Ringkasan Penelitian

  • Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII Sistem Full Day School dengan Sistem Reguler pada Mata Pelajaran IPA

    full day school


    Judul Penelitian:

    Perbandingan Prestasi Belajar Siswa Kelas VIII Sistem Full Day School dengan Sistem Reguler pada Mata Pelajaran IPA


    Tahun Penelitian:

    2017


    Nama Peneliti:

    Kadek Irayasa, Ian Alfian, Fitriana, Risma


    Latar Belakang:

    Hasil gambar untuk pendidikan

    Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, masyarakat, bangsa, dan negara. Dengan demikian pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi negara khususnya Indonesia. Selain itu pendidikan menduduki posisi sentral dalam pembagunan nasional karena sasarannya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

    Hasil gambar untuk rendahnya pendidikan di indonesia

    Namun hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) pada tahun 2012, Indonesia berada pada peringkat ke-64 negara di dunia dalam kemampuan Matematika dan Sains. Selain itu berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report menyatakan bahwa  “The Hide Crisis Armed Conflict And Education” yang dikeluarkan organisasi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) di New York,  indeks pembangunan pendidikan dan Eduction Development Index (EDI) berdasarkan tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia (Kompas.com, 2011).Berdasarkan data tersebut indonesia masih memiliki nilai pendidikan yang tergolong rendah.

    Hasil gambar untuk full day school

    Hal tersebut membuat Indonesia melakukan berbagai inovasi dalam dunia pendidikan salah satunya adalah penerapan full day school (sekolah sehari penuh). Perbedaan antara sistem full day school dengan regular secara mendasar terletak pada lama waktu belajarnya namun sistem kurikulum yang diterapkan pada keduanya menggunakan sistem kurikulum yang sama. 

    Hasil gambar untuk observasi

    Berdasarkan hasil observasi Tim Peneliti kebeberapa sekolah di Makassar, sistem pendidikan yang diterapkan di Makassar terkhusus Sekolah Menengah Pertama (SMP) terbagi menjadi dua yakni sekolah yang menerapkan sistem full day school dan sekolah yang menerapkan sistem reguler.

    Adapun SMP yang dijadikan sebagai objek penelitian adalah SMPN 3 Makassar dan SMPN 27 Makassar, tim peneliti memilih sekolah tersebut karena telah menerapkan full day school sejak awal semester genap tahun ajaran 2016/2017 sehingga hasil belajar mereka sudah dapat untuk dijadikan data nilai perbandingan. Pertimbangan lainya yaitu dari segi akreditasi dan antara SMP 3 Makassar dan 27 Makassar  memiliki akreditasi yang sama dan jumlah siswa kelas VIII yang berimbang. Perbedaannya hanya terletak pada lama waktu belajar. Sedangkan matapelajaran yang dijadikan perbandingan yaitu Mata pelajaran IPA dengan karena merupakan salah satu mata pelajaran  yang  dianggap sulit oleh siswa. Selain itu,  IPA merupakan bidang studi yang diujiankan dalam Ujian Nasional.


    Tujuan Penelitian:

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan prestasi belajar siswa kelas VIII sekolah yang menerapkan sistem full day school dan sistem regular pada mata pelajaran IPA.


    Metodologi penelitian:

    Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan komparatif.

    Penelitian ini melibatkan variabel tunggal yaitu prestasi belajar siswa kelas VIII siswa sekolah menengah pertama. Prestasi belajar tersebut diperoleh dari hasil ujian tengah semester genap tahun ajaran 2016/2017 di kelas VIII antara sekolah menengah pertama yang menerapkan full day school dan sekolah reguler, kemudian dilakukan perbandingan.

    Desain penelitian yang digunakan adalah deskripsi komparatif, desain penelitian yang difokuskan untuk membandingkan suatu variabel dari dua kelompok populasi yang dianalisis secara deskriptif.

    Gambar terkait

    Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini  yaitu teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi yang dimaksud adalah teknik pengumpulan data dengan mengambil data yang berupa hasil ujian tengah semester genap tahun ajaran 2017/2018 di kelas VIII pada masing-masing sekolah.

    Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik random sampling. Dimana sampel yang diambil adalah seluruh individu dalam satu kelas setiap sekolah yang diteliti dan diperoleh secara random. Diperoleh sampel yaitu kelas VIII.9 untuk sekolah dengan sistem full day school dan kelas VIII.7 untuk sekolah dengan sistem regular.

    Hasil gambar untuk analysis

    Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kompartif. Analis deskriptif komparatif merupakan bentuk analisis yang digunakan untuk menjelaskan data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan perbandingan antara dua kelompok sampel atau lebih dalam sebuah populasi. Dan analisis statistik inferensial yaitu:

    1. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data yang diteliti berdistribusi normal atau tidak sebelum dilakukan analisis lebih lanjut. Pengujian normalitas ini menggunakan uji One Sample Kolmogorof-Smirnov menggunakan taraf signifikan 5% atau 0,05
    2. Uji homogenitas dilakukan menggunakan uji Levene’s yang bertujuan untuk menyelidiki apakah variansi variabel yang diuji sama atau tidak sebelum dilakukan uji hipotesis yaitu uji T
    3. Uji hipotesis, Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk menjawab hipotesis penelitian yang telah diajukan. Pengajuan hipotesis yang dimaksud yaitu untuk melihat apakah ada perbedaan prestasi belajar siswa kelas VIII sekolah yang menerapkan sistem full day school dan sistem regular pada mata pelajaran IPA. Untuk maksud tersebut maka pengujian dilakukan menggunakan independent sample t-test

    Hasil

    Gambar terkait

    Hasil prestasi belajar siswa full day school diperoleh bahwa nilai maksimum mata pelajaran IPA adalah 86. Sedangkan untuk nilai minimum yang diperoleh yaitu 48 dengan nilai rata-rata 72.24. nilai range yang diperoleh yaitu 38, standar deviasi sebesar 11.144 dengan variance sebesar 124.189. Sedangkan untuk hasil prestasi belajar siswa sekolah reguler diperoleh bahwa nilai maksimum mata pelajaran IPA adalah 100. Sedangkan untuk nilai minimum yang diperoleh yaitu 80 dengan nilai rata-rata 88.16. nilai range yang diperoleh yaitu 20, standar deviasi sebesar 5.550 dengan variansi sebesar 30.806.

    Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa prestasi belajar siswa di sekolah reguler lebih tinggi dari sekolah yang menggunakan sistem full day school. Hal ini ditunjukkan dari perbandingan nilai rata-rata hasil prestasi belajar kedua kelas. Pernyataan ini berbanding terbalik dengan pernyataan Paramesuari (2013) yang menyatakan bahwa semakin lama waktu belajar semakin tinggi prestasi yang dihasilkan.

    Berdasarkan hasil uji hipotesis yaitu independent sample t-test, nilai Sig (2-tailed) diperoleh 0,000 yang lebih kecil dari pada 0,05. Hasil yang diperoleh menyatakan bahwa H0 ditolak atau H1 diterima. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara signifikan, ada perbedaan rata-rata hasil prestasi belajar IPA siswa kelas VIII pada sekolah dengan sistem full day school dan sistem reguler.

    Penelitian mengenai komparasi yang dimaksudkan yaitu adanya perbedaan peningkatan hasil belajar IPA siswa antara kelas VIII.9 dan VIII.7 secara signifikan yang diakibatkan oleh pengaruh sistem yang digunakan dalam hal ini full day school  atau sistem reguler. Hasil ini didapatkan dari tes hasil belajar siswa yaitu Ujian Tengah Semister (UTS) yang diperoleh dari guru mata pelajaran. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh bahwa terdapat perbedaan peningkatan hasil belajar IPA siswa kelas VIII.9 untuk sekolah dengan sistem full day school dan kelas VIII.7 untuk sekolah dengan sistem regular.


    Kesimpulan:

    Berdasarkan pembahasan tersebut maka dapat disimpulkanan bahwa dari uji yang telah dilakukan dilihat bahwa signifikansi lebih kecil dari 0.05 yaitu 0.000 sehingga hasil yang diperoleh menyatakan bahwa H0 ditolak. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara signifikan, ada perbedaan rata-rata hasil prestasi belajar IPA siswa kelas VIII pada sekolah dengan sistem full day school dan sistem reguler.  Dimana rata-rata hasil prestasi belajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) sistem reguler lebih tinggi dibandingkan dengan sistem full day school, dengan 72.24 pada sekolah reguler dan 88,16 pada sekolah full day school


    Saran:

    Gambar terkait

    Bagi Pemerintah

    • Agar mengembangkan sistem full day school yang mampu meningkatkan hasil prestasi belajar siswa.

    Bagi Peneliti

    • Agar peneliti selanjutnya yang ingin mengkaji variabel terikat yang sama untuk mempertimbangkan faktor lain sebagai variabel bebas yang mungkin berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

    Pihak Sekolah

    • Agar pihak sekolah lebih memperhatikan sarana dan prasarana di sekolah demi tercapainya kondisi dan situasi yang nyaman dalam proses  pembelajaran di kelas.

     

    Foto Turlap

     

     

  • Menguak Nilai-nilai Ritual Accera Kalompoang Masyarakat Kabupaten Gowa

     

    Ritual Gowa

    Seiring dengan perkembangan zaman dan arus globalisasi yang semakin pesat telah menimbulkan dampak terhadap peradaban manusia yang semakin maju. Kemajuan peradaban manusia dapat ditandai dengan semakin berkembangnya budaya-budaya modern yang telah menjadi bagian dari dimensi kehidupan manusia, mulai dari kehidupan rumah tangga sampai kemajuan teknologi dan informasi. Kemajuan peradaban telah membawa perubahan dalam tatanan kehidupan, seperti pendidikan, sosial ekonomi, politik, kebahasaan, dan kebudayaan (Sartini, 2009). Perubahan yang terjadi tersebut dipengaruhi oleh arus perkembangan globalisasi yang semakin tidak terbendung.

    Proses perkembangan globalisasi dipelopori oleh bangsa-bangsa yang maju. Hal tersebut disebabkan karena negara maju lebih memahami arus teknologi informasi dan komunikasi. Melalui hal ini, negara maju berupaya untuk mengeksplor nilai-nilai lokal di negaranya untuk disebarkan ke seluruh dunia sebagai nilai-nilai global (Mubah, 2011). Namun, realitas berbanding terbalik dengan yang terjadi pada negara berkembang. Menurut Mubah (2011) bahwa negara berkembang hanya dapat menjadi penonton dalam berkembangnya nilai-nilai kebudayaan negara maju dan tidak dapat mengembangkan nilai-nilai yang dimiliki karena kurangnya daya kompetitif.

    Budaya konvensional yang menempatkan toleransi, keramahtamahan, penghormatan pada orang yang lebih tua semakin tergerus dan sikap individualisme semakin berkembang oleh arus globalisasi. Sikap individualisme sebagai dampak dari arus globalisasi telah membawa perubahan pada tatanan kehidupan sosial masyarakat. Menurut Suseno (dalam Hamzah, 2015) bahwa sikap individualisme merupakan suatu pandangan yang menekankan kepentingan, kebebasan, dan tanggung jawab bagi diri individu sendiri. Melalui sikap individual, kepentingan pribadi ditempatkan sebagai prioritas dan kepentingan bersama dikesampingkan. Hal tersebut menyebabkan tergerusnya nilai-nilai kebersamaan seperti tolong-menolong dan tenggang rasa.

    Kebudayaan yang berkembang di masyarakat mengandung nilai-nilai. Nilai-nilai tersebut dijadikan pedoman yang dianut oleh setiap anggota masyarakat terutama dalam bersikap dan berperilaku serta menjadi patokan untuk menilai atau mencermati bagaimana individu dan kelompok berperilaku (Sartini, 2009). Jadi, sistem nilai dapat dikatakan sebagai norma standar dalam kehidupan bermasyarakat. Djajasudarma dkk (dalam Sartini, 2009) mengemukakan bahwa sistem nilai begitu kuat meresap dan berakar di dalam jiwa masyarakat sehingga sulit diubah atau diganti dalam waktu singkat. Artinya, nilai-nilai yang telah berkembang dalam kehidupan bermasyarakat akan semakin berkembang dan nilai-nilai yang baru akan sulit menggantikan nilai-nilai yang telah ada.

    Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah dengan memiliki berbagai macam kearifan lokal yang masih terjaga dan dilestarikan. Kearifan lokal tersebut dapat berupa peninggalan-peninggalan atau warisan oleh nenek moyang. Salah satu kearifan lokal yang sampai saat ini masih dilestarikan yaitu ritual Accera Kalompoang. Ritual Accera Kalompoang merupakan ritual yang dilakukan oleh keturunan kerajaan Gowa setiap tahun untuk merayakan hari Raya Idul Adha. Ritual tersebut dilakukan di Balla Lompoa sebagai istana kerajaan Gowa yang kini telah berubah fungsi sebagai tempat peninggalan benda-benda pusaka atau museum. Ritual yang dilakukan setiap tahun tersebut sarat dengan nilai-nilai kebudayaan.

    Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan etnografi. Adapun tempat pelaksanaan dari penelitian ini adalah Museum Balla Lompoa Jl. K.H. Wahid Hasyim No. 39, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Tempat pelaksanaan lainnya akan dilaksanakan di sekitar Kecamatan Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu: observasi, wawancara, dan dokumentasi, Teknik analisis yang kami terapkan adalah: (1) mereduksi data; (2) penyajian data;  (3) verifikasi data (Sugiyono, 2016).

    Pelaksanaan ritual Accera Kalompoang mengandung nilai-nilai silaturahmi, kerukunan, dan kebersamaan. Ketiga nilai tersebut terjalin dalam pelaksanaan ritual Accera Kalompoang karena seluruh lapisan masyarakat dapat berpartisipasi dengan syarat harus menggunakan pakaian adat. Sikap silaturahmi dalam tatanan masyarakat dapat mempererat hubungan antara yang satu dengan yang lain sehingga menimbulkan terjalinnya kekerabatan. Kemudian sikap rukun dalam masyarakat ditandai dengan keharmonisan dalam melaksanakan ritual Accera Kalompoang. Sementara itu, sikap kebersamaan ditandai dengan antusiasme masyarakat dalam mengikuti ritual Accera kalompoang.

    Data kedua, masyarakat Gowa menjunjung tinggi nilai penghormatan pada leluhur sebagai wujud penghargaan atas apa yang telah diwariskan. Sikap penghormatan pada leluhur diwujudkan dalam ritual Accera Kalompoang melalui pembersihan benda atau benda-benda pusaka. Pembersihan benda-benda pusaka untuk menghormati leluhur selaku peletak dasar berdirinya kerajaan Gowa, senantiasa menjaga power kharismanya, permohonan doa agar kerajaan maupun masyarakat tidak terkena musibah atau bahaya.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Sartini, Ni Wayan. 2009. Menggali Nilai Kearifan Lokal Budaya Jawa Lewat Ungkapan (Bebasan, Saloka, dan Paribasa). Jurnal Logat: 5(1):28-37.

    Mubah, Safril. 2011. Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Departemen Hubungan Internasional: 24(4):302-308.

    Hamzah, Asmita, dkk. 2015. Menelusuri Nilai-nilai Tradisi Pangewarang Masyarakat Desa Kaluppini Kabupaten Enrekang. Makassar: LPM Penalaran UNM.

    Sugiyono. 2016. Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

  • PENGEMBANGAN IDEA-PHYRLAB (MEDIA PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS VIRTUAL LABORATORY PADA PERSAMAAN GAS IDEAL)

    Penelitian Idea Phyrlab

    Afiq Agung1, Nurfaida2, Muhammad Nasrullah3

    1,2Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

    3Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik

    Universitas Negeri Makassar

    arsyman@gmail.com

     

    Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mencakup pada lima aktivitas belajar, yaitu mengamati, bertanya, melakukan percobaan atau mencari informasi, melakukan penalaran atau asosiasi untuk mengolah informasi, dan mengembangkan jaringan atau mengomunikasikan hasil investigasi. Pembelajaran saintifik sangat tepat jika digunakan pada pembelajaran yang terdapat kegiatan praktikum di dalamnya. Sebab pembelajaran ini menitikberatkan agar pembelajar berusaha menggali informasi secara mandiri. Proses pembelajaran dengan menekankan pada pemberian pengalaman langsung dalam rangka untuk mengembangkan kompetensi telah ditegaskan pada Permendiknas No. 22 Tahun 2006. Salah satu mata pelajaran yang sangat perlu untuk siswa mendapatkan pengalaman langsung dari materi yang diperlajari yaitu ilmu fisika. Faktor terbatasnya ketersediaan alat dan bahan praktikum di sekolah-sekolah menengah atas di Indonesia menjadikan materi fisika terkadang hanya didapatkan oleh siswa dalam bentuk teori. Beberapa materi dalam ilmu fisika membahas konsep abstrak dan akan sulit dipahami jika proses pembelajaran hanya sebatas teori. Salah satu materi yang sifatnya sangat sulit jika dipahami tanpa praktikum yaitu materi Persaman Gas Ideal. Melihat realitas yang terjadi maka dipandang perlu untuk mengembangkan sebuah media pembelajaran praktikum guna mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.

    Media pembelajaran merupakan prediktor pembelajaran yang signifikan, termasuk mengendalikan faktor lain yang relevan (Diergarten, Möckel, Nieding, & Ohler, 2017:33). Banyak produk media pembelajaran pada masa sekarang dibuat menggunakan teknologi komputer dan diterapkan untuk dunia pendidikan. Program komputer dalam pendidikan dapat dimanfaatkan sebagai lingkungan belajar yang efektif dan motivasional bagi peseta didik (Papastergiou, 2009:11). Salah satu media pembelajaran praktikum yang menggunakan komputer tersebut dinamakan virtual laboratory (Virlab) yang menekankan pada visualisasi sehingga dapat membangun pengetahuan peserta didik terhadap suatu materi abstrak tertentu. Namun, kabanyakan virlab yang diterapkan berdasarkan analisis media pembelajaran yang telah dilakukan di sekolah-sekolah belum dikhususkan untuk Kurikulum 2013 sebagai sistem pendidikan yang baru diterapkan di Indonesia termasuk SMA dan sederajat se-Kota Makassar. Peneliti berinisiatif untuk mengembangkan sebuah media pembelajaran praktikum berbantuan virtual laboratory yang berkaitan dengan persamaan gas ideal yang dikhususkan untuk Kurikulum 2013. Dengan harapan, peserta didik dapat lebih mudah memahami materi dan lebih mengefektifkan proses pembelajaran yang mengangkat materi fisika Persamaan Gas Ideal. Hal ini melatarbelakangi peneliti mengangkat judul penelitian “Pengembangan Idea-Phyrlab (Media Pembelajaran Fisika Berbasis Virtual Laboratory pada Materi Persamaan Gas Ideal)”.

    Jenis penelitian ini memanfaatkan metode penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D). Dalam (Sugiyono, 2014:297) bahwa metode penelitian dan pengembangan adalah metode penelitian yang digunakan untuk menghasilkan suatu produk tertentu serta menguji keefektifan produk tersebut. Tahapan penelitian yang dipakai memodifikasi model yang dikembangkan oleh Sivasailam Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel yakni model 4D. Model 4D tersebut terdiri dari define, design, development, disseminate.

    Tahap Analysis (Analisis) dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai kebutuhan media pembelajaran serta materi dari mata pelajaran yang akan disajikan. Peneliti menganalisis tiga aspek yaitu (1) analisis kebutuhan media pembelajaran, (2) analisis kebutuhan dan karakteristik peserta didik, (3) merumuskan kompetensi mata pelajaran. Informasi tersebut didapatkan melalui observasi serta wawancara. Tahap berikutnya adalah tahap Design (Perancangan). Pada tahapan ini telah dilakukan pemilihan bentuk penyajian media, dimana bentuk yang digunakan adalah bentuk experiment (percobaan). Dalam tahap ini juga dilakukan pemilihan format media yaitu virtual laboratory berbasis flash dan dihasilkan rancangan awal media pada tahap ini. Tahap selanjutnya yaitu tahapan Development (Pengembangan). Tahapan Pengembangan juga terdiri dari beberapa tahap yaitu tahap validasi ahli (expert judgement) dan tahap uji coba (expert appraisal). Kedua tahap tersebut menggunakan instrumen validasi yang menilai kevalidan media pembelajaran dan instrumen yang digunakan dalam tahap uji coba. Pada kedua tahap tersebut juga dilakukan revisi atau perbaikan kemudian melangkah ke tahap selanjutnya. Tahap disseminate (Penyebaran) merupakan tahap tindaklanjut dari media yang telah dikembangkan pada skala yang lebih luas. Pada tahap ini media telah dilakukan proses pengemasan dalam bentuk CD dan dapat digunakan oleh proses pembelajaran di sekolah. Penelitian ini pula telah disertakan dalam Research Colloquium dengan mengundang guru fisika dan peserta didik sebagai pengguna dari media yang dikembangkan.

    Subjek penelitian ini terdiri dari dua bagian. Subjek pertama adalah subjek untuk uji coba desain produk atau uji ahli, yaitu dari  2 orang ahli media dan 2 orang ahli materi. Subjek kedua yaitu subjek yang berkaitan dengan uji coba pemakaian. Uji coba pemakaian terbatas dilaksanakan di SMA Islam Athirah 1 Kajaolalido, dengan jumlah peserta didik sebanyak 17 orang. Kedua, uji coba pemakaian dengan responden uji coba lapangan lebih luas di laksanakan di SMA Islam Athirah 1 Kajaolalido (22 peserta didik), SMA Negeri 1 Makassar (30 peserta didik) dan SMA Negeri 17 Makassar (31 peserta didik).

    Metode pengumpulan data adalah menggunakan angket untuk mengevaluasi produk yang telah dikembangkan. Angket diberikan kepada ahli media dan ahli materi untuk memvalidasi produk dan angketnya, serta guru dan peserta didik untuk dapat memberikan penilaian mengenai produk yang sedang dikembangkan. Adapun alat pengumpul data yang digunakan adalah instrumen validasi media dan angket uji coba yang diberikan untuk ahli media dan materi dan angket untuk guru dan peserta didik yang telah divalidasi oleh ahli.

    Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Dengan tujuan agar memperoleh data berwujud angka-angka hasil dari angket uji ahli serta uji lapangan yang kemudian dianalisis oleh peneliti berdasarkan jumlah yang diharapkan sehingga pada akhirnya akan diperoleh nilai rata-rata penilaian. Data rata-rata skor hasil penilaian dikonversikan menjadi nilai kualitatif dengan patokan skala Likert.

    Hasil penilaian dari ahli materi dan ahli media didapatkan bahwa nilai rata-rata tertinggi terdapat pada aspek manfaat media sebesar 4.00 yang termasuk dalam kategori sangat layak. Kedua adalah aspek navigasi/pengeperasian media dengan rata-rata skor sebesar 3,75 yang termasuk dalam kategori sangat layak. Ketiga adalah aspek desain media dengan rata-rata skor sebesar 3,625 yang termasuk dalam kategori sangat layak. Jika skor dirata-ratakan secara keseluruhan sebesar 3,37. Skor tersebut menunjukan secara keseluruhan penilaian tehadap media pembelajaran menunjukan kategori layak.

    Hasil penelitian lainnya didapatkan dari uji coba lapangan pada tiga sekolah yaitu di kelas XI MIA SMA Negeri 1 Makassar, SMA Negeri 17 Makassar dan SMA Islam Athirah 1 Kajaolalido tahun ajaran 2016/2017. Hasil uji coba lapangan terbatas mempergunakan responden dari peserta didik kelas XI MIA 1 di SMA Athirah 1 Kajaolalido dengan jumlah peserta didik sebanyak 17 orang didapatkan skor rata-rata berada di atas 3,50. Adapun hasil tanggapan (respon) pada uji coba lapangan lebih luas terhadap media pembelajaran untuk materi Persamaan Gas Ideal berbasis Virtual Laboratoy, didapatkan hasil bahwa media pembelajaran untuk materi Persamaan Gas Ideal berbasis Virtual Laboratory mendapatkan rata-rata penilaian sebesar 3,57 yang berarti kualitas media pembelajaran tersebut masuk pada kategori sangat layak. Hal ini menunjukan bahwa media pembelajaran untuk materi Persamaan Gas Ideal berbasis Virtual Laboratory layak untuk digunakan dalam pembelajaran.

     

    DAFTAR PUSTAKA

    Diergarten, A. K., Möckel, T., Nieding, G., & Ohler, P. (2017). The impact of media literacy on children’s learning from films and hypermedia. Journal of Applied Developmental Psychology, 48, 33–41. https://doi.org/10.1016/j.appdev.2016.11.007

    Papastergiou, M. (2009). Digital Game-Based Learning in high school Computer Science education: Impact on educational effectiveness and student motivation. Computers and Education, 52(1), 1–12. https://doi.org/10.1016/j.compedu.2008.06.004

    Sugiyono. (2014). Metode Penelitian, Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Cetakan ke). Bandung: Penerbit Alfabeta.

     

  • ANALISIS KESESUAIAN PERAIRAN DANAU MAWANG KABUPATEN GOWA SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA IKAN PATIN (PANGASIUS HYPOPTHALMUS) DITINJAU DARI ASPEK FISIK, KIMIAWI DAN GEOGRAFIS

    Penelitian Danau Mawang

    ¹Ari Handoko, ²Anwar , ³Asrianti Putri Lestari, 4 Amin Nur Syafitri 5 Muh. Wahyu

    Budidaya ikan di Provinsi Sulawesi Selatan saat ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berdasaran data BPS (2013), subsektor perikanan di Sulawesi Selatan mulai berkembang dengan pesat bahkan menggeser dominasi perkebunan sebagai penyumbang terbesar kedua dalam PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sektor pertanian Sulawesi Selatan. Namun, tidak semua jenis ikan dapat hidup pada suatu perairan. Di dalam membudidayakan ikan pada keramba, salah satu syarat yang perlu diperhatikan adalah kualitas air karena hal tersebut dapat mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup, perkembangan, pertumbuhan, dan produksi ikan (Cholik et al dalam Minggawati, 2012).

    Air sebagai media pemeliharaan ikan harus selalu diperhatikan kualitasnya. Salah satu sumber daya lahan perairan air tawar yang cukup strategis adalah Danau Mawang. Danau Mawang terletak antara dua wilayah administratif yaitu Kelurahan Mawang Kecamatan Somba Opu dan Kelurahan Romang Lompoa Kecamatan Bontomarannu. Danau ini memanjang dari barat laut-tenggara dengan topografi yang berbeda-beda (Google Maps, 2017). Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan Danau Mawang sebelumnya pernah digunakan sebagai tempat budidaya ikan. Tapi sekarang yang terlihat hanya sisa keramba.

    Pengoptimalkan potensi sumber daya lahan Danau Mawang, maka perlu dilakukan suatu penelitian tentang analisis kualitas air dan kesesuaian lahan tersebut dengan jenis ikan tertentu. Sebagai suatu sistem yang terbuka, perairan mempunyai berbagai sifat dan unsur yang larut didalamnya. Maka dari itu gambaran yang tepat dari sifat-sifat kimia perairan didasarkan pada alkalinitas atau asiditas, kelarutan, konstanta pembentukan kompleks, potensial redoks, dan pH (Achmad, 2004).

     Ikan patin merupakan salah satu ikan air tawar yang bernilai ekonomis tinggi, selain itu, ikan patin juga  merupakan ikan yang paling banyak dibudidayakan terutama Provinsi Kalimantan Selatan, Jambi, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Ikan patin merupakan ikan penting baik di sektor lokal, nasional, maupun global karena daging ikan patin tergolong enak, lezat, dan gurih. Disamping itu, ikan patin mengandung protein yang tinggi dan kolestrol yang rendah sehingga sangat baik dikonsumsi dan bermanfaat untuk tubuh. Penggemar ikan patin bahkan terdapat di berbagai negara melintasi benua (Minggawati dan Saptono, 2011).

    Peningkatan produksi ikan patin terus dievaluasi dari tahun ke tahun, perbandingan total produksi ikan patin nasional dengan produksi ikan patin dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2011 Indonesia menempati urutan ke dua terbesar sebagai penghasil produk ikan patin di dunia yaitu sekitar 16,1% dari total produksi ikan patin dunia. Namun kondisi tersebut dihadapkan dengan berbagai tantangan, seperti peningkatan kebutuhan benih yang berkualitas, peningkatan kebutuhan pakan, penurunan kualitas air dan lingkungan, ancaman serangan penyakit, teknik budidaya yang efisien dan efektif, penanganan pasca panen yang baik, daya beli pasar domestik dan ekspor, serta permasalahan-permasalahan sosial dan legalitas usaha, termasuk kesesuaian aktivitas budidaya dengan tata ruang daerah. Posisi Indonesia masih di bawah Vietnam yang memberikan produksi sekitar 80,9% (Laptah Produksi, 2013).

    Menurut Ghufran (2005), air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan patin harus memenuhi kebutuhan optimal ikan dengan kata lain, air yang digunakan kualitasnya harus baik, yaitu suhu air berkisar antara 25 – 33 ºC, pH air 6,5 – 9,0 optimal 7 – 8,5, oksigen terlarut (DO) antara 3 – 7 ppm, optimal 5 – 6 ppm, kadar amonia (NH3) dan asam belerang (H2S) tidak lebih dari 0,1 ppm,  karbondioksida (CO2) tidak lebih dari 10 ppm.

    Teknologi penginderaan jauh telah menawarkan kemudahan dalam penelitian terkait parameter fisika kimia perairan. Interpretasi citra landsat adalah proses pengkajian citra landsat melalui proses identifikasi dan penilaian mengenai objek yang tampak pada citra landsat. Dengan kata lain, interpretasi citra landsat merupakan suatu proses pengenalan objek yang berupa gambar (citra landsat) untuk digunakan dalam disiplin ilmu tertentu seperti Geologi, Geografi, Ekologi, Geodesi dan disiplin ilmu lainnya, dengan pengenalan objek dari interpretasi citra landsat. Untuk itu, identitas dan jenis objek pada citra landsat sangat diperlukan dalam analisis pemecahan masalah. Karakeristik objek pada citra landsat dapat digunakan untuk mengenali objek yang dimaksud dengan unsur interpretasi citra landsat dapat memberikan atau menampilkan data kualitas perairan seperti klorofil-a, MPT dan kecerahan dengan menggabungkan Band serta analisis citra menggunakan metode algoritma, namun keakuratan yang masih perlu dilakukan koreksi dengan data primer (Nuriya, 2010).

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian perairan Danau Mawang Kabupaten Gowa sebagai lahan budidaya ikan patin (Pangasius hypopthalmus). Data penelitian ini dianalisis menggunakan parameter nilai dari aspek fisik, kimiawi dan citra landsat 8. Adapun uji yang dilakukan adalah uji laboratorium dan analisis citra satelit. Data penelitian untuk aspek fisik dan kimiawi dengan melakukan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling sebanyak 4 titik dibagian tepi danau mawang, sedangkan untuk aspek citra landsat  memanfaatkan citra satelit dengan bantuan software ArcGIS. Hasil data penelitian berdasarkan aspek kimiawi didapatkan parameter nilai oksigen terlarut, pH dan amonia (NH3), untuk aspek fisik dan citra landsat didapatkan parameter nilai suhu pada perairan danau mawang. Berdasarkan pengukuran lapangan untuk aspek fisik, nilai rata-rata suhu perairan Danau Mawang berkisar 31,13 – 32,45oC. Pada pengukuran lapangan pada aspek kimiawi, nilai rata-rata parameter pH 6, untuk DO berkisar 4,83 – 7,68 mg/L, sedangkan untuk amonia berkisar 0.0024 – 0.0034 mg/L. Hal ini menunjukan suhu air pada Danau Mawang di Kabupaten Gowa memenuhi syarat untuk dilakukan kegiatan budidaya ikan berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001. Berdasarkan pengukuran suhu menggunakan citra landsat 8 nilai yang didapatkan yaitu berkisar 19,61 – 20,68oC yang berarti perairan Danau Mawang tidak memenuhi syarat untuk dilakukan budidaya ikan berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001.

  • PERSEPSI GURU TERHADAP PELAKSANAAN USBN 2017 DI SMAN 16 MAKASSAR

    art4-persepsi guru terhadap pelaksanaan usbn di sman 16 makassar

    ¹Andi Muhammad Iksan, ²Andi Nurul Sahna Bilqis, ³Rahmawati, 4 Wilda Inasari

    Pendidikan adalah salah satu aspek yang penting dalam suatu negara yang dibutuhkan untuk meningkatkan serta memajukan suatu negara. Selain itu, pendidikan dapat diartikan aspek penentu intelektualitas  dan sumber daya manusia. Sistem pendidikan yang berkualitas dapat diperoleh  dengan  evaluasi dari pendidikan itu sendiri.

    Evaluasi pendidikan adalah kegiatan menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan (Daryanto, 2010). evaluasi dilakukan untuk menilai tingkat keberhasilan yang dicapai dari sistem pendidikan maupun kebijakan pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah. Kebijakan pendidikan yang ada di Indonesia salah satunya yaitu Ujian Nasional (UN) sebagai dasar dalam penentuan kelulusan bagi siswa SMA. Kondisi pendidikan di Indonesia saat ini masih menjadikan Ujian Nasional (UN) sebagai tolok ukur kelulusan siswa.

    Berbagai masalah dari pelaksanaan UN menjadi alasan bagi pemerintah untuk memberikan kebijakan yaitu Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) yang akan dilaksanakan menjadi penentu kelulusan bagi siswa. Pelaksanaan USBN merupakan kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah dan pada tahun 2017 telah dilaksanakan di seluruh sekolah yang ada di Indonesia. Hal tersebut diketahui dengan adanya Prosedur Operasional Standar Penyelenggaraan Ujian Sekolah Berstandar Nasional tahun pelajaran 2016/2017 oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

    Peran MGMP dalam penyelenggaraan USBN yaitu menyusun soal USBN sebanyak 75%-80% sejumlah paket yang ditentukan untuk masing-masing mata pelajaran, menerima 20%-25% soal dari USBN dari Dinas Pendidikan, merakit soal USBN sejumlah paket yang ditentukan dan menyerahkan soal USBN berikut kelengkapannya ke MKSS dengan diketahui oleh Dinas Provinsi/Kabupaten/Kota (Direktorat Jenderal Pendidikan, 2017). guru berperan penting dalam pelaksanaan USBN seperti menyusun soal, pendistribusian soal maupun prosedur pelaksanaan lainnya. Dengan adanya peran penting tersebut tentunya menimbulkan pandangan tersendiri di kalangan guru terkait pelaksanaan USBN tersebut.

    penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi guru terhadap pelaksanaan USBN 2017 di SMAN 16 Makassar. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai persepsi guru mata pelajaran di SMAN 16 Makassar terhadap pelaksanaan USBN 2017. Penelitian ini akan menghasilkan data deskriptif berupa hasil wawancara terkait persepsi guru mata pelajaran terhadap pelaksanaan USBN di SMAN 16 Makassar.

    Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif merupakan suatu cara  mendeskripsikan atau menggambarkan sesuatu fakta dan menyuguhkan data apa adanya (Pasaribu, 2005). Pendekatan deskriptif yang peneliti maksudkan dalam hal ini adalah peneliti ingin mengetahui persepsi guru terhadap pelaksanaan USBN 2017 melalui beberapa aspek.

    Pemaparan data yang dilakukan berdasarkan pedoman wawancara yang terdiri atas beberapa aspek, yaitu pengetahuan, persiapan dan pendapat guru SMAN 16 Makassar terhadap pelaksanaan USBN. Aspek pengetahuan meliputi pemahaman, standar kelulusan, dan teknik pembuatan soal kemudian aspek persiapan dan aspek pendapat guru.

    Pertama, pemahaman Guru SMAN 16 Makassar terhadap pelaksanaan USBN 2017. SMAN 16 Makassar merupakan salah satu sekolah yang melaksanakan USBN pada 20 Maret-23 Maret 2017. USBN merupakan salah satu kebijakan dari pemerintah di bidang pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan. Kebijakan pelaksanaan USBN merupakan kebijakan baru yang dikeluarkan oleh pemerintah pada tahun 2017 sehingga harus ada adaptasi dari sekolah yang melaksanakan USBN ini. Guru SMAN 16 Makassar sendiri memang telah mengetahui dan memahami  adanya  pelaksanaan  USBN  2017  yang mana pelaksanaan USBN ini dilaksanakan untuk semua mata pelajaran termasuk mata pelajaran agama yang sebelumnya tidak pernah di-USBN-kan. Pelaksanaan USBN yang berperan penting adalah guru karena selain sebagai pembuat soal, yang menjadi pengawas dalam prosesnya pun adalah guru itu sendiri yang berasal dari sekolah masing-masing, terutama guru yang mengajar di kelas 3.

    Kedua, pengetahuan SMAN 16 Makassar terhadap standar nilai kelulusan dari USBN 2017. USBN yang telah dilaksanakan belum diketahui hasilnya karena pengumuman kelulusan siswa belum dikeluarkan oleh sekolah. USBN merupakan kebijakan baru maka belum ada ketentuan terkait persentase dari kelulusan USBN itu sendiri. Kelulusan dari siswa SMA 16 Makassar yang ditentukan oleh kurikulum sekolah, yang mana kelulusan dilihat dari hasil USBN dan UNBK dengan persentase tersendiri. Ujian yang telah dilaksanakan akan dikembalikan ke sekolah yang bersangkutan mulai dari pemeriksaan hasil ujian yang dilakukan oleh guru dan tempat pelaksanaanya di sekolah masing-masing.

    Ketiga, pengetahuan SMAN 16 Makassar terhadap teknik pembuatan soal. Pelaksanaan USBN merupakan ujian sekolah berstandar nasional. Pembuatan soal dibuat oleh satu tim yang disebut MGMP. Soal yang didistribusikan kesetiap sekolah itu sebahagian dari pusat dan provinsi melalui MGMP provinsi. Yang tergabung dalam tim pembuatan soal sebelumnya telah diberikan pelatihan dalam pembuatan soal sehingga telah memahami indikator penting dalam penyusunan naskah soal USBN. Di SMAN 16 itu sendiri tidak ada yang terlibat sebagai tim pembuat soal.

    Keempat, persiapan yang dilakukan oleh guru SMAN 16 Makassar dalam menghadapi USBN 2017. Seperti pada ujian-ujian sebelumnya dalam menghadapi ujian khususnya USBN ini siswa maupun guru memiliki persiapan. Terutama persiapan dari siswa yang akan melaksanakan USBN. Persiapan yang diberikan oleh guru yaitu mengulangi materi yang telah diberikan  pada kelas X dan XI sebelumnya berdasarkan buku panduan USBN. Selain melakukan pengayaan materi beberapa tips juga diberikan oleh guru kepada siswa yaitu dengan perbanyak pengerjaan soal-soal dan materi berdasarkan kisi-kisi yang diberikan dari ketua           MGMP setiap mata pelajaran yang di-USBN-kan. Persiapan berupa les sore yang lazimnya dilaksanakan oleh sekolah dalam menghadapi ujian nasional tidak diintenskan karena di SMAN 16 Makassar itu sendiri belajarnya sampai sore.

    Kelima, pendapat guru terhadap pelaksanaan USBN 2017 oleh guru mata pelajaran di SMAN 16 Makassar. Sebuah kebijakan baru dilaksanakan tentu saja memberikan tanggapan dari yang melaksanakan kebijakan tersebut. Sama halnya dengan pelaksanaan USBN 2017 ini muncul berbagai tanggapan. Guru SMAN 16 Makassar memberikan tanggapan yang baik pada kebijakan baru ini. Pelaksanaan USBN perlu dilaksanakan dengan harapan adanya pembagian kisi-kisi lebih awal dari pemerintah mengenai materi yang akan dimasukkan dalam soal, sehingga memudahkan guru dalam memberikan persiapan. Beberapa kelebihan dari USBN 2017 ini yaitu dari segi soal yang diujiankan telah mewakili soal dari pusat dan provinsi melalui MGMp sebagai tim pembuat soal. Selain itu, guru mata pelajaran tidak lagi diwajibkan membuat soal dan pemeriksaan dilaksanakan secara bersama sehingga nilai yang diberikan sesuai dari kemampuan siswa. Selain terdapat beberapa kelebihan terdapat pula kendala dan kekurangan dari pelaksanaan USBN ini yaitu waktu yang terlalu sempit sehingga kurang maksimal pembelajarannya. Ditambah dengan semua mata pelajaran di-USBN-kan sehingga siswa akan kesulitan menyeimbangkan dalam hal mempelajari semua mata pelajaran. Kendala yang dirasakan oleh pihak sekolah yaitu dari segi sarana dan prasarana yang masih kurang.

    DAFTAR PUSTAKA

    Daryanto. 2010. EvaluasiPendidikan. Jakarta: RinekaCipta.

    Pasaribu, R. B. F. 2005. AnalisisPenentuanPopulasidanSampel. Media Grup: Jakarta.

Close