Call us on 081340000336

Home » Artikel » ANALISIS KESESUAIAN PERAIRAN DANAU MAWANG KABUPATEN GOWA SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA IKAN PATIN (PANGASIUS HYPOPTHALMUS) DITINJAU DARI ASPEK FISIK, KIMIAWI DAN GEOGRAFIS

ANALISIS KESESUAIAN PERAIRAN DANAU MAWANG KABUPATEN GOWA SEBAGAI LAHAN BUDIDAYA IKAN PATIN (PANGASIUS HYPOPTHALMUS) DITINJAU DARI ASPEK FISIK, KIMIAWI DAN GEOGRAFIS

Penelitian Danau Mawang

¹Ari Handoko, ²Anwar , ³Asrianti Putri Lestari, 4 Amin Nur Syafitri 5 Muh. Wahyu

Budidaya ikan di Provinsi Sulawesi Selatan saat ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Berdasaran data BPS (2013), subsektor perikanan di Sulawesi Selatan mulai berkembang dengan pesat bahkan menggeser dominasi perkebunan sebagai penyumbang terbesar kedua dalam PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) sektor pertanian Sulawesi Selatan. Namun, tidak semua jenis ikan dapat hidup pada suatu perairan. Di dalam membudidayakan ikan pada keramba, salah satu syarat yang perlu diperhatikan adalah kualitas air karena hal tersebut dapat mempengaruhi pengelolaan, kelangsungan hidup, perkembangan, pertumbuhan, dan produksi ikan (Cholik et al dalam Minggawati, 2012).

Air sebagai media pemeliharaan ikan harus selalu diperhatikan kualitasnya. Salah satu sumber daya lahan perairan air tawar yang cukup strategis adalah Danau Mawang. Danau Mawang terletak antara dua wilayah administratif yaitu Kelurahan Mawang Kecamatan Somba Opu dan Kelurahan Romang Lompoa Kecamatan Bontomarannu. Danau ini memanjang dari barat laut-tenggara dengan topografi yang berbeda-beda (Google Maps, 2017). Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan Danau Mawang sebelumnya pernah digunakan sebagai tempat budidaya ikan. Tapi sekarang yang terlihat hanya sisa keramba.

Pengoptimalkan potensi sumber daya lahan Danau Mawang, maka perlu dilakukan suatu penelitian tentang analisis kualitas air dan kesesuaian lahan tersebut dengan jenis ikan tertentu. Sebagai suatu sistem yang terbuka, perairan mempunyai berbagai sifat dan unsur yang larut didalamnya. Maka dari itu gambaran yang tepat dari sifat-sifat kimia perairan didasarkan pada alkalinitas atau asiditas, kelarutan, konstanta pembentukan kompleks, potensial redoks, dan pH (Achmad, 2004).

 Ikan patin merupakan salah satu ikan air tawar yang bernilai ekonomis tinggi, selain itu, ikan patin juga  merupakan ikan yang paling banyak dibudidayakan terutama Provinsi Kalimantan Selatan, Jambi, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat. Ikan patin merupakan ikan penting baik di sektor lokal, nasional, maupun global karena daging ikan patin tergolong enak, lezat, dan gurih. Disamping itu, ikan patin mengandung protein yang tinggi dan kolestrol yang rendah sehingga sangat baik dikonsumsi dan bermanfaat untuk tubuh. Penggemar ikan patin bahkan terdapat di berbagai negara melintasi benua (Minggawati dan Saptono, 2011).

Peningkatan produksi ikan patin terus dievaluasi dari tahun ke tahun, perbandingan total produksi ikan patin nasional dengan produksi ikan patin dunia menunjukkan bahwa pada tahun 2011 Indonesia menempati urutan ke dua terbesar sebagai penghasil produk ikan patin di dunia yaitu sekitar 16,1% dari total produksi ikan patin dunia. Namun kondisi tersebut dihadapkan dengan berbagai tantangan, seperti peningkatan kebutuhan benih yang berkualitas, peningkatan kebutuhan pakan, penurunan kualitas air dan lingkungan, ancaman serangan penyakit, teknik budidaya yang efisien dan efektif, penanganan pasca panen yang baik, daya beli pasar domestik dan ekspor, serta permasalahan-permasalahan sosial dan legalitas usaha, termasuk kesesuaian aktivitas budidaya dengan tata ruang daerah. Posisi Indonesia masih di bawah Vietnam yang memberikan produksi sekitar 80,9% (Laptah Produksi, 2013).

Menurut Ghufran (2005), air yang digunakan untuk pemeliharaan ikan patin harus memenuhi kebutuhan optimal ikan dengan kata lain, air yang digunakan kualitasnya harus baik, yaitu suhu air berkisar antara 25 – 33 ºC, pH air 6,5 – 9,0 optimal 7 – 8,5, oksigen terlarut (DO) antara 3 – 7 ppm, optimal 5 – 6 ppm, kadar amonia (NH3) dan asam belerang (H2S) tidak lebih dari 0,1 ppm,  karbondioksida (CO2) tidak lebih dari 10 ppm.

Teknologi penginderaan jauh telah menawarkan kemudahan dalam penelitian terkait parameter fisika kimia perairan. Interpretasi citra landsat adalah proses pengkajian citra landsat melalui proses identifikasi dan penilaian mengenai objek yang tampak pada citra landsat. Dengan kata lain, interpretasi citra landsat merupakan suatu proses pengenalan objek yang berupa gambar (citra landsat) untuk digunakan dalam disiplin ilmu tertentu seperti Geologi, Geografi, Ekologi, Geodesi dan disiplin ilmu lainnya, dengan pengenalan objek dari interpretasi citra landsat. Untuk itu, identitas dan jenis objek pada citra landsat sangat diperlukan dalam analisis pemecahan masalah. Karakeristik objek pada citra landsat dapat digunakan untuk mengenali objek yang dimaksud dengan unsur interpretasi citra landsat dapat memberikan atau menampilkan data kualitas perairan seperti klorofil-a, MPT dan kecerahan dengan menggabungkan Band serta analisis citra menggunakan metode algoritma, namun keakuratan yang masih perlu dilakukan koreksi dengan data primer (Nuriya, 2010).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian perairan Danau Mawang Kabupaten Gowa sebagai lahan budidaya ikan patin (Pangasius hypopthalmus). Data penelitian ini dianalisis menggunakan parameter nilai dari aspek fisik, kimiawi dan citra landsat 8. Adapun uji yang dilakukan adalah uji laboratorium dan analisis citra satelit. Data penelitian untuk aspek fisik dan kimiawi dengan melakukan pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling sebanyak 4 titik dibagian tepi danau mawang, sedangkan untuk aspek citra landsat  memanfaatkan citra satelit dengan bantuan software ArcGIS. Hasil data penelitian berdasarkan aspek kimiawi didapatkan parameter nilai oksigen terlarut, pH dan amonia (NH3), untuk aspek fisik dan citra landsat didapatkan parameter nilai suhu pada perairan danau mawang. Berdasarkan pengukuran lapangan untuk aspek fisik, nilai rata-rata suhu perairan Danau Mawang berkisar 31,13 – 32,45oC. Pada pengukuran lapangan pada aspek kimiawi, nilai rata-rata parameter pH 6, untuk DO berkisar 4,83 – 7,68 mg/L, sedangkan untuk amonia berkisar 0.0024 – 0.0034 mg/L. Hal ini menunjukan suhu air pada Danau Mawang di Kabupaten Gowa memenuhi syarat untuk dilakukan kegiatan budidaya ikan berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001. Berdasarkan pengukuran suhu menggunakan citra landsat 8 nilai yang didapatkan yaitu berkisar 19,61 – 20,68oC yang berarti perairan Danau Mawang tidak memenuhi syarat untuk dilakukan budidaya ikan berdasarkan PP No. 82 Tahun 2001.