Call us on 0823-9388-3833

Home » Artikel » Instrumen Penggalian Data dalam Penelitian Kualitatif

Instrumen Penggalian Data dalam Penelitian Kualitatif

Penelitian sangat diperlukan dalam memahami, menjelaskan dan memberikan solusi kepada suatu masalah. Informasi-informasi yang didapatkan dari penelitian dapat dijadikan data yang ilmiah karena dikumpulkan dan diolah secara sistematis sesuai metode yang ilmiah. Penelitian penting digunakan untuk membantu berbagai aspek-aspek kehidupan di dunia. Aspek-aspek tesebut dapat berupa hal-hal yang telah nyata dapat dilihat, diukur dan dihitung maupun hal-hal yang bersifat alamiah yang sulit untuk dikuantifikasikan. Perbedaan data tersebut dibedakan secara metode, baik metode kuantitatif maupun metode kualitatif.

Data dalam penelitian merupakan “bahan” utama untuk menjalankan penelitian. Sebuah penelitian tentunya memerlukan data yang perlu diolah dan dijadikan sebagai dasar untuk mendapatkan sebuah hasil penelitian. Data di dalam penelitian diperlukan untuk membatu peneliti menarik kesimpulan dari sebuah permasalah yang diteliti. Data yang berupa angka dapat langsung diolah dengan metode tertentu serta akan mendapatkan hasil yang dapat diinterpretasikan sesuai dengan ketentuan ilmiah. Berbeda dengan data yang ddapatkn berupa hal-hal yang sulit untuk dijadikan angka, seperti proses, fenomena ataupun berupa hasil wawancara. Hal tersebut memerlukan instrumen atau metode pengumpulan data yang berbeda.

Dalam penelitian kualitatif, dikenal dengan human instrument atau data-data yang didapatkan murni dari keahlian peneliti untuk mencari, menelaah dan menangkap data yang didapatkan di lapangan. Metode-metode ilmiah yang digunakan dalam penelitian kualitatif untuk mengumpulkan data berupa wawancara, observasi, dokumentasi maupun focus group discussion.

1.Wawancara

Wawancara merupakan komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh dua pihak, yang berperan sebagai pewawancara dan sebagai informan untuk dimintai informasi (Stewart, 2012). Wawancara dalam penelitian kualitatif melibatkan peneliti sebagai pewawancara yang hendak mendapatkan informasi dari informan mengenai suatu hal yang akan dijadikan data oleh peneliti yang selanjutnya akn diinterpretasi oleh peneliti. Data yang biasanya dicari melalui instrumen wawancara adalah berupa data mengenai masa lampau atau sejarah maupun pandangan informan terhadap suatu hal.

Wawancara dilaksanakan dengan sistematis sesuai dengan metode ilmiah untuk sebuah penelitian. Aspek yang paling penting dalam wawancara adalah interkasi antara pewawancara dan informan yang dilakukan dalam bentuk pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat disusun terlebih dahulu dalam sebuah panduan wawancara (guideline) ataupun tanpa menggunakan guideline. Menurut Herdiansyah (2015) Jika dibedakan berdasarkan struktur wawancara, jenis wawancara terbagi atas terstruktur, semiterstruktur, dan tidak tersturktur.

2.Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur ciri paling utamanya adalah memiliki guideline dan harus terpaku dengan guideline yang telah disediakan. Wawancara jenis ini sering digunakan dalam penelitian kuantitatif yang berbentuk survey. Wawancara bentuk ini kurang memberikan informasi yang lebih untuk sebuah fenomena atau permasalahan sehingga kurang efektif untuk sebuah penelitian kualitatif yang memerlukan data mendalam.

3. Wawancara semi-terstruktur

Berbeda dengan wawancara terstruktur, wawancara terstuktur lebih fleksibel untuk mendalami sebuah masalah yang hendak diketahui dari informan. Wawancara semi-terstruktur juga memiliki guideline yang telah disusun sebelumnya, tetapi saat melakukan wawancara guideline tersebut dapat berkembang menjadi pertanyaan baru atau yang disebut probing. Probing ini yang berguna untuk menedalami sebuah informasi yang didapatkan dari informan. Informasi yang didapatkan dari wawancara ini berupa informasi yang mendalam, sehingga tepat dan efektif digunakan untuk penelitian kualitatif.

  1. Wawancara tidak terstukur

Wawancara jenis ini ciri umumnya adalah tidak menggunakan guideline dalam melakukan wawancara, sehingga informasi yang didapatkan akan melebar tidak mendalam seperti wawancara semi-terstuktur. Wawancara jenis ini biasa digunakan dalam acara talk-show, seminar maupun kuliah umum.

  1. Observasi

Herdiansyah (2015) menyatakan bahwa observasi dan wawancara merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpishakan dalam mengumpulkan data penelitian. Wawancara yang dilakukan oleh peneliti tidak dapat terlepas dari observasi. Peneliti perlu mengobservasi hal-hal yang terjadi selama wawancara berlangsung. Misalnya bahasa tubuh (non-verbal), intonasi serta pemilihan kata dari informan yang tentunya dapat dijadikan informasi tambahan.

Observasi yang dilakukan dalam penelitian kualitatif harus sesuai dengan metode ilmiah. Observasi juga memerlukan pedoman observasi sebagai alat bantu observer dalam mengobservasi. Pedoman observasi disusun berdasarkan tujuan observasi. Misalnya hendak mengobservasi mengenai sebuah perilaku, tentunya perlu disusun dalam pedoman mengenai aspek-aspek, indikator serta definisi operasional dari perilaku tersebut agar peneliti mampu menginterpretasi setiap gerakan yang dilakukan oleh obervervee (yang diobservasi).

Secara garis besar, observasi dibedakan menjadi dua jenis yaitu observasi patisipan dan observasi non-partisipan. Observasi partisipan melibatkan observer dalam subjek observasi, misalnya dalam meneliti perilaku agresif, peneliti sebagai observer partisipan dapat membuat perilaku agresif dari subjek observasi. Lain halnya dengan observasi non-partisipan yang tidak terlibat sama sekali dalam terjadinya objek yang hendak diobservasi.

  1. Focus Group Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) merupakan metode penggalian data atau informasi secara mendalam yang sering dilakukan dalam penelitian kualitatif tetapi banyak digunakan untuk menggali ranah sikap dan kecenderungan dari perilaku manusia. FGD dilakukan dalam bentuk diskusi yang melibatkan 7 – 12 orang untuk membahas mengenai suatu masalah. FGD dilakukan dengan dasar bahwa sikap manusia mampu berubah ketika berada di sekitar orang lain bahkan dapat bertolak belakang ketika tidak berada dalam lingkungan sosial. Hal tersebut yang dijadikan dasar bahwa FGD juga dapat dijadikan sebagai instumen penggalian data kualitiaif sama halnya dengan wawancara. FGD juga mampu dijadikan metode pengumpulan data yang efektif dalam hal waktu. Informasi yang didaptkan beragam dan dalam waktu yang relatif singkat.

Daftar Pustaka

Herdiansyah, Haris. 2012. Wawancara, Observasi dan Focus Groups sebagai Instrumen Penggalian Data Kualitatif. Jakarta: Rajagrafindo.

Stewart, Charles J. & Cash, William B. 2012. Inteviewing : Principle and Practice 9th Ed. New York: MCGraw-Hill.

 

Related Post

Apakah Penelitian itu?? Apakah Penelitian itu??Permasalahan dunia yang terselesaikan Banyak permasalahan di dunia ini bisa terselesaikan karena penemuan-penemuan inova...
Riset dalam Bisnis Pada dasarnya riset atau penelitian memiliki tujuan yaitu menguji hipotesis, mengembangkan teori-teori dan hipotesis melalui pengungkapan data serta p...
Penyajian Data dalam Penelitian Kualitatif Analisis data dalam penelitian kualitatif berbeda dengan analisis data dalam penelitian kuantitatif. Analisis kualitatif fokusnya pada penunjukkan mak...
Validitas dan Reliabilitas Instrumen dalam Peneli... Metode penelitian kuantitatif memiliki tiga kategori yaitu metode tradisional, komfirmatif dan ilmiah. Metode tradisional adalah metode yang digunakan...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *