Artikel

CHARRACTER BUILDING MELALUI PENDEKATAN AGAMAIS DAN PENDIDIKAN ANTI KORUPSI

Keresahan masyarakat indonesia saat ini adalah maraknya kasus-kasus kriminalitas serta kasus korupsi yang merajalela. Menurut Nugroho (2013), Berdasarkan Transparency International, sebuah organisasi non-pemerintah, Indonesia menduduki  peringkat pertama sebagai negara terkorup se-Asia. Selain itu Transparency International juga menempatkan Indonesia sebagai salah satu Negara paling korup di  duniadengan nilai In deks Persepsi Korupsi  (IPK) tahun 2005 adalah 2,2 (nilai nol sangat korup dan nilai 10 sangat bersih) yaitu Indonesia jatuh pada urutan ke 137 dari 159 negara yang disurvei .

 Lebih mirisnya lagi karena sebagian besar orang-orang yang melakukan tindak korupsi itu adalah pejabat-pejabat tinggi negara yang notebene memiliki pendidikan yang tinggi. Coba bayangkan Seorang Profesor Doktor yang pendidikannya sangat tinggi terlibat kasus korupsi?.  Hal ini membuktikan bahwa  setinggi apapun pendidikan yang dienyam, sebanyak apapun gelar yang dipunya, belum jaminan seseorang itu akan bisa menjadi orang yang amanah dan bertanggung jawab. Pendidikan tinggi yang tidak dibarengi dengan penguatan akhlak akan menciptakan generasi yang hancur. Menyalahkan mereka para koruptor tidak salah, namun yang harus lebih fokus dilakukan adalah mencari solusi untuk menanggulangi hal tersebut agar generasi indonesia kedepannya bisa menjadi generasi yang membanggakan, bukan generasi korup.

Anak-anak dan pemuda adalah generasi  penerus peletak dasar masa depan bangsa. Di tangan anak- anaklah masa depan bangsa dan  peradapan akan terukir. Terukir dengan tinta  emas ataukah terukir dengan biasa saja ditentukan oleh kualitas  generasi tersebut.  Oleh karena itu, idealnya anak-anak dan pemuda ditempa agar menjadi generasi yang handal dan mumpuni demi kelangsungan  kehidupan masyarakat pada masa mendatang. Namun melihat potret buram dunia anak saat ini, tampaknya harapan itu sulit terpenuhi. Penurunan generasi (lost generation) yang terjadi saat ini, menjadi masalah kronis yang mengancam  keberlangsungan kehidupan bangsa. Anak-anakdan pemuda dan pemuda  saat ini

hidup di tengah-tengah kondisi yang jauh  dari kata ideal bagi tumbuh kembang fisik dan mentalnya. Bahkan berbagai ancaman siap menerkam dan menggilas mereka. Terpuruknya generasi merupakan alamat terpuiruknya bangsa  di masa mendatang. Oleh karena itu, maka harus segera dicari solusinya. Pendidikan dan pengalaman anak serta pemuda akan dibentuk di lingkungan keluarga dan masyarakat, dimana pondasi pendidikan terletak pada pendidikan keluarga. Pola pendidikan orang tua kepada anak akan menjadi pondasi awal pendidikan anak yang  akan menentukan arah perkembangan potensi  dan pemikiran seorang anak (Nugroho, 2013).

Salah satu hal yang bisa dilakukan sebagai upaya mencegah beredarnya virus-virus koruptor adalah dengan menanamkan moral akhlak sejak dini pada anak-anak. Pada hakikatnya, moral rusak para koruptor berpendidikan tinggi disebabkan karena tidak adanya keseimbangan antara pengetahuan agama atau rasa takut pada sang pencipta dengan sikap takabur sebagai manusia yang berkuasa. Inilah alasan mengapa pendekatan agamais menjadi penting dalam mendukung perkembangan anak.

Pendidikan Agama secara konvensional berfungsi untuk menjadikan anak  beriman dan bertaqwa, serta berakhlaq mulia, sehingga dapat hidup di tengah-tengah masyarakat dengah penuh kedamaian dan kebahagiaan, tanpa  mengalami kesulitan yang berarti. Dengan kata lain bahwa pendidikan agama  dapat membantu peserta didik dalam membangun masyarakat agamis (Wahab, Rochmat, 2010).

Masyarakat agamais adalah masyarakat yang dapat mewariskan nilai-nilai agama dan merealisasikannya dalam kehidupan nyata. Masyarakat agamais adalah masyarakat dengan sikap tolong-menolong yang tinggi, masyarakat agamais adalah masyarakat yang bermanfaat bagi masyarakat lain, bukan justru merugikan. Koruptor adalah masyarakat yang merugikan, berarti koruptor adalah kaum yang tidak agamais.

Adapun beberapa ciri masyarakat agamais menurut Hasibuan (2010), yaitu:

  1. Masyarakat dibangun dengan landasan keragaman agama, suku, dan budaya. Dengan adanya hal tersebut maka diharapkan untuk mampu menciptakan adanya sikap saling hormat menghormati satu sama lain. Sikap saling menghormati merupakan salah satu upaya pembangunan karakter  (charracter building) untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat. Pemahaman ini dapat diajarkan kepada anak sejak dini melalui proses pendidikan yang di tempuh sehingga pada saat dewasa anak akan menjadi lebih mudah bersosialisasi dengan sikap saling menerima satu sama lain.
  2. Masyarakat dibangun diatas landasan keadilan dan kesejahteraan.

Sebagai contoh Nabi Muhammad SAW menetapkan hukum, akan memotong tangan anaknya Fatimah apabila ia melakukan pencurian. Jika dikaitkan dengan kehidupan sekarang khususnya masalah koruptor, maka dengan memberikan pemahaman awal pada anak tentang keadilan, kesejahteraan, serta hukuman, maka diharapkan agar anak mampu membedakan hal-hal yang harus mereka lakukan ataupun hal-hal yang harus mereka hindari sebagai wujud kesadaran diri mereka.

  1. Sistem perekonomian masyarakat dibangun sedemikian rupa dengan nilai-nilai yang tidak memungkinkan seseorang melakukan perbuatan yang merugikan.  intinya adalah dalam hal perekonomian, maka anak-anak juga perlu di didik . tak dipungkiri bahwa salah satu indikator yang mempengaruhi seseorang menjadi calon koruptor adalah ketika dia tidak paham tentang kejujuran . kejujuran ini dimulai dari kecil. Sehingga anak-anak harus di pupuk untuk berperilaku jujur. Misalnya saat membeli makanan di kantin, ataupun sejenisnya.
  2. Hubungan antara kemasyarakatan diatur secara apik dengan landasan etika-etika agamis seperti hadist Nabi : Tidak beriman salah seorang kamu apabila ia tidur nyenyak dalam kekenyangan, sedangkan tetangganya tidur dalam kelaparan. Tidak boleh memutuskan hubungan silahturahim. Yang tua harus dihormati oleh orang yang lebih muda dan yang muda harus disayangi oleh orang yang lebih tua. Yang pintar harus mengajari yang bodoh dan yang bodoh pun harus belajar kepada yang pintar. Yang kuat harus menolong yang lemah dan yang kaya harus menolong yang miskin.
  3. Rumah ibadah berfungsi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga berfungsi sebagai tempat pembinaan dan pemberdayaan umat. Selain di sekolah, anak-anak juga bisa dibina melalui komunitas baca qur’an yang sering kita kenal dengan sebutan Taman Pendidikan Alqur’an (TPA). Pada bagian ini, terkhusus untuk menguatkan ukhuwah anak melalui pendekatan-pendekatan secara mandiri. Pembangunan karakter anak pada tahap ini lebih kepada akhlak dan ukhuah.
  4. Tidak diperbolehkannya menjalar perbuatan-perbuatan jahat . pada tahap ini anak harus dipahamkan tentang perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan orang lain, maupun sebaliknya.

Beberapa referensi yang mencerminkan masyarakat agamais di atas dapat dijadikan tolok ukur untuk menciptakan masyarakat yang non korup melalui pendekatan agamais. Sikap, sifat dan kelakuan yang baik harus ditanamkan sejak kecil pada anak. Terlebih masalah kejujuran. Kejujuran harus di pupuk sejak kecil sehingga seorang anak akan membiasakan hidup jujur hingga ia dewasa nantinya.

Selain itu, dalam dunia pendidikan bisa juga menerapkan sistem pendidikan anti korupsi. Maksudnya ialah anak didik harus dipahamkan mengenai kejujuran, keterbukaan, sikap tegas, serta disiplin terhadap peraturan yang berlaku. Menurut Nugroho (2010), Dilihat dalam konteks pendidikan, tindakan untuk mengendalikan atau mengurangi korupsi adalah keseluruhan upaya untuk mendorong generasi-generasi mendatang mengembangkan sikap menolak secara tegas setiap bentuk tindak korupsi. Perubahan dari sikap membiarkan dan menerima ke sikap tegas menolak korupsi, tidak pernah terjadi jika kita tidak secara sadar membina kemampuan generasi mendatang untuk memperbarui sistem nilai yang dirwarisi, sesuai dengan tuntutan yang muncul dalam setiap tahap perjalanan bangsa.

Implikasi Kebijakan Pendidikan antikorupsi bisa dilaksanakan di dalam lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Masing masing memiliki peran sendiri – sendiri. Lingkungan keluarga sebagai lingkungan pertama anak dalam tumbuh dan berkembang harus dioptimlakan perannya. Orang tua sebagai pendidik utama harus melakukan proses pendidikan antikorupsi pada anak – anaknya. Berbagai bentuk bisa  dilakukan dalam proses pendidikan antikorupsi, seperti pendidikan untuk melatih kejujuran. Sementara lingkuangan masyarakat sebagai kontrol sosial bagi tindakan antikorupsi juga harus berperan secara optimal. Lingkungan sekolah menjadi lingkungan yang cukup bagus dalam menananmkan kepahaman anak didik terkait dengan korupsi, bentuk –bentuknya, upaya – upaya pemberantasan dan pencencegahannya. Korupsi tidak dapat dibiarkan berjalan begitu saja kalau suatu negara ingin mencapai tujuannya, karena kalau dibiarkan secara terus menerus, maka akan terbiasa dan menjadi subur dan akan menimbulkan sikap mental pejabat yang selalu mencari jalan pintas yang mudah dan menghalalkan segala cara (the end justifies the means). Untuk itu, korupsi perlu ditanggulangi secara tuntas dan bertanggung jawab (Nugroho, 2010).

Pendekatan agamais dan pendidikan anti korupsi bisa menjadi cara yang tepat untuk membangun karakter anak sehingga akan menciptakan masyarakat yang non korup. Penanaman sikap jujur, terbuka, serta bertanggung jawab yang dipupuk sejak kecil akan terbawa hingga dewasa. Hal ini akan lebih efektif ketika dibarengi dengan pendekatan agamais yang mendukung dalam hal penguatan akhlak dan ukhuah. Pendekatan agamais dan pendidikan anti korupsi adalah dua hal yang bisa membantu pembangunan karakter (charracter building) serta mencegah anak bangsa melakukan hal-hal negatif dalam hal ini korupsi.

DAFTAR PUSTAKA

 

Abidin Zaenal.2013. http://hukum.kompasiana.com/2013/10/06/gaji-besar-dan-pendidikan-tinggi-penyebab-korupsi-598928.html . Diakses 3 Maret 2014.

Hasibuan, Ahmad Supardi. 2010.       http://riau.kemenag.go.id/index. . diakses 7 maret 2014.

Nugroho, Fajar Adi.2013.  http://nec.rema.upi.edu/wp-content/uploads/sites/27/2013/11/27. diakses 7 maret 2014.

Wahab Rochmat. 2010. http://staff.uny.ac.id /penelitian/Rochmat,Wahab,M.Pd.,.pdf . Diakses 3 Maret 2014.

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close