Call us on 0823-9388-3833

Home » Artikel » ENTEPREUNIAL UNIVERSITY UNTUK PENGANGGURAN TERDIDIK ENTEPREUNIAL UNIVERSITY UNTUK PENGANGGURAN TERDIDIK

ENTEPREUNIAL UNIVERSITY UNTUK PENGANGGURAN TERDIDIK ENTEPREUNIAL UNIVERSITY UNTUK PENGANGGURAN TERDIDIK

Oleh: Wahyuddin MY*

Sekarang ini, pengangguran di Indonesia masih memiliki jumlah yang sangat besar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada bulan Agustus 2007 sebesar 10,01 juta orang atau 9,11 % dari angkatan kerja, dan pada bulan Agustus 2008 sebesar 9,39 juta orang atau 8,39 % dari total angkatan kerjan. Ironisnya, pengangguran terbuka didominasi oleh kalangan berpendidikan. Pengangguran dari kalangan berpendidikan ini disebut sebagai pengangguran terdidik. Sebagai contoh, pengangguran tingkat sarjana di Indonesia pada tahun 2007 berjumlah sekitar 740.000, dan awal tahun 2009 bertambah mendekati angka satu juta atau lebih dari 900.000 sarjana yang menganggur.Berdasarkan data tersebut, dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan tidak menjamin seseorang untuk bekerja. Lulusan perguruan tinggi yang telah menempuh pendidikan sejak pendidikan dasar sampai memperoleh predikat sarjana pun harus menganggur.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor dimana faktor tersebut berasal dari sarjana itu sendiri, lingkungan, dan sistem pendidikan yang ada. Faktor lingkungan dalam hal ini berkaitan dengan kondisi negara yang belum mampu menyediakanlapangan pekerjaan yang cukup buat para pencari kerja. Faktor dari sarjana yaitu mereka tidak memiliki kompetensi yang sesuai dengan yang dibutuhkan oleh penyedia lapangan kerja atau menjadi penyedia lapangan kerja. Sedangkan faktor sistem pendidikan yaitu ketidakmampuan lembaga pendidikan dalam hal ini perguruan tinggi mencetak sarjana yang terampil, bukan saja sebagai tenaga kerja tetapi sebagai penyedia lapangan pekerjaan. Selama ini, umumnya para sarjana lebih senang mengadu nasib dengan menjadi pencari kerja (job seek er) atau berusaha menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Padahal setiap tahunnya, PNS yang diterima tidak sebanding dengan para sarjana yang tamat dari perguruan tinggi. Sebagai contoh, pada tahun 2009, kuota PNS yang akan diterima sekitar 300.000 orang. Jumlah ini begitu kecil jika dibandingkan dengan sarjana yang menganggur pada tahun yang sama dengan jumlah sekitar 900.000 orang. Nah, melihat kondisi tersebut diperlukan upaya yang ril untuk mengatasi pengangguran terdidik. Tentunya harus dilihat kembali ketiga faktor yang telah disebutkan di atas. Ketiga faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Semua itu dapat dimulai dari lembaga pendidikan, yakni membuat sebuah sistem pendidikan yang mampu mencetak sarjana yang terampil sebagai tenaga kerja dan penyedia lapangan kerja. Sistem ini dilakukan dengan menjadikan perguruan tinggi sebagai pusat kewirausahaan (entrepreunial university). Timbul sebuah pertanyaan, mengapa harus kewirausahaan?

Hal tersebut karena kewirausahaan merupakan solusi dari terjadinya pengangguran. Berdasarkan Lampiran Keputusan Menteri Koperasi dan Pembinaan Pengusahan Kecil Nomor 961/KEP/M/XI/1995, kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan serta menerapkan cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan/atau memperoleh keuntungan yang lebih besar. Jadi jelas bahwa kewirausahaan merupakan kunci dari penanggulangan pengangguran terdidik. Entrepreunial university merupakan sebuah konsep dimana perguruan tinggi menjadi basis pencetak wirausahawan, jadi bukan hanya sebagai basis pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Untuk mewujudkan konsep ini, ada tiga langkah yang dapat ditempuh yaitu dengan memberikan teori kewirausahaan melalui perkuliahan, mendirikan Pusat Kewirausahaan Mahasiswa, dan pembentukan divisi kewirausahaan pada setiap Lembaga Kemahasiswaan.

Memberikan Teori melalui Pekuliahan Perkuliahan merupakan momen yang tepat untuk menyampaikan teori kewirausahaan kepada mahasiswa. Teori kewirausahaan dikemas dalam sebuah mata kuliah wajib dan diikuti secara rutin oleh mahasiswa. Namun yang membedakan dengan kuliah biasa ialah selama proses perkuliahan, peserta harus lebih mencerminkan diri sebagai seorang wirausahawan baik sikap maupun penampilan. Pakaian yang digunakan harus rapi dan sopan. Hal ini sebagai upaya menanamkan paradigma kepada mahasiswa bahwa wirausahawan merupakan sosok yang terhormat. Mendirikan Pusat Kewirausahaan Mahasiswa Pengembangan kewirausahaan di perguruan tinggi tidak boleh dibatasi pada jurusan tertentu dan dalam bentuk perkuliahan saja, melainkan harus dilaksanakan dalam bentuk pelatihan dan penerapan wirausaha. Mahasiswa harus diberikan kesempatan baik secara tim maupun perorangan untuk mengerjakan suatu usaha baru yang tetap dipantau pelaksanaannya.

Oleh karena itu, dibutuhkan pembinaan yang intensif dan berkesinambungan agar mereka mampu menerapkan ilmu dan teknologi yang sudah diperoleh selama pendidikan atau pelatihan dalam dunia wirausaha yang sebenarnya. Pembinaan tersebut dilakukan melalui pengembangan pusat pelatihan kewirausaahaan mahasiswa. Pengembangan Pusat Pelatihan Kewirausahaan Mahasiswa (PPKM) adalah suatu pusat kegiatan peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tentang kewirausahaan yang berbasis teknologi yang diperuntukkan bagi para mahasiswa agar mereka mengenali, berminat, dan mampu menjadi wirausahawan yang tangguh. Pusat pelatihan ini dikelolah dan dilaksanakan oleh pihak perguruan tinggi. Pelaksana bekerja sama dengan instansi lain misalnya Dinas Tenaga Kerja dan Pekerjaan Umum, perusahaan-perusahaan, dan interpersonal yang ahli pada bidang kewirausahaan. Bentuk kerja sama yang dapat dilakukan yaitu penyediaan sarana dan prasarana, fasilitas, penyediaan pemateri, bantuan dana berwirausaha, dan penyerapan alumni perguruan tinggi pada lapangan kerja, serta bentuk-bentuk lain yang dianggap menguntungkan.

Metode yang digunakan dalam pelaksanaan pelatihan adalah pembelajaran di kelas, praktik teknologi, dan pelaksanaan kegiatan kewirausahaan. Pembelajaran di kelas guna memberikan kecakapan kognitif kepada mahasiswa peserta pelatihan. Praktik teknologi merupakan metode yang digunakan agar mahasiswa mampu mengoperasikan alat-alat teknologi yang digunakan dalam berwirausaha. Pelaksanaan kegiatan kewirausahaan adalah puncak dari seluruh rangkaian kegiatan pelatihan dimana mahasiswa akan melaksanakan langsung kegiatan berwirausaha. Pembentukan Divisi Kewirausahaan LK Mewujudkan Entrepreunial university tidak cukup dilakukan secara top-down, melainkan juga bottomup. Lembaga Kemahasiswaan (LK) sebagai bagian dari perguruan tinggi juga memiliki peran penting dalam mewujudkan upaya ini. Oleh karena itu, LK harus dilibatkan dalam upaya mencetak wirausahawan mahasiswa. Selama ini, sumber pendanaan tetap LK dalam beraktivitas mengandalkan dana dari perguruan tinggi. Sangat jarang dijumpai LK yang memiliki usaha tetap yang menjadi penopang pendanaan lembaga. Nah, saatnya hal tersebut diubah. Setiap LK harus memiliki usaha yang dikelola secara professional melalui pembentukan divisi kewirausahaan. Dengan adanya divisi ini, pendanaan lembaga akan lebih terjamin.

Disamping itu, divisi ini menjadi wadah anggota LK untuk belajar berwirausaha. Lembaga dapat bekerja sama dengan pihak perguruan tinggi atau PPKM untuk mengelola usaha tersebut. Optimisme akan keberhasilan usaha ini lebih besar, sebab ada sebuah ukuran dalam lembaga bahwa keberhasilan lembaga akan ditentukan oleh keberhasilan divisi-divisinya. Ketiga upaya tersebut diyakini mampu menjadikan perguruan tinggi sebagai pemasok sarjana-sarjana dengan mental dan kemampuan berwirausaha yang nantinya menjadi penyedia lapangan kerja (job creator). Akibatnya, pengangguran terdidik yang telah ada akan terserap dalam lapangan kerja yang disediakan dan pertambahan pengangguran terdidik dari sarjana-sarjana baru pun akan semakin berkurang.

Tentunya hal ini dapat dicapai apabila benar-benar ada komitmen dari pihak perguruan tinggi untuk mewujudkan entrepreunial university baik oleh perguruan tinggi dengan basis kewirausahaan maupun yang tidak. *Wahyuddin MY lahir tanggal 28 April 1988 di Mamuju Sulawesi Barat. Kuliah di Universitas Negeri Mak assar angk atan 2006. Pernah menjabat sebagai Sek retaris Umum Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Mak assar (UNM) Periode 2009/2010, Staf Bidang Hubungan Masyarak at LPM Penalaran UNM Periode 2008/2009, Staf Departemen Riset dan Tek nologi Badan Ek sek utif Mahasiswa Jurusan Pendidik an Tek nik Sipil dan Perencanaan Periode 2008/2009, Anggota Bidang Pelatihan dan Kaderisasi Kelompok Belajar Muslim Fak ultas Tek nik UNM Periode 2006/2007, dan sebagai Anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sek arang menjabat sebagai Sek retaris Jenderal Ik atan Lembaga Penalaran dan Penelitian Mahasiswa Indonesia (ILP2MI) Periode 2010/2011 dan Ketua Umum LPM Penalaran UNM Periode 2010/2011.

20 March 2011 17:17 Wahyuddin MY

Related Post

Kekuatan dan kelemahan penelitian gabungan KEKUATAN DAN KELEMAHAN PENELITIAN GABUNGANPenelitian gabungan merupakan penelitian yang memadukan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pe...
Grounded Theory Grounded TheoryGrounded Theory atau teori dasar merupakan salah satu pendekatan dalam jenis penelitian kualitatif. Grounded Theory dapat pula dika...
Penelitian Korelasional A. Penelitian KorelasionalPenelitian korelasi atau korelasional adalah suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara dua ...
Jenis validasi penelitian Pengertian Validitas           Validitas sering diartikan dengan kesahihan. Suatu alat ukur disebut memiliki validitas bilamana alat ukur tersebut is...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *