tetap merupakan sebuah penelitian dengan jenis studi kasus tunggal.

 

  1. Permasalahan Masa Kini

Pada umumnya penelitian kualitatif mengarahkan kegiatannya pada masalah kekinian. Kepentingan pokoknya diletakkan pada peristiwa nyata pada dunia aslinya, bukan sekedar laporan yanga ada (Van Maanen, dalam Sutopo, 2006:36). Subjek peristiwa yang diteliti bukanlah masa lampau seperti dalam penelitian sejarah. Dengan demikian penelitian kualitatif bersifat empirik dengan sasaran penelitiannya yang berupa beragam permasalahan yang terjadi.

 

  1. Latar Alami (Natural Setting)

Topik penelitian kualitatif pada umumnya diarahkan pada kondisi asli apa adanya, sesuai dengan di mana, dan kapan subjek penelitian berada. Dengan demikian sasaran penelitian kualitatif berada dalam posisi kondisi asli seperti apa adanya secara alami tanpa rekayasa peneliti.

Dalam penelitian kualitatif, peneliti menggunakan waktunya untuk mengumpulkan data secara langsung. Data penelitian yang dikumpulkan secara langsung merupakan informasi yang diperoleh berdasarkan perspektif para subjek yang diteliti dalam konteks yang alami (natural setting). Konteks yang alami atau natural setting menunjukkan bahwa penelitian cenderung mengarahkan kajiannya pada perilaku manusian sehari-hari dalam keadaan yang rutin secara apa adanya seperti sedia kala, tanpa ada usaha perekayasaan atau manipulasi dari peneliti selama proses penelitian berlangsung.

 

  1. Holistik

Penelitian kualitatif memandang berbagai masalah selalu berada dalam kesatuannya tidak terlepas dari kondisi yang lain yang menyatu dalam suatu konteks. Berbagai variabel yang dikaji tidak bisa dipahami secara terpisah dari posisi keterkaitannya dalam satu konteks keseluruhan. Satu bagian tidak memilki makna secara mandiri dan lengkap, kecuali dalam posisi dan kondisinya yang dikaitkan dengan kesatuan dalam konteksnya.

Dalam pengertian holistik, variabel sebab (independent variabel) juga tidak dapat dipisahkan dari variabel akibatnya (dependent variabel), sebab variabel independen tersebut tidak hanya berhubungan dengan variabel dependen secara kausal linear, tetapi saling berinteraksi sebagai kesatuan yang tak terpisahkan.

 

 

  1. Deskriptif

Penelitian kualitatif memusatkan pada kegiatan ontologis. Data yang dikumpulkan terutama berupa kata-kata, kalimat atau gambar yang memiliki makna dan mampu memacu timbulnya pemahaman yang lebih nyata daripada sekedar angka atau frekuensi. Peneliti menekankan catatan dengan deskripsi kalimat yang rinci, lengkap, mendalam yang menggambarkan situasi yang sebenarnya guna mendukung penyajian data. Oleh sebab itu penelitian kualitatif secara umum sering disebut sebagai pendekatan kualitatif deskriptif. Peneliti berusaha menganalisis data dalam berbagai nuansa sesuai bentuk aslinya seperti pada waktu dicatat atau dikumpulkan.

 

  1. Analisis Induktif

Pengolahan data dalam penelitian kualitatif menekankan pada analisis induktif bukan deduktif. Data yang dikumpulkan bukan untuk mendukung atau menolak hipotesis penelitian yang telah dirumuskan seperti dalam penelitian kuantitatif, tetapi abstraksi disusun sebagai kekhususan yang telah terkumpul dan dikelompokkan melalui proses pengumpulan data yang dilakukan secara teliti dan mendalam.

Teori yang akan ditemukan dalam penelitian kualitatif diperoleh di lapangan studi berdasarkan pada data yang diperoleh secara terpisah-pisah dengan berbagai bukti yang terkumpul dan saling berkaitan (bottom-up grounded theory).

 

  1. Desain Penelitian Lentur dan Terbuka

Desain penelitian kualitatif tidak disusun secara apriori, namun disusun secara lentur dan terbuka disesuaikan dengan kondisi realitas di lapangan, dengan berbagai masalahnya yang tidak diketahui sebelumnya. Proposal penelitian kualitatif pada umumnya disusun dalam bentuk garis besar dan spekulatif. Desain proposal demikian dimaksudkan bahwa masih terdapat ruang yang memungkinkan untuk perubahan, apabila apa yang telah dirumuskan dalam proposal kurang sesuai dengan kondisi lapangan.

Selain itu, dengan tujuan agar proposal penelitian kualitatif lebih terarah, pada umumnya peneliti melakukan studi awal (pilot study) terlebih dahulu, sebelum menyusun proposalnya, meskipun hal itu tidak menjamin adanya ketepatan dengan apa yang mungkin ditemukan di lapangan penelitian.

 

  1. Peneliti sebagai Alat Utama (Human Instrument)

Berbagai alat pengumpulan data dapat dimanfaatkan sebagai peralatan penunjang dalam penelitian kualitatif, namun, alat yang utama tetaplah diri peneliti. Menurut Lincoln & Guba (dalam Sutopo, 2006: 45), kedudukan peneliti sebagai alat utama penelitian memberikan banyak manfaat, karena ada keyakinan bahwa hanya manusia yang mampu memahami makna dari berbagai interaksi.

Dalam pengumpulan data penelitian kualitatif diperlukan adanya kelenturan, dan sikap terbuka untuk bisa berubah menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru, sesuai dengan realitas yang dihadapi di lapangan studi. Bentuk pengumpulan data, kualitas penelitian, dan hasil analisis dalam penelitian kualitatif sangat bergantung kepada bagaimana peneliti mampu melakukan perannya sebagai instrumen utama dalam penelitian. Oleh sebab itu, sikap kritis dan terbuka sangat penting dimiliki oleh peneliti.

 

  1. Mencari Makna dari Fenomena yang Dikaji

Dalam penelitian kualitatif, peneliti memusatkan dirinya pada participant’s perspektive. Dengan demikian dapat dihindari perumusan makna mengenai sesuatu di dalam konteksnya yang berdasarkan pandangan hanya dari penelitinya sendiri.

Dalam mengumpulkan data, peneliti memperhatikan bagaimana proses, dan mengapa sesuatu terjadi, karena makna mengenai sesuatu sangat ditentukan oleh proses bagaimana terjadinya. Dapat dikatakan bahwa dalam penelitian kualitatif kajiannya lebih ditekankan pada proses dari pada sekedar produknya. Penekanan pada proses tersebut memberikan manfaaat terutama dalam penelitian pendidikan, dalam menjelaskan tentang prediksi pencapaian diri mengenai pandangan tentang penampilan kognitif siswa yang pada umumnya dipengaruhi oleh harapan gurunya terhadap dirinya.

 

  1. Model Laporan Studi Kasus

Laporan penelitian kualitatif cenderung untuk menggunakan model laporan studi kasus. Karena pada dasarnya semua bentuk penelitian kualitataif itu merupakan studi kasus. Laporan studi kasus lebih sesuai bagi penyajian realitas multiperspektif dengan kekayaaan nuansa dan kelengkapan deskripsinya.

Meskipun tidak ada larangan untuk menggunakan laporan berbentuk standart, seperti dalam bentuk laporan penelitian kuantitatif, laporan penelitian kualitatif sebaiknya disusun dalam bentuk laporan yang lebih mementingkan isinya, dari pada sekedar struktur atau bentuk laporannya.

Menurut Yin (dalam Sutopo, 2006:52), bentuk-bentuk laporan penelitian kualitatif yang menunjukkan kelenturan antara lain adalah laporan yang disusun dengan struktur komparatif, kronologis, penyusunan teori, struktur suspense, dan struktur tak berurutan.

 

  1. Internal Sampling

Cuplikan atau sampling berkaitan dengan pembatasan jumlah dan jenis sumber data yang akan digunakan dalam penelitian. Pemikiran mengenai cuplikan itu hampir tidak dapat dihindarkan oleh peneliti dalam pelaksanaan penelitiannya, mengingat selalu ada beragam keterbatasan yang dihadapi peneliti, misalnya masalah waktu, biaya, kesempatan, tenaga dan mungkin juga hal-hal lainnya.

Dalam hal penentuan sumber data, peneliti perlu memutuskan apa, siapa dan berapa jumlah narasumber (informant), serta apa, di mana, dan bagaimanaperistiwa atau aktivitas tertentu berlangsung, serta dokumen apa yang akan dikaji secara cermat sebagai sumber informasi utama penelitiannya. Keputusan itu didasarkan atas teknik cuplikan yang akan digunakannya, yang dipandangcukup sahih atau valid dan mampu dijangkau atas dasar kondisi kemampuannya sebagai peneliti dengan segala keterbatasan yang dimiliki.

Teknik cuplikan merupakan suatu bentuk khusus atau proses bagi pemusatan atau pemilihan sampel dalam penelitian yang mengarah pada seleksi. Fokus teknik cuplikan dalam penelitian kualitatif berbeda dengan kuantitatif. Pada dasarnya ada dua model teknik cuplikan yakni pertama pengambilan sampel secara acak (random) atau random sampling atau probability sampling dan kedua adalah pengambilan sampel tidak acak, dengan dipilih berdasarkan pertimbanganpertimbangan tertentu. Pengambilan sampel ini disebut sampel kuota (quota sampling) dan bertujuan (pusposive sampling).

Teknik sampling dalam penelitian kuantitatif sangat berbeda. Pada penelitian kuantitatif (non-kualitatif) pemilihan sampel dilakukan dengan teknik cuplikan statistik (probability sampling). Dalam hal ini, sampel dipilih untuk mewakili populasi, agar pada akhirnya dapat dilakukan generalisasi. Teknik sampling itu disebut dengan external sampling. Pengambilan sampel dengan teknik eksternal ini cuplikan diambil sebagai wakil populasinya. Sebagai cuplikan memerlukan jumlah tertentu agar cukup mantap guna memenuhi usaha generalisasi bagi populasinya.

Sementara itu dalam paradigma kualitatif, peneliti memulai kajiannya dengan asumsi bahwa konteks itu kritis sehingga masing-masing perlu ditangani dari segi konteksnya sendiri (Lincol & Guba, dalam Moleong, 1990:165). Dari dua paradigma yang berbeda itulah, maka metodologi kedua jenis penelitian ini (kualitatif dan kuantitatif) juga berbeda.

Cuplikan untuk pengambilan sampel dalam penelitian kualitatif menggunakan teknik internal sampling, karena sampel diambil bukan untuk maksud generalisasi. Sampel dicuplik untuk kepentingan mewakili informasinya. Kelengkapan dan kedalaman informasi tidak ditentukan oleh jumlah sumber datanya, namun keterwakilan dari informasinya. Pada konteks tertentu, jumlah informan yang kecil dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dan benar atau akurat daripada jumlah informan yang lebih banyak tetapi kurang mengetahui dan memahami informasi yang sebenarnya sedang digali (Sutopo, 2002:55). Hal ini sesuai dengan karakter sampling penelitian kualitatif yang bersifat internal dan mengarah pada kemungkinan generalisasi teoretis.

Dalam penelitian kualitatif, teknik purposive samplingdigunakan jika peneliti menduga bahwa populasinya (dilihat dari objekstudi atau sasaran penelitian yang dipilih) tidak homogen. Oleh karena itu, dalam penelitian kualitatif, pada umumnya sampel diambil dengan teknik purposife ini. Sebagai contoh, ketika meneliti perilaku strata sosial pada siswa SMA, banyak kemungkinannya ditemukan siswa yang memiliki strata sosial yang tidak homogen. Dengan demikian maka perlu dicari sekolah yang strata sosial siswanya heterogen.

Berkaitan dengan apa yang diwakili, cuplikan dalam penelitian kualitatif memiliki peran dan fungsi yang berbeda dengan penelitian kuatitatif. Cuplikan dalam penelitian kualitatif sering disebut sebagai internal sampling yang berlawanan dengan external sampling (Bogdan & Biklen, 1982:6).

Dalam internal sampling, cuplikan diambil untuk mewakili informasinya, dengan kelengkapan dan kedalamannya yang tidak sangat perlu ditentukan oleh jumlah sumber datanya, karena jumlah informan yang kecil bisa saja menjelaskan informasi tertentu secara lengkap dan benar daripada informasi yang diperoleh daripada jumlah narasumber yang banyak yang mungkin kurang mengetahui dan memahami informasi yang sebenarnya. Cuplikan dalam penelitian kualitatif bersifat internal, atau internal sampling danhasilnya mengarah pada generalisasi teori.

 

Daftar Pustaka

Bogdan, Robert C. & Sari Knopp Biklen. 1982. Qualitative Research for Education: An Introduction to        Theory and Methods. Boston: Allyn and Bacon, Inc.

Bogdan, Robert C. and Taylors K.B. 1992. Qualitative Researtch for Education An Introduction to Theory                 and Metdods. Boston: Ally and Bacon Inc.

Moleong, Lexy J. 1990. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung. Rosda Karya.

Sutopo, H.B. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press. Yin,

Robert K. 2000. Case Study Research: Design and Methods (Edisi Terjemahan M. Djauzi Mudzakir).          Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close