Artikel

Harga Diri Manusia Modern di titik Materil

Diujung akhir tahun 2009 hingga menuju bulan awal di tahun 2010, bahkan hingga saat ini dunia perpolitikan Indonesia diguncang dengan berita-berita terhangat mengenai skandal Bank Century. Kasus tersebut merupakan salah satu kasus yang sempat terungkap dan dipublikasikan besar-besaran. Hujat-hujatan yang tidak tanggung-tanggung datang dari berbagai kalangan menyoroti kecerobohan yang dilakukan baik tidak sengaja maupun secara sistemik dibuat tidak sengaja. Ini hanya satu kasus dan merupakan gambaran dari pergerakan manusia modern.

Coba kita perhatikan bersama mengenai hal yang dibahas dan diperdebatkan hingga memakan waktu yang cukup panjang demi mencari titik terang kebenaran. Seluruhnya berkaitan dengan “uang” atau dengan kata lain “materi”. Upaya yang dilakukan untuk mencari kebenaran tidak sedikit, mulai dari sosialisasi, pembentukan lembaga-lembaga hukum dalam pemerintahan, hingga pembentukan komisi yang khusus menangani masalah penyelewengan “materi”. Tidak sedikit yang ternyata menjadi korban dan terjerat atas penyelewengan tanggungjawab (=baca korupsi) terhadap “materi” tersebut. Manusia modern yang semakin materialistik. Manusia modern yang kaya akan sumber daya intelektualitas, kepribadian yang matang, serta berbudaya dalam bersikap. Manusia yang semakin hari semakin memperkaya diri, melakukan pengejaran terhadap “materi” itu juga telah menjadi salah satu ciri manusia modern.

Kasus-kasus yang semakin hari menambah jajaran daftar pelaku korupsi menandakan bahwa terjadi pengejaran materi yang tidak pada jalur yang legal oleh manusia-manusia modern. Tidak dapat dipungkiri bahwa yang melakukan pengejaran terhadap materi tersebut adalah sang tokoh “manusia modern” dengan berbagai kekayaan intelektual yang dimiliki dengan begitu mudahnya dapat membangun jalur pendapatan materi dalam rangka memperkaya diri. Lebih banyak materi atau lebih banyak makna? Manusia terus menerus mengejar “materi” dengan berbagai cara tidak terhormat hingga merelakan dirinya untuk dihujat oleh publik. Jika terdapat motivasi seperti ini dalam dinamika kepribadian manusia modern, apakah materi yang mereka kejar tersebut untuk memperkaya diri hingga melupakan harga diri adalah betulbetul hal yang dicari dan dibutuhkan?. Lalu, pertanyaan kembali timbul ketika dengan mudahnya kita berpikir sebanyak apa “materi” yang dibutuhkan, atau hanya diinginkan?. Asumsikan bahwa mereka sedang mengejar harga diri mereka dibalik materi yang dikejar. Sepertinya terdapat gambaran kebahagiaan dibalik tumpukan harta. Jika memang hal tersebut terjadi, maka berbagai kasus-kasus korupsi modern saat ini yang dilakoni oleh manusia modern semata pencarian harga diri materialistik dan kebahagian materialistik.

Kembali kita berpikir, bahwa jika harga diri seseorang dan kebahagiaan seseorang berada pada materi yang dikejar atau dengan kata lain manusia modern dengan harga diri dan kebahagian materialistik maka, dimana harga diri tersebut dan dimana kebahagian itu saat materi yang dikejar telah didapat dan kemudian hilang untuk selamanya. Perlu diingat bahwa hukum materi yang berawal dari ketiadaan di tangan seseorang akan kembali pada ketiadaan di kemudian hari di tangan yang sama. Berarti bukan materi yang dicarai tetapi ada hal lain dibalik materi tersebut yang terus-menerus dikejar. Manusia dengan makna Apa hal lain yang sebenarnya ingin ditemukan oleh manusia?. Pengejaran terhadap materi tidak memuaskan hingga terus-menerus memperkaya diri. Menambah keuntungan pribadi dengan berbagai strategi illegal dan menyengsarakan pihak lain. Setelah yang diinginkan didapati kemudian berurusan dengan pihak pengadilan untuk dijatuhi hukuman. Manusia modern tidak benar-benar menginginkan “materi” yang selama ini dikejar-kejar hingga menjatuhkan harga dirinya. Yang sebenarnya lebih dibutuhkan adalah hadirnya makna dibalik “materi” yang dimiliki. Manusia adalah makhluk yang memiliki nilai (values) yang tidak terdefinisikan dengan jumlah materi. Sebenarnya bukan materi tersebut yang betul diinginkan tetapi hadirnya makna dibalik ketercapaian dan kepemilikan.

Ketercapaian terhadap yang dituju merupakan jalan. Bukan hanya memandang yang ingin diperoleh tetapi memperhatikan tatanan nilai yang dimiliki untuk menggapai. Bukan hanya jumlah yang diperoleh akan tetapi makna yang berhasil diresapi. Tidak hanya memandang bentuk materi yang didapat dari hasil usaha atau pekerjaan yang dilakukan akan tetapi mengetahui posisi diri sendiri ketika melakukan pekerjaan tersebut. Artinya seseorang yang bekerja dalam mengembang tanggungjawabnya tidak memandang jumlah rupiah atau materi yang didapat akan tetapi memahami ketercapaian nilai mulia dalam dirinya. Bukan apa yang diperoleh setelah bekerja dalam bentuk materi, akan tetapi jadi apa seseorang dengan pekerjaannya tersebut. Pekerjaan, jabatan, atau kedudukan seseorang bukan jembatan untuk memperoleh rupian atau berbagai bentuk materi lainnya yang sebesar-besarnya dalam kuantitas akan tetapi bagaimana dengan pekerjaan, jabatan, atau kedudukan orang tersebut makin memberinya nilai (values) yang pantas bagi dirinya. Pejabat yang tinggi kedudukannya, pekerjaan yang tinggi tanggungjawabnya, menuntut pribadi yang pantas untuk jabatan yang tinggi dengan nilai-nilai yang tinggi pula. Jabatan tidak diletakkan di atas harga mati sebuah materi yang diperoleh akan tetapi nilai-nilai apa yang diperoleh ketika menjadi seorang dengan jabatan yang tinggi. Seharusnya, tidak menjadi seseorang dengan jabatan yang tinggi sebagai pengejar jumlah-jumlah materi akan tetapi menjadi pribadi dengan tatanan nilai-nilai yang pantas untuk jabatan yang diduduki. Kemandirian harga diri Banyak cara dengan fasilitas dan peluang untuk seseorang berlaku curang. Setiap kali seseorang melakukan sesuatu akan selalu dihadapkan pada pilihan.

Pilihan untuk melakukan hal yang menyenangkan untuk diri sendiri, terlihat baik bagi orang lain, atau berbuat baik karena memang itu merupakan hal yang benar dan baik. Pilihan akan selalu hadir, termasuk pilihan untuk berbuat kecurangan atau tetap pada jalur yang benar. Jika benar, maka seseorang dengan pribadi yang matang akan memiliki kemandirian dalam memilih respon terhadap berbagai kejadian yang ada di sekitarnya. Terdapat kemandirian seseorang dalam menentukan sebuah pilihan dan adapula kemandirian sebuah harga diri. Jika sebelumnya dinyatakan bahwa jabatan bukan pencarian materi maka diperlukan kemandirian harga diri seseorang untuk bertahan dalam kondisi sesulit apapun dalam mempertahankan harga dirinya. Tetapi itu semua bergantung. Bergantung letak harga dirinya digantungkan. Jika harga diri diletakkan pada “materi” maka ketika materi telah berpindah, harga diri kehilangan tempat bergantung maka seketika akan jatuh. Berakhir di balik jeruji kehinaan menjadi seorang tahanan misalnya. Jika demikian, seharusnya harga diri seseorang bukannya bergantung. Pejabat tidak menggantungkan harga dirinya pada materi yang diperoleh atas jabatannya, pekerja tidak menggantungkan harga dirinya terhadap upah yang diperoleh setelah kerjanya, dan tugas-tugas mulia lainnya tidak karena materi tertentu, akan tetapi berdiri sendiri dan mandiri. Kemandirian tersebut adalah kemampuan untuk mempertahankan harga diri melebihi materi tertentu. Sehingga ketika seseorang bekerja atau mengembang sebuah tugas dapat menjadi pribadi yang lebih baik dari upah, gaji, atau rupiah yang diperoleh setelah ia bertugas.

Pribadi yang mandiri merupakan pribadi dengan ketahanan prinsip yang tepat. Prinsip yang tidak bergantung sehingga harga diri yang dimiliki tidak berubah berdasarkan nilai materil yang dimiliki. Dengan demikian akan menjauhkan definisi diri terhadap benda-benda materi yang dimiliki. Apapun materi yang diperoleh setelah bekerja bukan disitu letak harga diri akan tetapi mandiri pada diri sendiri. Terjadi kesenjangan ketika seseorang tidak memahami hal demikian. Menggunakan jabatan dengan harga diri pribadi materialistik untuk mengejar materi dan terus menerus memperkaya diri dengan jalan penyelewengan tanggungjawab (korupsi misalnya). Maka manusia modern tidak lebih dari materi yang dikejar yang akan hilang dan terbatasi oleh kuantitas. Masalah korupsi dan penyelewengan tanggungjawab demi materi marupakan wujud pribadi dengan harga diri yang digantungkan pada materi. Jika hal ini disadari, perilaku manusia modern tidak lagi mencerminkan sosok pribadi dengan harga diri materialistik. seharusnya lebih disadari bahwa bukan berapa jumlah yang diperoleh secara materil dari hasil kerja dan tanggungjawab menjalankan amanah rakyat akan tetapi jadi sosok apa pribadi ini dan letak harga diri dengan berproses bersama yang dikerjakan.

Last Updated ( Tuesday, 01 February 2011 15:47 )

Friday, 28 January 2011 08:35 Hillman Wiraw an

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close