Call us on 0823-9388-3833

Home » Artikel » “Budaya” Ciri Khas Bangsa yang Mulai Tergerus

“Budaya” Ciri Khas Bangsa yang Mulai Tergerus

Kebudayaan merupakan suatu cerminan karakter atau ciri khas dari suatu bangsa, karena kebudayaaan merupakan warisan langsung dari leluhur atau nenek moyang bangsa tersebut. Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan budaya, lebih dari 20 suku terdapat di Indonesia dan lebih dari 100 budaya ada di Indonesia. Kebudayaan Indonesia merupakan seluruh kebudayaan lokal dari seluruh ragam suku-suku di Indonesia yang ada sebelum terbentuknya nasional Indonesia yang pada dasarnya dipengaruhi oleh budaya bangsa lain seperti kebudayaan Tionghoa, kebudayaan Arab, dan kebudayaan Cina.

Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki ragam etnis dan kebudayaan. Sulawesi Selatan secara administratif terdiri dari 20 kabupaten dan 4 kota dengan Makassar sebagai ibukota provinsi. Provinsi ini terdiri dari berbagai etnis seperti Bugis, Makassar, Mandar, Toraja, Duri, Pattinjo, Maroangin, Endekan, Pattae, dan Kajang/Konjo. Dari berbagai etnis tersebut juga terdapat berbagai macam bahasa yang digunakan seperti bahasa Makassar, Bugis, Luwu, Toraja, Mandar, Duri, Konjo, dan Pattae. Salah satu kebudayaan Sulawesi Selatan yang terkenal sampai kemancanegara adalah Kebudayaan dan adat Tana Toraja yang khas dan menarik.

Kebudayaan Sulawesi Selatan merupakan salah satu kebudayaan yang mulai terkikis seiring perkembangan zaman, banyak dari masyarakat Sulawesi Selatan yang tidak mengacuhkan kebudayaan sendiri yang merupakan warisan dari leluhur. Kebanyakan dari mereka lebih memilih mengadopsi budaya asing yang dianggap lebih mencerminkan peradaban yang maju dibandingkan melestarikan kebudayaan lokal yang secara turun temurun diwariskan oleh para pendahulu.

Contoh kebudayaan Sulawesi Selatan yang mulai memudar di masyarakat adalah seni tradisional dan permainan rakyat. Seni tradisional dan permainan rakyat dulunya sangat dekat dengan masyarakat, dulunya seni dan permainan tradisional dianggap sakral dan kadangkala menjadi salah satu syarat untuk melakukan suatu kegiatan tertentu. Contohnya tari paddek k o, merupakan tari yang menggambarkan ucapan syukur karena panen berhasil di daerahnya, tari ini berasal dari Kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar, menumbuk padi tidak boleh dilakukan sebelum anjaya kedengaran atau tari paddek k o dilakukan karena padi mereka dapat berubah menjadi awang (dedak) dan ase anja (tidak berisi), tetapi lama kelamaan hal ini dianggap ketinggalan zaman dan merupakan takhayul belaka. Permainan rakyat yang memiliki fungsi sebagai media belajar selain sebagai hiburan sudah tidak dilirik lagi oleh anak-anak pada zaman sekarang ini, anak-anak lebih cenderung bermain dengan mainan yang modern seperti mobil remote control, boneka Barbie dan lain sebagainya.

Suatu kenyataan yang sulit dipungkiri, bahwa keberadaan seni tradisional Sulawesi Selatan makin goyah seiring dengan semakin menipisnya masyarakat pendukungnya, sehingga membuatnya terpuruk dan terpinggirkan. Keadaan ini diperparah oleh sangat minimnya catatan-catatan tertulis yang dapat dijadikan acuan untuk sedikit banyak mengetahui tentang bentuk-bentuk seni tradisional Sulawesi Selatan yang diharapkan dapat membantu penggalian nyaris tidak ada yang tersimpan. Orang-orang Belanda yang pernah masuk di Sulawesi Selatan, meminjam naskah-naskah kuno tersebut dan kebanyakan dari mereka tidak lagi mengembalikannya. Sementara bagian yang tersisa ditangan anggota masyarakat kebanyakan hilang tak berbekas pada masa perjuangan kemerdekaan maupun ketika pemberontakan DI/TII Kahar Muzakkar selama lima belas tahun (1950-1965). Kecuali itu pemuka-pemuka adat serta orang tua, pewaris langsung budaya leluhur yang masih memiliki pengetahuan tentang seni tradisional satu demi satu meninggal tanpa menyimpan catatan tertulis (Monoharto dkk, 2003: hal 19).

Jika keadaan seperti ini terus menerus berlanjut tanpa ada penanganan yang serius dari masyarakat dan permerintah, maka tidak dapat disangsikan lagi seni tradisional dan permainan rakyat di Sulawesi Selatan akan mengalami kepunahan. Bahkan bisa jadi ana-anak dan remaja beberapa tahun kemudian sama sekali tidak akan mengenal yang namanya pasere marumatang, Mappedendang ogi, Kondo Buleng, Mak k addaro, assanto, maqk acalele dan lain sebagainya. Dengan punahnya kesenian di daerah kita, daerah kita akan menjadi daerah yang kehilangan identitas atau ciri khasnya. Agar bisa menanggulangi kelunturan ini maka diperlukan suatu cara yang kreatif dan menarik agar para remaja dan anak-anak lebih mencintai dan dapat melestarikan kesenian di daerah Sulwesi Selatan, jangan lagi kesenian kita dicap kampungan dan hanya sebagai pelengkap suatu acara. Tetapi bagaimana agar kesenian kita memang dianggap sebagai ciri khas daerah yang terikat erat dengan kehidupan sosial masyrakat.

Pertanyaan mendasar bagi kita semua, sebagai titik tolak kebangkitan bangsa kita dalam ranah kebudayaan. Alternatif apa yang bisa kita sumbangkan kepada bangsa kita, kepada daerah kita agar kebudayaan yang telah menjadi ciri bangsa ini tidak tergerus oleh budaya barat yang banyak teradaptasi oleh masyarakat banyak?

 Tuesday, 29 October 2013 13:46 TIM KESEKRETARIATAN LPM-PNL UNM 2012/2013

Related Post

Penelitian Pre Eksperimen Penelitian Pre-EksperimenPenelitian pre-eksperimen atau pre-experimental designs merupakan rancangan penelitian yang belum dikategorikan sebagai e...
Penelitian Expo-Facto PENELITIAN EXPOST FACTO A. Pengertian Expost Facto Secara harfiah, expost facto berarti “sesudah fakta” karena sebab yang akan diteliti telah mempen...
Penelitian Kebijakan PENELITIAN KEBIJAKANTerdapat beragam jenis metode penelitian yang dapat digunakan dalam melakukan penelitian. Salah satu metode penelitian adalah ...
Penelitian Eksperimen Semu Rancangan Eksperimen SemuPenelitian Eksperimen adalah penelitian yang bertujuan untuk meramalkan dan menjelaskan hal-hal yang terjadi atau yang ak...