Artikel

Kallang Lappa’ Lappa’ dan asal muasal kutukan mate basa (Perjalanan untuk penelitian lembaga)

Kelurahan Cikoro Kec. Tompobulu Kab. Gowa, merupakan daerah yang menjadi tujuan penelitian pendahuluan kami dalam rangka penyelesaian penelitian lembaga yang diadakan oleh LPM Penalaran. petualangan kami dimulai pada hari jumat tepatnya 5 agustus 2011. Perjalanan kali ini tidaklah mudah, untuk mencapai kecamatan Tompobulu kami harus menempuh jarak sekitar 120 km dari Makassar,

ditambah perjalanan kami berlangsung pada saat bulan Ramadhan, bulan dimana kita umat islam diwajibkan untuk berpuasa. tetapi itu tidak menjadi sebuah kendala dalam perjalanan kami, bahkan menjadi sebuah momen tersendiri yang menghiasi perjalanan kami. kami tiba di rumah kerabat salah seorang anggota peneliti sekitar jam tujuh malam, setelah brefing singkat diputuskan kita akan berangkat ke tempat narasumber pertama sekitar pukul 9.00 wita. Mate basa merupakan mitos yang beredar di sebuah kampung di kecamatan Tompobulu, tepatnya di kampung Lariang Tangnga.

Mate basa jika di artikan dalam bahasa indonesia bearti mati bersimbah

darah, merupakan cara kematian dengan penyebab yang tragis, dibunuh, kecelakaan ataupun mati melahirkan. Mitos ini menggelitik keingin tahuan kami mengenai asal-usul, dampak, dan kondisi masyarakat yang di klaim sebagai penduduk yang terkena kutukan tersebut. Pada awalnya kami ingin mengangkat judul mengenai eksistensi masyarakat kampung lariang tangnga di tengah mitos kutukan mate basa, tetapi setelah berkonsultasi dengan kanda Arham Rahman dan melihat beberapa kekurangan dari proposal penelitian yang sebelumnya telah di seminarkan dalam kegiatan seminar proposal LPM Penalaran, akhirnya di putuskan untuk melakukan penelitian pendahuluan dengan tujuan memperjelas fokus masalah dan memperkaya data dan bahan karya tulis tersebut.

6 Agustus 2011, ditengah udara sejuk pegunungan lompobattang kami berangkat menuju rumah narasumber pertama kami, pak Hanafi. Seorang lelaki tua dengan umur 70-an, beliaulah yang menceritakan asal-muasal bagaimana kutukan itu terjadi, walaupun beliau bukan keturunan langsung dari penduduk lariang tangnga tetapi beliau tahu banyak tentang mitos tersebut. Dan setelah bebrapa saat berdiskusi datang dua orang anak dari bapak hanafi ini, yang merupakan narasumber kami selanjutnya, ibu aminah dan ibu maryam.

 

Kallang lappa’ lappa’ dan asal muasal kutukan

Kutukan mate basa bisa ada karena adanya utang darah yang dilakukan oleh leluhur dari penduduk mpung lariang tangnga, konon kabarnya k allang lappa’ lappa’ merupakan kuda yang pintar yang selalu membawa k amboti (keranjang) di pungungnya dan berjalan pulang balik dari suatu kampung ke kota tidak ada yang tahu dimana asal kuda ini dan siapa pemiliknya, jika k amboti tersebut berisikan awang (kulit padi) maka pada saat pulang maka k amboti tersebut akan berisikan beras, dan jika k ambotinya berisikan k anropa (kulit bambu) maka sepulangnya dari kota maka k ambotinya akan berisikan ikan. Suatu ketika karena merasa bahwa kuda tersebut tidak bertuan, maka beberapa penduduk menangkap dan memotong kuda tersebut, mereka menimbun kepalanya dengan batu dan membawa dagingnya untuk dimakan bersama keluaraga mereka. Tempat kepala kuda tersebut di timbun sekarang dikenal dengan nama Tambung Batua yang dalam bahas indonesia diartikan sebagai tumpukan batu, dan konon kabarnya tanah yang terkena darah dari kuda ini sampai sekarng tidak ada tanaman yang tumbuh diatasnya.

Beberapa hari kemudian, penduduk yang memotong kuda tersebut geger. dikarenakan rumah mereka diberi batasan batu bata yang menandakan mereka yang telah memotong dan memakan kuda tersebut, tidak jelas siapa yang membangun bata tersebut . Tapi masyarakat disana percaya bahwa pemilik kuda tersebut yang melakukannya. cera’ ni bayara’ cera, yang artinya darah dibayar darah, ungkapan ini yang kemudian menjadi awal dari kutukan mate basa tersebut dan ini pula yang menjadi awal mengapa desa tersebut di sebut kampung lariang tangnga yang artinya batas tengah. mulai saat itu penduduk penduduk mulai di teror dengan matinya keluaraga mereka dengan bersimbah darah. Dan masyarakat diluar keturunan yang mengetahui cerita tersebut enggan untuk bergaul apalagi menjalin hubungan keluarga dengan penduduk kampung lariang tangnga. dan dari cerita dari ketiga narasumber kami bahwa memang dulu hal tersebut terbukti, tetapi dengan berjalannya waktu para penduduk sudah mulai lupa dengan kutukan tersebut selain karena semakin berkembangnya sistem kehidupan bermasyarakat juga disebabkan karena para tetua di kampung tersebut menyembunyikannya dari orang luar dan dari keturunan mereka sendiri. mereka menganggap bahwa ini adalah Siri’ yang harusmereka jaga dan tidak boleh diketahui oleh orang lain.

setelah mendengar ceita tersebut kami kemudian mengutarakan keinginan kami untuk mewawancarai penduduk desa lariang tangga, akan tetapi narasumber kami menyarankan agar tidak mewawancarai sembarang orang karena dapat menimbulkan teror bagi penduduk desa tersebut. katanya, mereka sangat sensitif jika ada orang yang mengungkit tentang sejarah tersebut. mereka was-was dan khawatir, takut kalau si penagih hutang datang dan meminta balasan terkait apa yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka. Mereka pun menceritakan bahwa para tetua dikampung tersebut menyembunyikan perihal kutukan tersebut dari orang-orang luar dan kepada keturunan mereka, hal ini mereka lakukan untuk menjaga siri’ keluaraga mereka, dan pada akhirnya kutukan tersebut lambat laun akan dilupakan oleh orang-orang. Narasumber kemudian menunjukkan kami seorang lagi narasumber yang bisa kami tanyai tentang kutukan ini, walaupun pada akhirnya kami tidak masuk kekampung tersebut untuk bertanya langsung kepada penduduk kampung lariang tangnga.

Kami akhirnya menuju narasumber kedua kami, yang rumahnya merupakan perbatasan sebelum memasuki kampung lariang tangnga, tidak ada tanda-tanda istimewa yang kami lihat, seperti yang ada pada film-film horor yang gerbangnya sampai begitu besar dan menyeramkan. semua tampak normal. Sayangnya narasumber kedua kami belum memberikan data yang kami inginkan. dan akhirnya kami memutuskan untuk mendatangi tempat yang kabarnya menjadi temnpat ditimbunnya kepala dan tulang dari k allang lappa’ lappa’. Kami pun mulai bertanya kepada penduduk, tetapi kesan awal yang kami dapat tidak begitu bersahabat, mereka seakan-akan mempertanyakan kenapa kami ingin kesana, padahal sekarang tempat tersebut cuma kumpulan sawan dan perkebunan kopi yang luas. Ada hal yang aneh yang kami liat dari cara mereka menjawab pertanyaan kami, terutama para orang tua disitu, tapi kami menganggap itu sebagai sesuatu yang terkait dengan mitos, kami tidak ingin berprasangka.

Setelah ditunjukkan tempatnya kami akhirnya menuju tempat tersebut, dan memang ternyata tempat tersebut cuma sekumpulansawan dan perkebunan kopi. walaupun pada akhirnya kami diberitahukan oleh teman yang sedari tadi mengantar kami bahwa memang ada yang menjadi pusat dari tempat tersebut akan tetapi orang yang ingin mengantar kami ketempat tersebut meminta imbalan. Entah imbalan apa.hehehehe.

setelah merasa cukup dengan data yang kami peroleh kami akhirnya beranjak pulang. Data untuk penelitian ini akan kami olah dulu untuk kemudian kita kembali untuk mencari data yang dianggap kurang.

Tuesday, 16 August 2011 23:26 AinunNajib Alfatih

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close