Artikel

English Meeting: MAKANAN TRADISIONAL VS MAKANAN CEPAT SAJI

Kemajuan ilmu dan teknologi berkembang dengan pesat diberbagai bidang, termasuk dalam bidang pangan. Kemajuan tersebut banyak merubah pola kehidupan pada masyarakat yang dicirikan dengan tingginya biaya hidup. Emansipasi atau karena alasan perekonomian menyebabkan wanita menambah aktivitas mereka dengan bekerja diluar rumah. Dengan padatnya aktivitas tersebut membuat masyarakat lebih cenderung mengonsumsi makanan yang praktis (Fast food). Fast food hadir seakan-akan mengetahui kebutuhan manusia. Istilah “time is money” semakin terasa penerapannya. Karena kesibukan masyarakat bekerja, fast food menjadi alternative terbaik. Sesuai dengan namanya, fast food hanya membutuhkan sedikit waktu untuk disajikan, mudah didapatkan, dan harga relative lebih murah. Namun, tidak baik bagi kesehatan karena banyak mengandung bahan pengawet atau penyedap rasa non organik. Lebih lanjut, keberadaan fast food kian menurunkan eksistensi makanan tradisional. Makanan tradisional merupakan salah satu kekayaan Indonesia dan menjadi ciri khas dari beberapa wilayah.

Makanan tradisional mengajak kita untuk kembali kepada makanan yang alami. Tidak hanya jenis makanannya saja, tetapi juga bahanbahan makanannya. Tanpa menggunakan pestisida dan menggunakan pupuk organik. Lalu pemilihan bahan makanan yang serba organik, segar, penggunaan alat masak asli, sampai pengolahan makanan tanpa menggunakan pengawet, pemanis buatan, atau penyedap yang mengandung bahan kimiawi. Berdasarkan hal tersebut, Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran Universitas Negeri Makassar merasa perlu untuk mendiskusikan hal tersebut dalam English Meeting Club yang diadakan pada hari kamis, tanggal 31 maret 2010 di rumah nalar. Kajian tersebut dihadiri sebanyak 28 anggota. Tidak hanya itu, keberadaan kian hangat ditambah dengan keberadaan dua sesepuh LPM Penalaran UNM yaitu kanda Zakir dan kanda Rais. Seperti kajian sebelumnya, English Meeting tersebut juga dihadiri kiki sebagai pengurus pelaksanaan kajian tersebut dan Mr Mark, seorang berkewarganegaraan Amerika Serikat sebagai bintang tamu yang turut serta memeriahkan kajian pada hari itu. Diskusi tersebut berjalan dengan lancar dan menarik karena dibumbuhi dengan game yang menantang kekreatifitasan .

Adapun yang berperan sebagai moderator pada hari itu adalah Misnariah Idrus, pemandu diskusi adalah Ainun Najib, dan Pemandu Games adalah Nurul Ichsania. Selain untuk melatih kemampuan berbahasa inggris anggota LPM Penalaran, diskusi tersebut juga berfungsi mengembangkan pengetahuan terutama dalam hal eksistensi makanan tradisional ditengah makaknya makanan siap saji (fast food). Akhir kajian ditutup oleh Hilaman Wiraman. Ia memaparkan kebanggaannya kepada seluruh anggota LPM Penalaran dalam hal menuntut ilmu dan mengharapkan adanya kajian-kajian berikutnya dapat terlaksana dengan lancar terkhusus kajian dalam bidang penelitian.

01 April 2011 22:25 Reski Wati Salams

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also

Close
Close