Uncategorized

Analisis Miskonsepsi Peserta Didik Kelas XI SMAN 1 Gowa pada Materi Larutan Penyangga Menggunakan Three-Tier Diagnostic Test

Judul Penelitian:

Analisis Miskonsepsi Peserta Didik Kelas XI SMAN 1 Gowa pada Materi Larutan Penyangga Menggunakan Three-Tier Diagnostic Test


Tahun Penelitian:

2018


Nama Peneliti:

 


Latar Belakang:

Ilmu kimia merupakan cabang dari ilmu sains yang mempelajari bagaimana benda atau materi di alam raya dapat diubah dari bentuk yang ada dengan sifat-sifat tertentu menjadi bentuk-bentuk lain dengan sifat-sifat yang berbeda. Kimia membutuhkan pemahaman konsep yang sistematis dan kuantitatif sehingga pembelajaran kimia ini bersifat abstrak dan memicu terjadinya kesalahan konsep pada peserta didik atau dikenal dengan istilah miskonsepsi. Menurut Marathussolihah, dkk (2017) bahwa materi dalam kimia merupakan materi yang saling berkaitan dan berjenjang, sehingga jika peserta didik mengalami miskonsepsi pada materi dasar, maka peserta didik akan kesulitan memahami materi selanjutnya yang dapat mengakibatkan rendahnya hasil belajar peserta didik.

Miskonsepsi adalah suatu kesalahan konsep yang tidak sesuai dengan konsep ilmiahnya yang terjadi pada saat proses pembelajaran. Hal ini sesuai dengan Suparno (dalam Medina, 2015) bahwa miskonsepsi merupakan sebuah konsep khusus yang berbeda dengan konsep ilmiah yang sebenarnya dan tidak sesuai dengan persetujuan peneliti di bidang keahliannya. Miskonsepsi dapat berasal dari pengalaman peserta didik yang salah menginterpretasi materi yang dihadapi. Miskonsepsi dapat bersumber dari pembelajaran guru yang kurang terarah atau mungkin guru itu juga mengalami miskonsepsi
(Siwi, 2013). Faktor lain yang menjadi penyebab miskonsepsi bersumber dari buku teks juga dapat bersumber dari peserta didik itu sendiri seperti dari minat, pemahaman dan motivasi peserta didik.

Miskonsepsi pada mata pelajaran kimia akan sangat fatal karena konsep-konsep kimia yang abstrak dan saling terkait antara satu dengan yang lainnya, sehingga kesalahan prakonsep pembelajaran akan berpengaruh kepada pelajaran lanjutan, hal ini akan berdampak pada rendahnya kemampuan peserta didik dan tidak tercapainya ketuntasan belajar (Nazar dkk, 2010).

Salah satu materi kimia yang rentan terjadi miskonsepsi adalah larutan penyangga. Ini dikarenakan pada materi larutan penyangga banyak konsep perhitungan maupun konsep secara teori yang perlu dipahami peserta didik. Terlebih lagi pada konsep perhitungan hidrolisis garam yang menyerupai konsep perhitungan dari larutan penyangga.

Menurut Zaleha (dalam Sholihat, 2017), berdasarkan permasalahan mengenai miskonsepsi peserta didik, maka miskonsepsi harus diremediasi, namun yang perlu dilakukan terlebih dahulu ialah mengdiagnosis adanya miskonsepsi tersebut. Karena miskonsepsi membuat peserta didik kesulitan dalam mempelajari konsep untuk materi yang berhubungan. Salah satu cara untuk mendiagnosis adanya miskonsepsi pada peserta didik adalah dengan menggunakan tes diagnostik. Tes diagnostik adalah tes yang dapat digunakan untuk mengetahui secara tepat dan memastikan kelemahan dan kekuatan peserta didik pada pelajaran tertentu.

Salah satu tes diagnostik yang pernah digunakan adalah two-tier tes dan three-tier. Tingkat pertama (one-tier) berupa pilihan ganda biasa, tingkat kedua (two-tier) berupa soal dan alasan. Kekurangannya adalah tidak dapat membedakan antara peserta didik yang miskonsepsi dengan tidak paham konsep. Kelemahannya ini disampaikan oleh Pesman dan Erylmaz (2010) yang mengembangkan three-tier test. Pada three-tier diagnostic test terdiri dari soal, alasan memilih jawaban pada tingkat pertama dan pada tingkat ketiga berisi penegasan tentang keyakinan dari jawaban dan alasan yang telah dipilih pada dua tingkat sebelumnya.


Tujuan Penelitian:

  1. Mengetahui berapa besar persentase peserta didik kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa yang mengalami miskonsepsi pada materi larutan penyangga.
  2. Mengetahui bentuk-bentuk miskonsepsi yang terjadi pada peserta didik kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa pada materi larutan penyangga.
  3. Mengetahui yang menyebabkan terjadinya moskonsepsi yang dialami pada peserta didik kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa pada materi larutan penyangga.

Metodologi penelitian:

Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif-kualitatif dengan pendekatan deskriptif.

Definisi operasional:

Three tier diagnostic test merupakan instrumen analisis miskonsepsi yang terdiri dari tiga tingkatan yaitu tingkat pertama multiple choice, tingkat kedua alasan,  dan tingkat ketiga keyakinan.

Miskonsepsi peserta didik merupakan suatu pemahaman oleh peserta didik mengenai suatu konsep tertentu yang konsep tersebut bertentangan dengan konsep  sebenarnya.

Teknik pengumpulan data

Observasi dalam penelitian ini dilakukan pada saat proses pembelajaran larutan penyangga berlangsung, digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan miskonsepsi peserta didik. Teknik ini dilakukan dengan menggunakan instrumen lembar observasi yang ditujukan kepada guru dan buku teks menyangkut teknis dan metode pembelajaran pada guru serta pemaparan konsep di dalam buku teks.

Tes diagnostik ini terdiri dari tipe soal multiple choice one-tier, two-tier dan three-tier. Tingkat pertama (one-tier) berupa pilihan ganda biasa beserta pilihan jawaban, tingkat kedua (two-tier) berupa soal dan alasan memilih jawaban pada tingkat pertama, sedangkan tingkat ketiga (three-tier) berupa tingkat keyakinan dari jawaban dan alasan yang telah dipilih pada kedua tingkat sebelumnya.

Wawancara dilakukan terhadap peserta didik yang mengalami miskonsepsi untuk mendapat informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden dengan menggunakan pedoman wawancara atau daftar pertanyaan.

Teknik Analisis Data

Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan statistik deskfriptif untuk mengidentifikasi miskonsepsi peserta didik pada materi larutan penyangga.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah masyarakat pengunjung taman baca yang ada di kota Makassar yakni 12 Taman Baca Kecamatan yang tersebar di kota Makassar.

Teknik pengambilan sampel yang peneliti gunakan pada penelitian ini adalah teknik total sampling.Teknik total sampling digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sama dengan populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah pengunjung taman baca  yang tersebar di 12 taman baca di kota Makassar.


Hasil dan Pembahasan

Hasil Persentase Tes Diagnostic Three-Tier Test

Sebanyak 28 peserta didik kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa telah diberikan tes mengenai materi larutan penyangga sebanyak 12 nomor soal. Hasil dari tes kemudian diperiksa dan dianalisis sehingga diperoleh persentase miskonsepsi, paham konsep dan tidak paham konsep pada setiap item soal tersebut. Hasil analisis persentase miskonsepsi peserta didik pada setiap butir soal dapat dilihat kecenderungan butir soal yang mengalami miskonsepsi pada peserta didik. Butir soal yang paling besar persentase miskonsepsinya adalah pada butir soal 10. Butir soal 10 ini merupakan butir soal yang membahas konsep aplikasi atau peranan larutan penyangga pada kehidupan sehari-hari. Butir soal 10 ini merupakan pertanyaan peranan larutan penyangga yang terjadi di dalam mulut. Hasil analisis diketahui bahwa peserta didik yang mengalami miskonsepsi sebesar 67,86% sedangkan peserta didik yang paham konsep sebesar 0% serta untuk yang tidak paham konsep sebesar 32.14%. Tingginya persentase miskonsepsi pada butir 10 soal ini dikarenakan peserta didik dalam mempelajari penerapan serta aplikasi dari materi larutan penyangga dalam kehidupan sehari-hari hanya sekedar menghafal saja. Sehingga jika terdapat model soal yang berbeda namun dengan pembahasan yang sama, maka peserta didik akan bingung untuk menjawab soal tersebut.

Bentuk Miskonsepsi yang Dialami Peserta Didik

Bentuk-bentuk miskonsepsi yang terjadi pada peserta didik kelas XI SMAN 1 Gowa dapat dilihat dari pemberian tes multiple choice yaitu three-tier diagnostic test yang berjumlah 12 nomor soal dengan tingkat alasan pada tingkat kedua dan tingkat keyakinan pada tingkat ketiga. 28 peserta didik yang diberikan tes multiple choice ini memberikan hasil miskonsepsi yang beragam, dilihat dari setiap tingkat yaitu jawaban, alasan, dan keyakinannya. Miskonsepsi terjadi pada semua materi larutan penyangga yaitu pada konsep larutan penyangga, konsep penyangga asam dan basa, dan perhitungan konsep mol pada larutan penyangga.

Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Miskonsepsi

Hasil dari observasi dan wawancara yang telah dilakukan terhadap guru dan peserta didik di kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa, dapat diketahui bahwa faktor-faktor penyebab miskonsepsi peserta didik pada larutan penyangga diantaranya ialah sebagai berikut:

Penyebab Miskonsepsi Bersumber dari Guru

Hasil dari observasi yang telah dilakukan terhadap guru kimia di kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa, guru telah menguasai bahan materi kimia larutan penyangga dengan benar. Akan tetapi, berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan terhadap peserta didik bahwa beberapa siswa menyatakan jika guru sering berhalangan datang sehingga ketika mereka ingin menanyakan mengenai materi yang tidak dipahami, guru hanya mengarahkan peserta didik untuk membaca buku.

Penyebab Miskonsepsi Bersumber dari Peserta Didik

Peserta didik menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya miskonsepsi di kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa, hal ini dikarenakan adanya prakonsepsi yang sejak awal telah dimiliki peserta didik pada materi kimia sebelumnya seperti kurangnya ketepatan pemahaman konsep pada materi tata nama senyawa dan materi asam basa. Terlebih dalam suatu pembelajaran terutama materi kimia, akan selalu ada korelasi antara satu materi dengan materi yang lainnya dan apabila terdapat kesalahan pada materi awal maka akan berpengaruh terhadap materi berikutnya. Pemikiran yang negatif terhadap pelajaran kimia yang dianggap rumit juga menjadi indikasi kurangnya minat peserta didik terhadap pembelajaran kimia. Hal ini menjadikan tidak adanya inisiatif pada peserta didik untuk belajar lebih memahami setiap konsep secara mendalam.

Faktor miskonsepsi lainnya karena terdapat intuisi yang salah pada siswa. Siswa hanya menghafal teori tanpa memahami konsepnya sehingga ketika diberi soal denagn konsep yang sama namun berbeda bentuk peserta didik kesulitan menjawabnya. Asumsi ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jannah dkk (2016) yang menganalisis miskonsepsi siswa kelas XI SMA Negeri 1 Banawa Tengah pada pembelajaran larutan penyangga dengan CRI. Pada penelitian tersebut menjelaskan bahwa penyebab miskonsepsi peserta didik terdiri dari berbagai hal yaitu prakonsepsi, pemikiran humanistik, pemikiran asosiatif siswa, reasoning yang tidak lengkap, intuisi yang salah, perkembangan kognitif siswa, minat siswa, dan kemampuan siswa.

Penyebab Miskonsepsi Bersumber dari Buku Teks

Faktor penyebab lain adanya miskonsepsi peserta didik adalah buku teks yang menjadi pegangan oleh setiap peserta didik. Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan terhadap peserta didik kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa, buku pegangan tidak memberikan penjelasan yang rinci terutama pada pembahasan dari suatu contoh soal yang ada. Dan menurut hasil wawancara, peserta didik masih kurang dapat memahami buku teks dengan baik karena penulisan bahasanya yang sulit untuk dimengerti dan juga karena adanya ketidaksesuaian ketersediaan buku dengan kurikulum yang dijalankan sekolah.

Penyebab Miskonsepsi Bersumber dari Metode Pengajaran

Metode pembelajaran juga menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya miskonsepsi peserta didik. Berdasarkan hasil observasi, guru hanya memakai satu metode pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional sehingga membuat peserta didik kurang aktif dalam proses pembelajaran kimia di kelas. Terlebih setiap peserta didik memiliki daya kognitif yang berbeda, maka tidak semua peserta didik memiliki kecocokan pembelajaran yang sama dalam penerapan suatu model pembelajaran yang diajukan oleh guru dan akhirnya tentu saja berpengaruh terhadap pemahaman konsep peserta didik.


Kesimpulan

  1. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa persentase peserta didik kelas XI IPA 8 SMAN 1 Gowa yang mengalami miskonsepsi pada materi larutan penyangga adalah sebesar 47,02%, untuk yang paham konsep sebesar 7,74%, dan untuk yang tidak paham konsep diperoleh sebesar 41,07%. Bentuk miskonsepsi yang dialami oleh peserta didik pada materi larutan penyangga adalah terjadi pada semua indikator soal, yaitu pada pengertian larutan penyangga, komponen larutan penyangga, serta aplikasi dari larutan penyangga. Bentuk miskonsepsi yang terjadi materi pengertian larutan penyangga adalah banyaknya siswa yang beranggapan bahwa pH larutan penyangga baru dapat diketahui ketika penambahan asam, basa, atau air secara berlebihan.
  2. Bentuk miskonsepsi yang terjadi materi komponen larutan penyangga adalah banyaknya siswa yang beranggapan bahwa komponen larutan penyangga adalah asam lemah dan basa lemah. Selain itu, bentuk miskonsepsi yang terjadi pada materi aplikasi larutan penyangga adalah adanya anggapan peserta didik bahwa kandungan air ludah pada mulut merupakan contoh penerapan dari larutan penyangga yang disebabkan karena adanya penyangga fosfat.
  3. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya miskonsepsi pada peserta didik adalah bersumber dari guru, peserta didik, buku teks, dan metode pembelajaran.

Saran

  1. Bagi guru, agar lebih dapat memahami kendala pada peserta didik yang mengalami miskonsepsi pada materi larutan penyangga.
  2. Bagi kepala sekolah, meningkatkan mutu pendidkan di sekolahnya dengan menggunakan inovasi-inovasi kegiatan pembelajaran yang bermutu.
  3. Bagi peserta didik, menumbuhkan minat dan motivasi belajar agar tidak lagi mengalami miskonsepsi pada materi lainnya.
  4. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan menjadi rujukan untuk mengembangkan penelitian dibidang yang sama untuk menggali lebih dalam mengenai miskonsepsi peserta didik agar menghasilkan penelitian yang lebih.

 

 

 

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close